Ameera

Keseringan WFH Ternyata Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental

tips-mengatasi-suntuk-saat-bekerja-dari-rumah-atau-work_210713154347-976

Kerja Jarak Jauh dan Tantangan Koneksi Sosial

Kabarteras.com – Bekerja dari rumah memberi banyak kemudahan bagi pekerja modern. Waktu yang sebelumnya habis di perjalanan dapat digunakan untuk beristirahat, mengurus kebutuhan pribadi, atau menyelesaikan pekerjaan dengan jadwal yang terasa lebih lentur. Meski demikian, pola kerja ini juga dapat menghadirkan tantangan tersendiri, terutama bagi orang yang tinggal sendirian dan jarang memiliki kesempatan berinteraksi langsung dengan orang lain.

Ruang kerja di rumah yang semula terasa nyaman dapat berubah menjadi lingkungan yang sangat sepi apabila hari-hari berlangsung tanpa percakapan tatap muka. Rapat daring, pesan singkat, dan surel memang menjaga pekerjaan tetap berjalan, tetapi bentuk komunikasi tersebut belum tentu menggantikan pengalaman sosial yang muncul dari pertemuan langsung dan hubungan yang terasa dekat.

Temuan tentang pekerja yang tinggal sendiri

Sebuah riset yang dimuat dalam jurnal Science menyoroti kaitan antara pekerjaan yang dapat dilakukan jarak jauh, kehidupan sendiri, dan kondisi psikologis pekerja. Peneliti menelaah data survei nasional selama lebih dari sepuluh tahun. Mereka membandingkan kelompok pekerja dengan profesi yang memungkinkan dilakukan secara remote dengan pekerja yang harus hadir langsung di tempat kerja.

Hasil kajian itu menunjukkan bahwa pekerja yang hidup sendiri dan bekerja pada bidang yang memungkinkan sistem jarak jauh cenderung menghadapi tekanan mental serta rasa terasing yang lebih tinggi. Perbandingan tersebut terlihat ketika mereka disejajarkan dengan pekerja yang tinggal sendiri tetapi menjalani pekerjaan yang menuntut kehadiran fisik.

Penelitian tersebut juga mencatat pola kontak sosial yang cukup penting. Kelompok pekerja yang tinggal sendiri dan memiliki pekerjaan yang dapat dikerjakan dari jarak jauh melewati sekitar 25 persen hari tanpa kontak sosial. Proporsi ini lebih dari dua kali lebih besar dibandingkan kelompok pekerja pada jenis pekerjaan yang tidak dapat dilakukan secara remote.

Angka tersebut tidak berarti setiap orang yang menjalani WFH pasti mengalami kesepian atau gangguan kesehatan mental. Pengalaman bekerja dari rumah dapat sangat berbeda, bergantung pada kondisi keluarga, kualitas hubungan pertemanan, rutinitas harian, lingkungan tempat tinggal, hingga kesempatan bertemu komunitas di luar pekerjaan. Namun, temuan ini memberi pengingat bahwa fleksibilitas kerja perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kebutuhan manusia untuk terhubung.

Kantor Bukan Jawaban Otomatis

Psikolog organisasi sekaligus pendiri Institute for Life at Work, Dr Constance Noonan Hadley, menekankan bahwa kembali bekerja di kantor tidak serta-merta menyelesaikan persoalan isolasi. Hadley tidak terlibat dalam riset tersebut, tetapi ia melihat bahwa kehadiran fisik di tempat kerja saja belum tentu menciptakan hubungan yang mampu memenuhi kebutuhan sosial seseorang.

“Ketika pergi ke kantor, bukan berarti seseorang otomatis berada dalam lingkungan yang bermakna dan memenuhi kebutuhan sosial,” ujar Hadley, dikutip dari CNN, Rabu (16/9/2026).

Pandangan ini penting karena lingkungan kerja dapat memiliki suasana yang beragam. Ada kantor yang mendorong percakapan, kerja sama, dan rasa saling mendukung. Ada pula tempat kerja yang dipenuhi tekanan, interaksi serba singkat, atau budaya yang membuat pekerja tetap merasa sendiri meskipun berada di tengah banyak orang. Karena itu, pembahasan tentang WFH tidak cukup jika hanya dipersempit menjadi pilihan antara rumah dan kantor.

Hal yang lebih relevan adalah apakah seseorang memiliki ruang sosial yang membuatnya merasa diterima, dipahami, dan dihargai. Ruang tersebut dapat hadir melalui rekan kerja, keluarga, sahabat, kegiatan komunitas, kelompok hobi, atau pertemuan rutin yang memberi kesempatan untuk membangun hubungan secara nyata.

Mengatur rutinitas yang lebih seimbang

Bagi pekerja jarak jauh, menjaga hubungan sosial dapat menjadi bagian dari perencanaan sehari-hari, bukan sekadar aktivitas tambahan ketika ada waktu luang. Percakapan langsung dengan teman, makan bersama keluarga, mengikuti kegiatan di lingkungan sekitar, atau menjadwalkan pertemuan dengan rekan kerja dapat membantu menghadirkan jeda dari kesunyian yang berulang.

Interaksi yang bermakna tidak selalu harus besar atau berlangsung lama. Yang paling penting adalah adanya kesempatan untuk berbicara, didengarkan, dan merasakan keterhubungan dengan orang lain. Bagi sebagian orang, pertemuan singkat dengan teman dekat dapat terasa lebih menguatkan dibandingkan berjam-jam berada di lingkungan ramai tanpa ikatan emosional.

Pekerja juga dapat memperhatikan perubahan rutinitas yang terjadi ketika WFH semakin sering dilakukan. Jika aktivitas harian mulai terbatas pada pekerjaan, layar, dan rumah, kebutuhan untuk membangun kontak sosial mungkin perlu diberi ruang lebih sadar. Menetapkan waktu untuk keluar rumah, bekerja sesekali dari lokasi berbeda, atau menghubungi orang terdekat dapat menjadi cara sederhana untuk menjaga variasi dalam keseharian.

Fleksibilitas Perlu Disertai Perhatian pada Kesejahteraan

Model kerja fleksibel tetap menawarkan manfaat yang nyata, termasuk penghematan waktu perjalanan dan kesempatan menata ritme kerja secara lebih personal. Akan tetapi, manfaat tersebut sebaiknya tidak membuat perusahaan maupun pekerja mengabaikan sisi sosial dari kehidupan kerja. Produktivitas dan kenyamanan bekerja memiliki hubungan dengan kondisi mental, rasa memiliki, serta kualitas hubungan yang dijalani seseorang.

Hadley mengarahkan perhatian pada pentingnya memperbanyak waktu di lingkungan yang membuat seseorang merasa dihargai dan dipahami. Lingkungan seperti itu bisa berada di kantor, tetapi tidak harus selalu berasal dari kantor. Bagi pekerja yang tinggal sendiri, kesadaran untuk merawat koneksi sosial dapat menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga keseimbangan hidup saat bekerja dari rumah.

Frequently Asked Questions

What is Keseringan WFH Ternyata Bisa Berdampak?

Keseringan WFH Ternyata Bisa Berdampak is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Keseringan WFH Ternyata Bisa Berdampak matter?

Keseringan WFH Ternyata Bisa Berdampak matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *