KabarTeras
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 3,55 Miliar Dolar AS pada Agustus 2026

Published Oktober 1, 2026 · Updated Oktober 1, 2026 · By Thomas Martinez - kabarteras.com

Foto : Thomas Martinez - kabarteras.com

Surplus Dagang Agustus 2026 Menguatkan Posisi Perdagangan Indonesia

Kabarteras.com – Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar 3,55 miliar dolar AS pada Agustus 2026. Hasil ini muncul setelah nilai ekspor mencapai 26,61 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan impor yang berada di angka 23,06 miliar dolar AS. Surplus bulanan tersebut turut menjaga kinerja neraca perdagangan sepanjang delapan bulan pertama 2026 yang mencatat kelebihan sebesar 7,25 miliar dolar AS.

Selisih positif antara ekspor dan impor menunjukkan bahwa nilai barang yang dijual Indonesia ke pasar luar negeri pada Agustus masih melampaui nilai barang yang didatangkan dari luar negeri. Namun, perkembangan perdagangan perlu dilihat secara menyeluruh karena kenaikan impor juga berlangsung cukup tinggi, terutama pada kelompok nonmigas dan migas.

Ekspor Nonmigas Menjadi Penopang

Nilai ekspor pada Agustus 2026 tumbuh 6,72 persen secara tahunan, dari 24,94 miliar dolar AS pada Agustus 2025 menjadi 26,61 miliar dolar AS. Kenaikan tersebut terutama datang dari ekspor di luar minyak dan gas.

“Nilai ekspor pada Agustus 2026 mencapai 26,61 miliar dolar AS, atau naik 6,72 persen dibandingkan Agustus 2025 sebesar 24,94 miliar dolar AS. Total nilai ekspor mengalami kenaikan secara tahunan, utamanya didorong oleh kenaikan nilai ekspor nonmigas,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Ekspor nonmigas selama Agustus tercatat senilai 25,62 miliar dolar AS, meningkat 7,23 persen dari 23,89 miliar dolar AS setahun sebelumnya. Di sisi lain, ekspor migas bernilai 0,99 miliar dolar AS, turun 5,10 persen dibandingkan capaian Agustus 2025 sebesar 1,05 miliar dolar AS.

Perbedaan arah antara ekspor nonmigas dan migas menggambarkan peran penting produk industri serta komoditas di luar sektor energi dalam menjaga nilai ekspor. Dalam perdagangan Indonesia, sektor nonmigas juga menjadi basis utama surplus kumulatif, meskipun perdagangan migas masih mencatatkan defisit.

Impor Tumbuh Lebih Cepat

Nilai impor Agustus 2026 mencapai 23,06 miliar dolar AS, atau meningkat 19,09 persen dibandingkan 19,36 miliar dolar AS pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan impor ini terutama dipicu kenaikan pembelian produk nonmigas dari luar negeri.

“Nilai impor pada Agustus 2026 mencapai 23,06 miliar dolar AS, naik 19,09 persen dibandingkan Agustus 2025 sebesar 19,36 miliar dolar AS. Total nilai impor mengalami peningkatan secara tahunan, utamanya didorong oleh peningkatan impor nonmigas,” terangnya.

Impor nonmigas pada Agustus bernilai 19,53 miliar dolar AS, naik 17,20 persen dari 16,66 miliar dolar AS pada Agustus 2025. Sementara itu, impor migas meningkat lebih tinggi, yakni 30,73 persen, dari 2,70 miliar dolar AS menjadi 3,53 miliar dolar AS.

Kenaikan impor tidak serta-merta menghapus surplus karena nilai ekspor masih lebih besar. Bagi pembaca, angka ini juga memperlihatkan bahwa arus perdagangan tidak hanya ditentukan oleh penjualan ke luar negeri, melainkan juga kebutuhan industri dan konsumsi domestik atas barang dari pasar global.

Kinerja Januari hingga Agustus

Dalam periode Januari–Agustus 2026, total ekspor Indonesia tercatat sebesar 193,64 miliar dolar AS, meningkat 4,74 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Ekspor nonmigas menjadi motor utama dengan pertumbuhan 5,48 persen hingga mencapai 185,63 miliar dolar AS.

Industri pengolahan menjadi sektor dengan nilai ekspor terbesar pada delapan bulan pertama tahun ini. Nilainya mencapai 159,55 miliar dolar AS, naik 7,87 persen secara tahunan. Hal ini menempatkan produk hasil pengolahan sebagai komponen dominan dalam kinerja ekspor nasional selama periode tersebut.

Tiga pasar tujuan terbesar untuk ekspor nonmigas Indonesia adalah China, Amerika Serikat, dan India. Nilai pengiriman ke China mencapai 47,44 miliar dolar AS atau setara 25,55 persen dari total ekspor nonmigas. Amerika Serikat menyerap 22,41 miliar dolar AS atau 12,07 persen, sedangkan India tercatat sebesar 12,77 miliar dolar AS atau 6,88 persen.

Di sisi impor, nilai kumulatif Januari–Agustus 2026 berjumlah 186,39 miliar dolar AS. Angka itu tumbuh 19,84 persen dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya. Impor nonmigas mencapai 157,09 miliar dolar AS setelah naik 16,83 persen, sedangkan impor migas melonjak 39,03 persen menjadi 29,30 miliar dolar AS.

Komponen bahan baku dan bahan penolong menjadi kelompok impor paling besar dengan nilai 133,38 miliar dolar AS, meningkat 20,67 persen. Impor barang modal mencapai 36,75 miliar dolar AS atau bertambah 18,82 persen. Adapun barang konsumsi bernilai 16,27 miliar dolar AS, naik 15,48 persen.

Surplus Nonmigas Menutup Defisit Migas

Surplus perdagangan selama Januari–Agustus 2026 ditopang kuat oleh transaksi nonmigas yang membukukan surplus 28,54 miliar dolar AS. Sebaliknya, perdagangan migas masih mengalami defisit senilai 21,29 miliar dolar AS.

“Surplus sepanjang periode Januari—Agustus 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus 28,54 miliar dolar AS, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar 21,29 miliar dolar AS,” jelas Ateng.

Kontributor utama surplus nonmigas berasal dari lemak dan minyak hewani atau nabati senilai 24,91 miliar dolar AS. Berikutnya terdapat bahan bakar mineral dengan surplus 18,84 miliar dolar AS, besi dan baja sebesar 12,10 miliar dolar AS, nikel serta barang turunannya sebesar 8,38 miliar dolar AS, dan alas kaki sebesar 4,33 miliar dolar AS.

Untuk asal impor nonmigas, China tetap menempati posisi teratas dengan nilai 66,64 miliar dolar AS atau 42,42 persen dari total. Jepang berada di urutan berikutnya dengan 8,88 miliar dolar AS atau 5,65 persen, disusul Australia sebesar 7,31 miliar dolar AS atau 4,65 persen.

Secara keseluruhan, surplus 7,25 miliar dolar AS pada Januari–Agustus menunjukkan perdagangan luar negeri Indonesia masih berada dalam posisi positif. Kinerja tersebut terutama bergantung pada kekuatan ekspor nonmigas, sementara perkembangan impor bahan baku, barang modal, migas, dan pasar tujuan utama tetap menjadi bagian penting untuk diperhatikan pada bulan-bulan selanjutnya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 3 55 Miliar?

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 3 55 Miliar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 3 55 Miliar matter?

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 3 55 Miliar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.