Skip to content
Ekonomi Syariah

Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah 2026 Turun, Ini Evaluasi dari KNEKS

Susan Johnson - kabarteras.com 3 mins read

Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) memberikan penjelasan komprehensif terkait tren negatif yang terjadi pada angka literasi serta inklusi

Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah 2026 Turun, Ini Evaluasi dari KNEKS

Penurunan Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah 2026: Tinjauan KNEKS

Perubahan Metodologi dan Dampaknya

Kabarteras.com – Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) memberikan penjelasan komprehensif terkait tren negatif yang terjadi pada angka literasi serta inklusi keuangan syariah tahun 2026. Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah, Sutan Emir Hidayat, menegaskan bahwa perubahan teknis dalam penyajian data menjadi faktor utama penyebab penurunan tersebut. Hal ini penting untuk dipahami agar tidak terjadi misinterpretasi terhadap kinerja sektor syariah nasional.

Secara teknis metodologis, kebaruan penyajian data pada SNLIK 2026 dibandingkan tahun sebelumnya memang bisa menjadi alasan turunnya tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah.

Menurut Emir, penambahan cakupan sampel dari level nasional menjadi provinsi merupakan kunci perubahan ini. Sebelumnya, survei tidak mencakup seluruh daerah secara merata, namun kini setiap provinsi telah dimasukkan dalam perhitungan. Pendekatan ini memberikan gambaran yang lebih representatif terhadap kondisi keuangan syariah di seluruh Indonesia.

Itu akibat penambahan sampel. Kalau dulu kan tidak semua daerah, kalau sekarang kan ada per provinsi. Itu harus digarisbawahi, jadi dengan penambahan sampel, secara ilmiah tentunya akan ada bias.

Data SNLIK 2026: Perbandingan Konvensional dan Syariah

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat perbedaan signifikan antara kinerja sektor konvensional versus syariah. Literasi keuangan syariah tercatat sebesar 43,07 persen, mengalami koreksi turun 0,35 poin dari angka 43,42 persen pada SNLIK 2025. Sementara itu, inklusi keuangan syariah berada di posisi 13,24 persen, menurun tipis 0,17 poin dari tahun sebelumnya yang mencapai 13,41 persen.

Di sisi lain, sektor konvensional justru menunjukkan pertumbuhan positif. Literasi keuangan konvensional melonjak menjadi 69,57 persen, naik 2,93 poin dari 66,64 persen. Inklusi konvensional juga meningkat menjadi 93,53 persen, naik 0,92 poin dari 92,61 persen. BPS menjelaskan bahwa penurunan angka syariah bukan berarti masyarakat menjadi kurang paham, melainkan karena cakupan data yang lebih komprehensif hingga level daerah.

Kesenjangan Literasi dan Inklusi yang Perlu Diperhatikan

Emir menyoroti adanya kesenjangan besar antara tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah. Meskipun literasi mencapai 43,07 persen, inklusi hanya 13,24 persen, menciptakan gap sekitar 29,83 poin persentase. Artinya, lebih dari setengah penduduk Indonesia masih belum memiliki pemahaman keuangan syariah yang baik.

Tingkat literasinya sudah lumayan, yakni 43 persenan, berarti yang belum well-literate sekitar 57 persen dari penduduk Indonesia. Tetapi kenapa sih kok orang sudah terliterasi tetapi belum terinklusi juga? Yang menjadi PR (Pekerjaan Rumah), harusnya kan dari terliterasi, kemudian ada intent (niat atau tujuan), kemudian menggunakan, dan menjadi experience yang mungkin bertahan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inklusi Rendah

Menurut analisis KNEKS, terdapat tiga hambatan utama yang menghambat peningkatan inklusi keuangan syariah. Pertama, masalah akses yang masih menjadi kendala klasik bagi masyarakat yang sudah memahami konsep syariah namun belum bisa mengakses produknya. Kedua, kualitas pelayanan yang dinilai belum optimal dibandingkan lembaga konvensional. Kelengkapan fitur dan kemudahan transaksi masih menjadi tantangan bagi perbankan syariah.

Ketiga, minimnya kehadiran fisik bank syariah di berbagai daerah. Perbankan konvensional telah berhasil menjangkau pasar hingga pelosok melalui strategi ekspansi jaringan yang agresif. Perbankan syariah dinilai perlu melakukan pendekatan serupa untuk memperluas jangkauan. Emir menambahkan bahwa secara esensial, masyarakat Indonesia masih lebih familiar dengan keuangan konvensional. Ketika ditanya tentang lembaga keuangan, pikiran masyarakat cenderung mengarah ke bank-bank BUMN maupun swasta konvensional.

Jadi mungkin seluruh lembaga keuangan syariah perlu berbenah. Ini PR yang harus diperbaiki ke depan.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah 2026

Apa penyebab utama penurunan literasi dan inklusi keuangan syariah 2026? Penurunan tersebut disebabkan oleh perubahan metodologi survei SNLIK 2026 yang memperluas cakupan sampel hingga level provinsi, sehingga menghasilkan data yang lebih akurat secara ilmiah.

Berapa persentase literasi dan inklusi keuangan syariah tahun 2026? Literasi keuangan syariah tercatat 43,07 persen, sedangkan inklusi keuangan syariah berada di posisi 13,24 persen.

Apakah penurunan ini menunjukkan masyarakat kurang memahami keuangan syariah? Tidak. Penurunan ini lebih disebabkan oleh cakupan data yang lebih komprehensif, bukan karena masyarakat menjadi kurang paham.

Apa saja hambatan utama inklusi keuangan syariah? Tiga hambatan utama adalah masalah akses, kualitas pelayanan yang belum optimal, dan minimnya kehadiran fisik bank syariah di berbagai daerah.

Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan ekonomi syariah nasional, Anda dapat mengunjungi [artikel terkait di sharia.republika.co.id](https://sharia.republika.co.id/berita/tjomql423/literasi-dan-inklusi-keuangan-syariah-2026-turun-ini-evaluasi-dari-kneks).

Join the discussion