Khazanah

Tak Hanya Erupsi, Ketika Gunung Dijadikan Bukti Dahsyatnya Peristiwa Hari Kiamat

086136300-1788694578-830-556

Tak Hanya Erupsi Ketika Gunung: Bukti Hari Kiamat

Kabarteras.com – Dalam khazanah eskatologi Islam, Surah Al-Qari’ah berdiri sebagai salah satu teks paling mengguncang tentang akhir zaman. Tak hanya erupsi ketika gunung-gunung dihancurkan, surah ini juga menggambarkan manusia yang kehilangan seluruh orientasi hidupnya. Pilar-pilar bumi yang selama jutaan tahun dianggap tak tergoyahkan tiba-tiba tercerai-berai bagai bulu yang ditiup angin, sementara setiap individu kehilangan arah, tujuan, dan kemampuan berpikir rasional.

Simbol Kekokohan yang Dibatalkan dalam Sekejap

Sejak peradaban pertama kali menatap puncak-puncak tinggi, gunung menjadi metafora keteguhan dan keabadian. Ungkapan “kuat seperti gunung” masih lazim diucapkan untuk menggambarkan ketegaran seseorang. Alquran membalik makna simbolik itu secara total: gunung yang dipandang sebagai penopang alam semesta kehilangan seluruh fungsinya pada hari kiamat. Ia tidak lagi berdiri, tidak lagi menjadi batas wilayah, tidak lagi menjadi tempat berlindung.

Pembalikan ini bukan sekadar retorika puitik. Ia merupakan peringatan teologis bahwa segala sesuatu yang manusia anggap permanen—kekuatan politik, kekayaan material, struktur sosial—pada hakikatnya rapuh di hadapan kehendak Ilahi. Gunung yang secara geologis membutuhkan jutaan tahun untuk terbentuk dapat dihapus dalam sekejap. Pertanyaannya menjadi tajam: apa lagi yang bisa dijadikan sandaran mutlak?

Manusia sebagai Laron yang Kehilangan Arah

Bersamaan dengan kehancuran bentang alam, Alquran menggambarkan kondisi manusia dengan perumpamaan yang sangat konkret: laron—serangga kecil yang tertarik cahaya lampu pada malam hari—terbang tanpa arah, berputar-putar, menabrak, lalu jatuh. Tidak ada koordinasi, tidak ada kesadaran akan bahaya di sekeliling.

يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِۙ

“Pada hari itu manusia bagaikan laron yang beterbangan.” (QS Al-Qari’ah: 4)

Perumpamaan ini meminjam pengalaman sensorik yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setiap orang yang pernah menyalakan lampu halaman pada musim malam pasti pernah melihat laron berputar-putar di atas cahaya, bergerak tanpa rencana, menabrak dinding, lalu kehilangan arah. Alquran menggunakan pengalaman itu untuk menyampaikan skala kekacauan yang akan dialami setiap individu ketika hari kiamat tiba.

Dua Dimensi Kehancuran dalam Tafsir Resmi

Tafsir yang diterbitkan Kementerian Agama menguraikan makna ayat ini melalui dua dimensi sekaligus: kondisi manusia dan kondisi gunung-gunung.

“Allah menggambarkan dahsyatnya hari kiamat melalui dua hal, yaitu keadaan manusia dan gunung-gunung. Pada hari kiamat itu manusia seperti laron yang beterbangan. Mereka berlarian tidak tentu arah, kacau balau, dan tidak lagi menghiraukan sekelilingnya.”

Dengan demikian, ayat tidak hanya berbicara tentang kehancuran fisik bumi, tetapi juga tentang runtuhnya seluruh tatanan psikologis dan sosial. Tidak ada lagi hierarki, tidak ada lagi otoritas, tidak ada lagi kemampuan merespons lingkungan secara rasional. Setiap individu terisolasi dalam kepanikan totalnya sendiri.

Konsistensi Gambaran di Berbagai Surah

Al-Qari’ah bukan satu-satunya surah yang menyebut gunung pada hari kiamat. Surah Al-Haqqah (69: 9–14) menggambarkan gunung-gunung yang “dilempar-lempar bagai bulu yang dihambur-hamburkan.” Surah Al-Waqi’ah (75: 9–10) menyebut gunung “dihancurkan bagai debu yang berterbangan.” Surah At-Takwir (81: 3) bahkan menyebut gunung “dihapuskan.” Konsistensi gambaran ini di berbagai surah menunjukkan bahwa kehancuran total bentang alam merupakan inti pesan eskatologis Alquran, bukan sekadar variasi gaya bahasa.

Ketidakmampuan manusia membayangkan skala peristiwa itu diakui secara eksplisit dalam ayat-ayat berikutnya. Karena manusia tidak mampu memahami hakikatnya secara penuh, Allah menjelaskan waktu dan tanda-tanda kedatangannya agar setiap generasi memiliki kerangka pemahaman yang memadai.

Implikasi Praktis bagi Kehidupan Sehari-hari

Gambaran yang begitu dahsyat ini bukan dimaksudkan untuk membuat manusia hidup dalam ketakutan kronis. Sebaliknya, ia berfungsi sebagai mekanisme pengingat yang terus-menerus. Jika gunung—simbol paling ekstrem dari kekokohan—bisa dihapus dalam sekejap, maka segala kekhawatiran duniawi yang selama ini menyita energi mental manusia menjadi sangat kecil skalanya. Kekayaan yang dikumpulkan, jabatan yang diperebutkan, konflik yang dipelihara, semuanya kehilangan bobotnya di hadapan realitas yang jauh lebih besar.

FAQ

Apa pesan utama Surah Al-Qari’ah terkait gunung? Surah ini menegaskan bahwa tak hanya erupsi ketika gunung dihancurkan, tetapi juga seluruh tatanan manusia runtuh. Gunung yang dianggap abadi dapat dihapus dalam sekejap, menjadi pengingat bahwa tidak ada struktur duniawi yang permanen di hadapan kehendak Ilahi.

Bagaimana hubungan antara gambaran gunung dan gambaran laron dalam surah ini? Keduanya membentuk satu kesatuan: kehancuran fisik bentang alam (gunung tercerai-berai) berpadu dengan kehancuran psikologis manusia (terbang kacau tanpa arah). Tafsir resmi Kementerian Agama mengonfirmasi bahwa kedua dimensi ini saling melengkapi dalam menggambarkan dahsyatnya hari kiamat.

Apakah gambaran gunung di hari kiamat hanya ada di Al-Qari’ah? Tidak. Surah Al-Haqqah, Al-Waqi’ah, dan At-Takwir juga menggambarkan kehancuran gunung dengan metafora serupa—dilempar bagai bulu, dihancurkan bagai debu, atau dihapuskan sepenuhnya. Konsistensi lintas-surah ini memperkuat bahwa pesan tersebut bersifat inti, bukan variasi stilistika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *