KabarTeras
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pemerintah Tahan Harga Pertalite, Jaga Daya Beli di Tengah Gejolak Minyak Dunia

Published September 15, 2026 · Updated September 15, 2026 · By Susan Johnson - kabarteras.com

Foto : Susan Johnson - kabarteras.com

Harga Pertalite Tetap Rp10.000 per Liter di Tengah Lonjakan Minyak Dunia

Kabarteras.com – Pemerintah memilih mempertahankan harga Pertalite pada Rp10.000 per liter ketika harga minyak dunia telah melampaui 100 dolar AS per barel. Langkah ini ditempatkan sebagai upaya menahan tekanan terhadap pengeluaran rumah tangga sekaligus mengurangi risiko kenaikan inflasi yang lebih luas.

Keputusan tersebut hadir saat biaya energi global meningkat dan berpotensi menjalar ke berbagai sektor domestik. Bahan bakar memiliki posisi penting dalam rantai kegiatan ekonomi karena dipakai untuk mobilitas masyarakat, distribusi barang, hingga operasional usaha. Ketika ongkos BBM naik, biaya angkutan dapat ikut terdorong dan kemudian memengaruhi harga kebutuhan sehari-hari.

Menjaga daya beli dan stabilitas harga

Ekonom Universitas Negeri Manado, Robert R. Winerungan, menilai penahanan harga Pertalite dapat membantu meredam gejolak harga di dalam negeri. Ia menyampaikan pandangannya pada Selasa, 15 September 2026, saat tekanan energi global masih menjadi perhatian.

Saya kira itu keputusan yang sangat bijak oleh pemerintah. Karena apabila pemerintah juga menaikkan harga Pertalite, maka inflasi bisa tidak terkendali.

Robert melihat dampak penyesuaian harga BBM tidak berhenti pada pembelian bahan bakar di SPBU. Biaya transportasi berpeluang meningkat, lalu pelaku usaha dapat menghadapi ongkos distribusi yang lebih tinggi. Efek berikutnya dapat terasa pada harga barang maupun jasa yang digunakan masyarakat.

Pertalite memiliki penggunaan yang luas, sehingga perubahan harganya cepat berkaitan dengan anggaran harian banyak keluarga. Dalam kondisi harga kebutuhan telah mengalami tekanan, kenaikan bahan bakar berisiko mempersempit ruang belanja masyarakat, terutama untuk kebutuhan pokok dan mobilitas kerja.

BBM tidak naik saja harga-harga sudah naik, apalagi kalau BBM naik. Artinya, memang pemerintah tidak bisa begitu saja melempar harga Pertalite mengikuti harga pasar karena itu bisa berpotensi membebani masyarakat.

Bagi kelompok berpendapatan rendah, kenaikan ongkos perjalanan dapat langsung mengurangi kemampuan memenuhi kebutuhan lain. Tekanan serupa juga dapat dialami kelompok menengah, terutama ketika pengeluaran transportasi, logistik, dan barang konsumsi naik pada waktu yang bersamaan. Penahanan harga Pertalite karena itu dipandang sebagai instrumen jangka pendek untuk mempertahankan daya beli.

Kalau Pertalite naik, kelompok menengah akan semakin tertekan. Yang lebih kasihan lagi adalah masyarakat kelas bawah karena biaya transportasi akan naik dan sebagainya. Banyak efek turunannya apabila harga Pertalite naik.

Konsekuensi bagi anggaran negara

Stabilitas harga di tingkat konsumen tetap membawa konsekuensi bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Saat harga minyak global naik sementara harga jual bahan bakar domestik ditahan, selisih antara harga keekonomian dan harga yang dibayarkan masyarakat perlu ditopang melalui subsidi serta kompensasi pemerintah.

Robert mengakui beban subsidi dapat membesar dalam situasi tersebut. Namun, ia menilai biaya fiskal itu perlu dipertimbangkan bersama potensi dampak ekonomi jika harga Pertalite dinaikkan secara langsung, termasuk risiko inflasi yang lebih tinggi dan pelemahan daya beli.

Memang subsidi bisa membengkak. Tapi manfaatnya, inflasi kita tidak terlalu tinggi dan daya beli masyarakat sedikit banyak dapat dipertahankan.

Tekanan harga juga mulai memengaruhi pilihan konsumen. Sebagian pengguna bahan bakar beroktan lebih tinggi mulai mempertimbangkan produk dengan harga lebih rendah sebagai cara mengendalikan pengeluaran. Perubahan perilaku tersebut menunjukkan bahwa harga energi berpengaruh langsung terhadap keputusan rumah tangga.

Subsidi perlu dievaluasi saat tekanan mereda

Pakar kebijakan publik Universitas Padjadjaran, Bonti Wiradinata, menekankan bahwa penetapan harga BBM tidak cukup dilihat hanya melalui hitungan biaya dan harga pasar. Keputusan pemerintah juga berkaitan dengan ketahanan ekonomi, kondisi sosial, serta perkembangan geopolitik yang memengaruhi pasokan dan harga energi dunia.

Kita harus melihatnya dalam strukturnya, tidak hanya dari aspek ekonomi saja, tetapi juga stabilitas geopolitik, stabilitas ekonomi, dan sosial.

Dalam keadaan harga energi global bergejolak, menjaga harga Pertalite dinilai dapat membantu mencegah tekanan berlapis terhadap perekonomian. Meski demikian, Bonti mengingatkan bahwa pilihan tersebut tetap memiliki risiko terhadap postur anggaran negara.

Saya pikir kebijakan ini sudah tepat. Walaupun tentunya kebijakan yang tepat ini akan memiliki risiko terhadap postur anggaran.

Subsidi energi, dalam pandangan Bonti, tidak semestinya diperlakukan sebagai kebijakan permanen. Ketika situasi geopolitik membaik dan harga energi dunia lebih stabil, pemerintah dapat meninjau kembali skema serta besaran subsidi secara bertahap. Evaluasi seperti itu penting agar perlindungan daya beli tetap berjalan tanpa mengabaikan kesehatan fiskal dalam jangka panjang.

Perubahan pada peta pasokan minyak global juga dapat membuka ruang perbaikan. Bonti menilai potensi sumber minyak baru di Amerika dapat membantu mengurangi kemungkinan krisis energi seperti yang sedang terjadi, sehingga kondisi BBM pada tahun berikutnya berpeluang lebih stabil.

Artinya, pada tahun depan kondisi BBM mungkin bisa menjadi lebih stabil karena Amerika sudah memiliki sumber-sumber minyak baru sehingga kemungkinan krisis seperti saat ini dapat berkurang.

Dengan pertimbangan tersebut, harga Pertalite yang tetap Rp10.000 per liter menjadi penyangga sementara di tengah ketidakpastian minyak dunia. Tantangan berikutnya adalah menyiapkan jalan keluar yang terukur: melindungi masyarakat ketika tekanan tinggi, sambil menata subsidi secara hati-hati ketika kondisi energi global mulai pulih.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Pemerintah Tahan Harga Pertalite Jaga Daya?

Pemerintah Tahan Harga Pertalite Jaga Daya is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pemerintah Tahan Harga Pertalite Jaga Daya matter?

Pemerintah Tahan Harga Pertalite Jaga Daya matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.