Khazanah

Ratusan Warga Makassar Gelar Sholat Istisqa

056919300-1787975663-830-556

Doa Kolektif di Tengah Kekeringan: Ratusan Warga Makassar Turun ke Halaman Masjid Memohon Hujan

Kabarteras.com – Musim kemarau yang berkepanjangan telah mengubah wajah langit di atas Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan. Sawah-sawah di pinggiran kota mulai retak, sumur-sumur warga menyusut, dan kekhawatiran akan kelangsungan pasokan air serta hasil panen merayap di antara masyarakat. Di tengah kondisi itulah, ratusan warga Makassar memilih merespons kekeringan bukan hanya dengan langkah teknis, melainkan juga dengan ikhtiar spiritual yang telah mengakar dalam tradisi keislaman Nusantara: Sholat Istisqa, ibadah khusus untuk memohon diturunkannya hujan.

Pada Sabtu, 5 September 2026, halaman Masjid Al Markaz Al-Islami di jantung kota Makassar berubah menjadi ruang doa bersama. Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin hadir di tengah jamaah, didampingi jajaran pejabat pemerintah daerah dan tokoh masyarakat. Kehadiran kepala daerah dalam acara semacam ini bukan sekadar formalitas protokol; ia menandai bahwa persoalan kekeringan telah menyentuh ranah kebijakan publik sekaligus ranah spiritual warga secara bersamaan.

Manifestasi Penghambaan di Tengah Krisis Iklim

Munafri Arifuddin menyampaikan pesan singkat sebelum pelaksanaan ibadah. Ia menegaskan bahwa berkumpul di halaman masjid pada pagi itu merupakan wujud nyata dari hubungan hamba dengan Penciptanya, bukan sekadar ritual musiman.

“Kehadiran kita pada pagi hari ini adalah bentuk dari manifestasi penghambaan kita kepada Allah SWT. Hari ini kita hadir bersama-sama di halaman Masjid Al Markaz ini untuk memohon, meminta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, untuk menurunkan hujan.”

Pernyataan tersebut menempatkan Sholat Istisqa bukan sebagai pengganti upaya mitigasi bencana, melainkan sebagai pelengkap spiritual yang memperkuat ketahanan psikologis komunitas. Dalam kerangka budaya Indonesia, doa kolektif semacam ini berfungsi sebagai mekanisme koping sosial: warga yang menghadapi ancaman gagal panen atau krisis air menemukan ruang untuk mengekspresikan kegelisahan mereka secara bersama-sama, sekaligus menegaskan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi kesulitan.

Peran dan Kepemimpinan Ibadah

Khotbah pada kesempatan itu disampaikan oleh Imam Besar Masjid Al Markaz Al-Islami, Muammar Bakry, yang dikenal luas di kalangan umat Islam Makassar sebagai tokoh keagamaan dengan pengaruh signifikan. Sementara itu, pelaksanaan sholat dua rakaat dipimpin oleh Hasan Basri. Pembagian peran ini mengikuti tata cara Sholat Istisqa yang lazim dipraktikkan di Indonesia: satu khutbah singkat berisi nasihat dan permohonan, diikuti dua rakaat dengan takbir tambahan serta doa khusus untuk hujan.

Hadirnya Berbagai Elemen Pemerintahan dan Militer

Acara tersebut tidak hanya dihadiri warga biasa. Sejumlah pejabat turut hadir, mencerminkan bahwa persoalan kekeringan telah menjadi agenda lintas sektor. Di antara mereka yang terlihat adalah Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar Melinda Aksa, Wakil Bupati Soppeng Lutfi Halide, serta Kepala Bintaljarahdam XIV/Hasanuddin Kolonel (Inf) Nofid Arifin. Kehadiran pejabat dari luar Makassar, termasuk wakil kepala daerah dari kabupaten tetangga, menunjukkan bahwa dampak kemarau panjang tidak mengenal batas administratif; kekeringan yang melanda satu wilayah kerap berimbas ke daerah sekitar melalui rantai pasokan pangan dan air.

Para kepala lembaga dan instansi vertikal juga tercatat hadir, menandakan bahwa pemerintah daerah memandang Sholat Istisqa sebagai bagian dari respons holistik terhadap bencana iklim—sebuah pendekatan yang menggabungkan dimensi spiritual dengan langkah-langkah teknis seperti distribusi air bersih, pemantauan curah hujan, dan pengelolaan irigasi.

Latar Belakang: Sholat Istisqa dalam Tradisi Nusantara

Sholat Istisqa memiliki akar yang dalam dalam praktik keislaman di Asia Tenggara. Sejak masa kerajaan-kerajaan Islam di pesisir dan pedalaman Nusantara, umat Muslim telah menjadikan doa kolektif untuk hujan sebagai respons pertama ketika musim kemarau melampaui batas normal. Di Sulawesi Selatan, tradisi ini berpadu dengan kearifan lokal yang menempatkan air sebagai sumber kehidupan agraris. Bagi petani padi di dataran rendah Gowa, Maros, dan Bone, keterlambatan hujan bukan sekadar ketidaknyamanan meteorologis, melainkan ancaman langsung terhadap mata pencaharian.

Secara teologis, Sholat Istisqa mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam mengendalikan cuaca, namun tetap memiliki kewajiban untuk berikhtiar—baik melalui doa maupun melalui tindakan praktis. Dalam konteks kontemporer, ibadah semacam ini sering dipadukan dengan upaya pemerintah daerah seperti operasi modifikasi cuaca, perbaikan jaringan irigasi, dan distribusi bantuan air kepada warga terdampak.

Implikasi dan Harapan ke Depan

Kemarau panjang yang melanda Indonesia pada periode tersebut tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga pada ketersediaan air bersih untuk rumah tangga, operasional industri kecil, dan kesehatan masyarakat. Bagi Makassar sebagai kota metropolitan dengan populasi lebih dari 1,5 juta jiwa, ketergantungan pada curah hujan untuk pengisian waduk dan mata air menjadi isu strategis yang memerlukan perencanaan jangka panjang.

Doa yang dipanjatkan di halaman Masjid Al Markaz Al-Islami pada pagi itu, dengan demikian, bukan sekadar peristiwa keagamaan yang berdiri sendiri. Ia merupakan cermin dari kegelisahan kolektif sebuah kota yang menghadapi tekanan iklim, sekaligus pengingat bahwa dalam budaya Indonesia, respons terhadap bencana selalu bersifat multidimensi—melibatkan teknologi, kebijakan, dan spiritualitas secara bersamaan. Warga Makassar yang berbaris di halaman masjid pada 5 September 2026 tidak hanya memohon hujan; mereka menegaskan bahwa komunitas mereka masih utuh, masih saling menopang, dan masih memiliki harapan di tengah langit yang kering.

Frequently Asked Questions

What is Ratusan Warga Makassar Gelar Sholat Istisqa?

Ratusan Warga Makassar Gelar Sholat Istisqa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ratusan Warga Makassar Gelar Sholat Istisqa matter?

Ratusan Warga Makassar Gelar Sholat Istisqa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *