Ekonomi

Bansos Pakai Pemindaian Wajah, DPR: Tetap Sediakan Layanan Alternatif

049196700-1740478244-830-556

Pemindaian Wajah untuk Bansos Harus Tetap Inklusif

Kabarteras.com – Pemerintah sedang memperluas penggunaan teknologi pemindaian wajah atau face recognition dalam penyaluran bantuan sosial. Sistem biometrik ini diarahkan untuk memperkuat ketepatan penerima bantuan, sekaligus menjadi bagian dari digitalisasi layanan publik. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut dinilai perlu disertai jalur layanan lain agar tidak menyulitkan masyarakat yang memiliki keterbatasan akses digital.

Perhatian itu disampaikan anggota Komisi VIII DPR, Ina Ammania. Ia menekankan bahwa tujuan utama teknologi dalam penyaluran bansos adalah memastikan bantuan benar-benar diterima oleh warga yang berhak, bukan menciptakan hambatan baru bagi kelompok penerima manfaat.

“Teknologi harus memastikan bansos sampai kepada orang yang berhak, bukan justru membuat orang yang berhak kesulitan menerima bantuan. Digitalisasi harus dibarengi pendampingan, akses yang setara, dan perlindungan data penerima,” kata Ina melalui keterangannya, Kamis (17/9/2026).

Alternatif bagi penerima dengan keterbatasan digital

Digitalisasi dapat membantu proses verifikasi penerima dan mendukung penyaluran yang lebih terarah. Meski demikian, penerapan teknologi tidak bisa berangkat dari asumsi bahwa seluruh penerima bantuan memiliki telepon pintar, koneksi internet yang memadai, atau kemampuan menggunakan layanan berbasis digital.

Kelompok penerima manfaat dapat menghadapi beragam kendala saat diminta mengikuti proses verifikasi teknologi. Ada warga yang tidak memiliki perangkat, belum terbiasa memakai aplikasi, atau membutuhkan bantuan saat mengakses layanan. Karena itu, ketersediaan petugas pendamping dan titik layanan langsung menjadi bagian penting dalam pelaksanaan sistem baru tersebut.

“Jangan biarkan keterbatasan teknologi menjadi hambatan penerima bansos, dengan menyediakan pendamping, agen layanan, serta mekanisme alternatif bagi KPM yang tidak memiliki smartphone atau belum mampu menggunakan teknologi digital,” ujar Ina.

Dengan adanya mekanisme alternatif, penerima manfaat yang belum dapat menggunakan pemindaian wajah secara mandiri tetap memiliki kesempatan yang setara untuk memperoleh haknya. Pendekatan ini juga penting agar perubahan sistem tidak membuat warga harus menanggung risiko tertundanya bantuan hanya karena persoalan perangkat atau kemampuan digital.

Keamanan data biometrik menjadi perhatian

Selain akses layanan, perlindungan data menjadi isu yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pengenalan wajah. Sistem ini menggunakan data biometrik, sehingga pengelolaannya membutuhkan pengamanan yang serius. Data penerima bansos harus dilindungi dalam seluruh tahapan, mulai dari pengambilan data, proses verifikasi, hingga penggunaan dalam sistem penyaluran.

Penerapan teknologi dapat memberikan manfaat apabila dijalankan dengan tata kelola yang baik. Ketepatan penyaluran dan kemudahan verifikasi perlu berjalan bersama dengan perlindungan terhadap data pribadi penerima. Kepercayaan masyarakat terhadap sistem digital juga sangat dipengaruhi oleh kepastian bahwa data mereka tidak digunakan di luar kebutuhan layanan bantuan sosial.

Dalam konteks bansos, teknologi seharusnya berfungsi sebagai alat untuk memperkuat layanan, bukan menggantikan perhatian terhadap kondisi nyata penerima. Layanan manusiawi tetap dibutuhkan, khususnya bagi warga yang memerlukan penjelasan, bantuan teknis, atau pilihan prosedur lain ketika menghadapi kendala dalam verifikasi digital.

Uji coba telah diperluas ke puluhan daerah

Kementerian Sosial sebelumnya telah melakukan uji coba penyaluran bansos dengan teknologi biometrik pemindaian wajah di Kabupaten Banyuwangi. Setelah tahap awal tersebut, cakupan penggunaan sistem diperluas ke 42 kabupaten dan kota.

Pemerintah menargetkan sistem tersebut dapat menjangkau lebih dari 250 kabupaten dan kota pada bulan depan. Sementara itu, penerapan secara nasional direncanakan berlangsung pada tahun depan. Perluasan bertahap memberi ruang bagi evaluasi pelaksanaan di lapangan, termasuk kesiapan penerima manfaat, petugas pendamping, serta ketersediaan layanan alternatif di setiap daerah.

Target nasional tersebut menunjukkan bahwa penggunaan identifikasi biometrik akan menjadi bagian yang semakin besar dalam mekanisme penyaluran bantuan. Karena itu, kesiapan teknis tidak dapat dipisahkan dari kesiapan pelayanan. Daerah perlu memastikan penerima memperoleh informasi yang mudah dipahami mengenai tata cara verifikasi, tempat meminta bantuan, dan pilihan yang tersedia apabila proses digital tidak dapat dilakukan.

Pemindaian wajah berpotensi membantu memastikan penyaluran bantuan lebih tepat sasaran. Namun, keberhasilan sistem tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologinya. Ukuran yang lebih penting adalah apakah setiap keluarga penerima manfaat tetap dapat mengakses bantuan secara aman, mudah, dan tanpa tersisih oleh perubahan cara layanan.

Permintaan DPR agar tersedia pendamping, agen layanan, serta prosedur pengganti menjadi pengingat bahwa digitalisasi layanan sosial harus mengutamakan pemerataan akses. Teknologi dapat memperbaiki proses penyaluran, tetapi pelaksanaannya perlu tetap menempatkan kebutuhan penerima bansos sebagai pusat perhatian.

Frequently Asked Questions

What is Bansos Pakai Pemindaian Wajah DPR?

Bansos Pakai Pemindaian Wajah DPR is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bansos Pakai Pemindaian Wajah DPR matter?

Bansos Pakai Pemindaian Wajah DPR matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *