KabarTeras
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Ikan Melimpah, Konsumsi Warga Jateng Justru Nomor Dua Terendah Nasional

Published September 30, 2026 · Updated September 30, 2026 · By Thomas Martinez - kabarteras.com

Foto : Thomas Martinez - kabarteras.com

Produksi Ikan Besar, Konsumsi di Jawa Tengah Masih Sangat Rendah

Kabarteras.com – Jawa Tengah memiliki hasil perikanan yang besar dan berada dalam kelompok 10 provinsi produsen ikan utama di Indonesia. Namun, ketersediaan tersebut belum tercermin dalam pola makan penduduknya. Konsumsi ikan di provinsi ini pada 2025 tercatat hanya 16,32 kilogram per orang dalam setahun, menjadikannya peringkat ke-37 dari total 38 provinsi.

Posisi Jawa Tengah hanya lebih tinggi daripada Papua Selatan, yang memiliki angka konsumsi 10,2 kilogram per kapita per tahun. Jaraknya juga cukup lebar dibandingkan Sulawesi Utara, provinsi dengan konsumsi ikan tertinggi secara nasional, sebesar 48,97 kilogram per kapita per tahun.

Gambaran ini memperlihatkan tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan pasokan. Produksi perikanan yang melimpah perlu diiringi perubahan kebiasaan makan, akses terhadap produk ikan yang mudah, serta peningkatan pemahaman mengenai pilihan protein bagi keluarga.

Potensi Perikanan Belum Sepenuhnya Dinikmati Warga Setempat

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyoroti kesenjangan antara kekuatan produksi dan tingkat konsumsi tersebut saat sosialisasi Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2026 tentang Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan atau Gemarikan di Semarang, Rabu, 30 September 2026.

“Jawa Tengah ini merupakan bagian dari top 10 produksi ikan di Tanah Air. Namun demikian, memang kalau kita hitung, sejujurnya Jawa Tengah ini konsumsi ikannya relatif sangat kecil. Bahkan di seluruh provinsi di Indonesia, ini nomor dua dari belakang,” ungkap Hanif.

Data Kementerian Koordinator Bidang Pangan menunjukkan kapasitas produksi Jawa Tengah sebenarnya cukup kuat. Rata-rata produksi perikanan tangkap selama 2019 hingga 2024 mencapai sekitar 390 ribu ton setiap tahun. Dalam rentang waktu yang sama, produksi budidaya pembesaran rata-rata berada pada angka 531 ribu ton per tahun.

Angka itu menunjukkan perikanan tangkap dan budidaya sama-sama menjadi penopang pasokan. Hasil tangkapan menyumbang sumber pangan dari laut dan perairan umum, sementara budidaya pembesaran mendukung ketersediaan ikan melalui kegiatan pemeliharaan hingga ukuran siap dipasarkan.

Pada 2025, produksi juga tetap berada pada skala besar. Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sumarno menyebut volume perikanan tangkap mencapai 436 ribu ton, sedangkan hasil budidaya mencapai 539 ribu ton. Dengan total mendekati satu juta ton dari dua sektor tersebut, potensi ikan Jawa Tengah menjadi sangat signifikan.

Kebiasaan Konsumsi Menjadi Tantangan

Besarnya produksi belum otomatis membuat ikan menjadi pilihan utama dalam menu harian. Sumarno menilai masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Tengah masih lebih lekat dengan konsumsi ayam dan daging sapi. Pola itu terlihat terutama di kawasan tengah provinsi.

“Apalagi masyarakat di Jawa Tengah sisi tengah, seperti Boyolali, Magelang, Wonosobo, Purbalingga, Banjarnegara, itu masih mengandalkan ayam dan daging sapi. Padahal potensi di Jawa Tengah untuk produk perikanan cukup besar,” ucap Sumarno.

Wilayah seperti Boyolali, Magelang, Wonosobo, Purbalingga, dan Banjarnegara disebut menjadi contoh daerah yang pola konsumsinya masih bertumpu pada jenis protein lain. Kondisi tersebut membuat upaya peningkatan makan ikan tidak cukup dilakukan dengan mengandalkan produksi atau distribusi semata.

Perubahan kebiasaan makan memerlukan proses. Pilihan pangan keluarga biasanya berkaitan dengan selera, tradisi, ketersediaan di pasar, cara pengolahan, hingga kemudahan menyajikan bahan makanan. Karena itu, dorongan Gemarikan memiliki arti penting untuk memperluas penerimaan ikan sebagai menu sehari-hari.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memulai langkah untuk mendorong masyarakat lebih sering mengonsumsi ikan. Tantangan utamanya adalah membangun kebiasaan baru secara bertahap, terutama pada kelompok masyarakat yang selama ini lebih terbiasa memilih ayam atau daging sapi.

Pasar Luar Daerah dan Ekspor Menyerap Hasil Produksi

Rendahnya konsumsi lokal tidak berarti hasil perikanan Jawa Tengah tidak terserap pasar. Sebagian besar produksi justru dipasarkan ke wilayah lain dan juga dikirim untuk kebutuhan ekspor. Arus penjualan tersebut memperlihatkan bahwa produk perikanan dari Jawa Tengah memiliki pasar, tetapi pemanfaatannya oleh warga setempat belum sebesar kapasitas produksinya.

Keadaan ini menciptakan dua sisi. Di satu pihak, penjualan ke luar daerah dan ekspor memberi ruang bagi hasil perikanan Jawa Tengah untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Di sisi lain, angka konsumsi 16,32 kilogram per kapita per tahun menunjukkan masih tersedia ruang besar untuk memperkuat pasar di dalam provinsi.

Peningkatan konsumsi ikan tidak harus dipahami sebagai pengganti sepenuhnya bagi sumber protein lain. Ikan dapat menjadi salah satu pilihan pangan yang lebih rutin hadir dalam menu keluarga. Dengan pasokan dari perikanan tangkap dan budidaya yang besar, perhatian terhadap kebiasaan konsumsi menjadi bagian penting agar potensi daerah semakin terasa manfaatnya bagi penduduk Jawa Tengah.

Sosialisasi Perpres Nomor 74 Tahun 2026 menjadi salah satu penanda bahwa persoalan ini mendapat perhatian di tingkat pusat dan daerah. Keberhasilan gerakan makan ikan akan bergantung pada kemampuan menghubungkan produksi yang besar dengan pilihan konsumsi sehari-hari, termasuk di daerah-daerah yang selama ini belum menempatkan ikan sebagai menu utama.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Ikan Melimpah Konsumsi Warga Jateng Justru?

Ikan Melimpah Konsumsi Warga Jateng Justru is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Ikan Melimpah Konsumsi Warga Jateng Justru matter?

Ikan Melimpah Konsumsi Warga Jateng Justru matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.