Perzinaan Terang-terangan sebagai Gambaran Kerusakan Akhir Zaman
Kabarteras.com – Dalam ajaran Islam, meluasnya zina dan perbuatan keji dipandang sebagai salah satu gambaran memburuknya keadaan manusia menjelang akhir zaman. Persoalannya bukan hanya terkait pelanggaran pribadi, melainkan juga hilangnya kepekaan masyarakat terhadap kemungkaran yang terjadi di hadapan mereka.
Sejumlah hadits menggambarkan situasi ketika perzinaan dilakukan tanpa rasa malu, bahkan secara terbuka di ruang publik. Gambaran tersebut menjadi peringatan tentang kondisi sosial yang semakin jauh dari nilai agama, ketakwaan, dan rasa malu.
Larangan Mendekati Zina
Islam tidak hanya melarang perbuatan zina, tetapi juga memerintahkan umat untuk menjauhi segala jalan yang dapat mengantarkan kepadanya. Larangan ini menunjukkan bahwa zina termasuk perbuatan serius dengan dampak besar bagi akhlak pribadi, keluarga, dan kehidupan masyarakat.
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا
Wa lā taqrabuz-zinā innahū kāna fāḥisyah(tan), wa sā’a sabīlā(n).
“Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan jalan yang buruk.”
Pesan dalam QS Al-Isra ayat 32 tersebut menempatkan zina sebagai fahisyah, yakni tindakan yang sangat buruk dan melampaui batas kesopanan serta moral. Karena itu, menjaga pandangan, kehormatan diri, pergaulan, dan batas-batas yang ditetapkan agama menjadi bagian dari upaya mencegah seseorang terjerumus ke dalamnya.
Hilangnya Rasa Malu dan Keberanian Mengingkari Kemungkaran
Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi, dalam kitab Asyratus Sa’ah Al-Hasyru Wa Qiyamus Sa’ah, menjelaskan bahwa banyaknya perzinaan dan kekejian menandakan manusia semakin menjauh dari ajaran agama. Zina telah diharamkan dan digolongkan sebagai dosa besar. Pelakunya diwajibkan bertobat agar memperoleh ampunan Allah SWT.
Ia menguraikan gambaran akhir zaman ketika seorang perempuan digauli pada siang hari di tengah jalan secara terbuka. Keadaan ini tidak sekadar menggambarkan pelanggaran yang dilakukan tanpa malu, tetapi juga menunjukkan lenyapnya kepedulian orang-orang di sekitarnya untuk mencegah tindakan tersebut.
Minimnya penghayatan agama dan ketakwaan disebut menjadi penyebab utama keadaan semacam itu. Dalam kondisi demikian, nilai malu, kehati-hatian dalam menjaga diri, dan sikap wara’ menjadi semakin asing. Masyarakat tidak lagi melihat kemungkaran sebagai sesuatu yang harus dicegah, padahal kemampuan untuk mengingkari keburukan merupakan bagian penting dari tanggung jawab moral seorang Muslim.
Hadits Abu Hurairah tentang Keadaan Menjelang Kiamat
Abu Hurairah meriwayatkan sabda Rasulullah SAW mengenai salah satu keadaan yang akan muncul sebelum kiamat. Hadits tersebut memuat gambaran manusia yang tidak lagi memiliki kebutuhan kepada Allah, disertai munculnya tindakan zina secara terang-terangan tanpa penolakan yang berarti dari masyarakat.
“Kiamat tidak akan terjadi hingga tidak tersisa di atas bumi ini seseorang yang butuh kepada Allah. Serta hingga didapati seorang wanita pada siang hari dengan terang-terangan disetubuhi di tengah-tengah jalan, dan tidak ada seorang pun yang mengingkari dan mengubah hal itu. Sehingga orang yang paling baik di antara mereka pada hari itu ialah yang mengatakan, ‘Seandainya aku bisa menyingkirkannya dari tengah jalan sedikit saja,’ orang yang ada di tengah-tengah mereka itu ialah seperti Abu Bakar dan Umar di tengah-tengah kalian.”
Hadits tersebut diriwayatkan Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Isi riwayat itu memperlihatkan beratnya kerusakan moral yang digambarkan: orang yang dinilai paling baik pun hanya memiliki keberanian untuk berharap agar kemungkaran itu dipindahkan sedikit dari jalan, bukan dihentikan sepenuhnya.
Perumpamaan tentang Abu Bakar dan Umar dalam hadits tersebut tidak dimaksudkan untuk menyamakan kedudukan mereka dengan orang-orang pada masa kerusakan itu. Justru, gambaran tersebut menegaskan betapa rendahnya standar keberanian moral masyarakat ketika kemungkaran telah dianggap biasa dan dibiarkan berlangsung.
Peringatan untuk Memperkuat Diri dan Lingkungan
Riwayat mengenai tanda-tanda kiamat seharusnya tidak dipahami hanya sebagai cerita tentang masa depan. Pesannya juga mengajak setiap Muslim untuk memeriksa keadaan diri, keluarga, dan lingkungan. Menjaga iman tidak cukup dilakukan melalui pengetahuan, tetapi perlu diwujudkan dalam sikap menjaga kehormatan, menolak perbuatan keji, serta membangun kebiasaan yang mendukung kebaikan.
Penolakan terhadap zina juga perlu dimulai dari langkah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: memperkuat pendidikan agama, membiasakan rasa malu yang sehat, menghormati batas pergaulan, dan memberi teladan dalam keluarga. Sikap ini tidak berarti menghakimi orang lain, melainkan menjaga diri dari normalisasi perbuatan yang telah jelas dilarang.
Ketika kemungkaran dibiarkan tanpa nasihat, tanpa kepedulian, dan tanpa upaya memperbaiki keadaan, dampaknya dapat meluas. Sebaliknya, menjaga amar makruf nahi mungkar dengan cara yang bijaksana dan sesuai kemampuan merupakan bentuk kepedulian terhadap keselamatan moral bersama.
Peringatan tentang zina yang dilakukan secara terbuka mengingatkan bahwa kerusakan terbesar bukan semata-mata pada perbuatannya, melainkan ketika manusia kehilangan rasa berdosa, malu, dan keberanian untuk mengingatkan. Karena itu, taubat, ketakwaan, dan usaha menjaga lingkungan yang baik tetap menjadi bekal penting bagi setiap Muslim.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Hadits tentang Tanda Kiamat?
Hadits tentang Tanda Kiamat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Hadits tentang Tanda Kiamat matter?
Hadits tentang Tanda Kiamat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

