Ekonomi

1.280 Calon Pekerja Migran Jabar Ikut Pelatihan SMK Go Global

260905193621-799

Target Nasional 500.000 Pekerja Terampil: Jawa Barat Siapkan 1.280 Peserta SMK Go Global

Kabarteras.com – Pemerintah Indonesia menargetkan penyiapan 500.000 tenaga kerja terampil untuk penempatan di luar negeri pada periode 2026–2029. Dari total tersebut, 300.000 berasal dari lulusan SMK dan 200.000 dari jenjang pendidikan umum, mencakup SMA sederajat, diploma, hingga sarjana. Jawa Barat, sebagai salah satu provinsi dengan basis industri dan populasi muda terbesar di Pulau Jawa, mengambil peran signifikan dalam agenda ini. Sebanyak 1.280 calon pekerja migran Indonesia (CPMI) dari provinsi tersebut dijadwalkan mengikuti pelatihan intensif melalui Program SMK Go Global, dengan Universitas Teknologi Bandung (UTB) menjadi salah satu pusat pelaksanaannya.

Kick Off dan Seleksi Peserta

Peluncuran program di tingkat Jawa Barat ditandai dengan kegiatan kick off yang berlangsung di Migran Center Kampus UTB pada Rabu, 26 Agustus 2026. Sebelum memasuki tahap pelatihan, seluruh peserta melewati proses seleksi administrasi dan wawancara. Hanya mereka yang memenuhi kriteria kompetensi dan peluang kerja yang tersedia yang diizinkan melanjutkan. Pendekatan ini memastikan bahwa waktu dan sumber daya pelatihan diarahkan kepada individu yang benar-benar siap dan memiliki prospek penempatan nyata.

Kombes Pol. Singgih Hermawan, Kepala BP3MI Jawa Barat, menjelaskan bahwa durasi pelatihan berkisar antara satu hingga tiga bulan, tergantung pada bidang kompetensi yang dipilih. Materi yang diajarkan mencakup operasi produksi, manufaktur, bahasa Inggris, bahasa Jepang, serta perawatan anak (nursery). Seluruh sektor tersebut dapat diakses oleh peserta yang berkeinginan bekerja di luar negeri dan membutuhkan peningkatan kapasitas.

“Pelatihan ada beberapa sektor di UTB, operasi produksi, manufaktur, dan bahasa Inggris. Ada bahasa Jepang dan juga nursery. SMK Go Global ini bisa semuanya, yang ingin ke luar negeri dan memerlukan peningkatan kapasitas.”

Singgih menekankan bahwa penguasaan keterampilan teknis saja tidak cukup. Peserta juga dituntut membangun ketahanan mental dan kemampuan beradaptasi, mengingat mereka akan menjalani kehidupan kerja jauh dari lingkungan keluarga. Ia berharap seluruh peserta di UTB mampu menjalani pelatihan dengan semangat tinggi dan tidak kalah secara psikologis.

“Kami berharap peserta yang di UTB ini bisa melaksanakan pelatihan dengan baik, bisa semangat, dan tidak kalah mental.”

Setelah menyelesaikan seluruh persyaratan penempatan, peserta akan diarahkan ke negara tujuan yang telah ditentukan pemerintah. Harapan yang diletakkan pada mereka bukan sekadar menjaga kompetensi teknis, melainkan juga membawa nama baik Indonesia di negara penempatan.

Peran UTB dan Dimensi Karakter

Rektor Universitas Teknologi Bandung, Muchammad Naseer, menegaskan bahwa program ini menuntut pembangunan keterampilan dan karakter secara simultan. Dalam konteks lingkungan kerja internasional, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, dan sikap profesional menjadi bekal yang tidak kalah penting dari kompetensi teknis itu sendiri.

“Skill itu penting, tetapi attitude juga menentukan bagaimana seseorang dapat diterima, dipercaya, dan berkembang di lingkungan kerja.”

Migran Center Kampus UTB difungsikan sebagai salah satu lokasi pelatihan bagi CPMI dalam kerangka SMK Go Global. Bagi institusi tersebut, keterlibatan dalam program ini merupakan bagian dari upaya menjembatani peningkatan kompetensi masyarakat dengan kebutuhan riil pasar kerja internasional. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pemerintah dalam konteks ini membuka akses yang sebelumnya tidak tersedia bagi lulusan SMK maupun pendidikan umum di Jawa Barat.

Komitmen Provinsi: Menuju Nol Pengangguran Muda 2029

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menilai Program SMK Go Global sebagai skema kolaborasi yang mempertemukan kementerian terkait, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi dalam satu tujuan: mempersiapkan generasi muda menghadapi bursa kerja global. Ia menyebut kolaborasi lintas sektor tersebut sebagai pendekatan yang efektif untuk memperluas kesempatan kerja bagi anak muda Jawa Barat.

“Ini skema program yang keren karena kementerian terkait, pemerintah, dan perguruan tinggi berkolaborasi untuk mempersiapkan anak-anak kita untuk mengikuti bursa kerja global melalui Program SMK Go Global.”

Herman menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan memperluas akses program melalui kerja sama dengan perguruan tinggi negeri maupun swasta. Ekosistem pendidikan yang sudah mapan di provinsi ini, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk memperbesar skala peningkatan kapasitas dan akses kerja bagi generasi muda. Target yang ia sampaikan bersifat tegas: memastikan tidak ada anak muda Jawa Barat yang menganggur pada tahun 2029.

“Kita akan bahu membahu untuk memastikan Jawa Barat 2029 tidak ada anak muda yang nganggur.”

Di luar keterampilan kerja konvensional, Herman menilai bahwa penguasaan critical thinking, kemampuan kreatif, serta literasi kecerdasan artifisial (AI) menjadi prasyarat agar generasi muda mampu beradaptasi terhadap perubahan cepat dalam kebutuhan dunia kerja. Pergeseran struktur industri global menuntut pekerja yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga mampu berpikir analitis dan memanfaatkan teknologi secara produktif.

Kerangka Nasional dan Target Bertahap

Di tingkat nasional, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menegaskan bahwa SMK Go Global merupakan program prioritas untuk menyiapkan talenta Indonesia yang kompeten dan berdaya saing internasional. Target 500.000 tenaga kerja terampil akan dicapai secara bertahap: 40.000 peserta pada 2026, 140.000 pada 2027, 180.000 pada 2028, dan 140.000 pada 2029.

Persiapan setiap peserta mencakup peningkatan keterampilan teknis, penguasaan bahasa asing, sertifikasi kompetensi, serta kesiapan bekerja di lingkungan internasional. Dengan skala yang demikian besar, program ini menuntut koordinasi ketat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan sektor swasta di seluruh wilayah. Jawa Barat, dengan jumlah peserta 1.280 orang di gelombang awal, menjadi salah satu titik tumpu pelaksanaan program di Pulau Jawa.

Bagi para lulusan SMK dan peserta pendidikan umum di Jawa Barat, program ini membuka jalur yang sebelumnya terbatas. Kombinasi pelatihan teknis, bahasa, dan pembentukan karakter diharapkan menghasilkan tenaga kerja yang tidak hanya memenuhi standar kompetensi negara tujuan, tetapi juga mampu beradaptasi secara sosial dan profesional di lingkungan multikultural. Keberhasilan program ini akan menjadi indikator sejauh mana kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat mampu menjawab tantangan pengangguran muda sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi global secara berkelanjutan.

Frequently Asked Questions

What is 1 280 Calon Pekerja Migran Jabar?

1 280 Calon Pekerja Migran Jabar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does 1 280 Calon Pekerja Migran Jabar matter?

1 280 Calon Pekerja Migran Jabar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *