KabarTeras
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Produk Bagus Saja tak Cukup, Ini Tantangan UMKM di Era Digital

Published Agustus 13, 2026 · Updated Agustus 13, 2026 · By Emily Jackson - kabarteras.com

Foto : Emily Jackson - kabarteras.com

Produk Bagus Saja tak Cukup: Tantangan UMKM di Era Digital yang Perlu Dipahami

Kabarteras.com – Produk Bagus Saja tak Cukup menjadi kenyataan yang harus dihadapi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia saat ini. Memiliki produk berkualitas tinggi saja belum menjadi jaminan keberhasilan dalam persaingan bisnis digital yang semakin ketat. Pelaku usaha dituntut untuk tidak hanya fokus pada kualitas barang, tetapi juga membangun identitas merek yang kuat, meningkatkan visibilitas online, serta memanfaatkan berbagai kanal digital secara efektif untuk menjangkau konsumen potensial.

Stephanie Susilo, Executive Director Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia, menegaskan bahwa kemampuan adaptasi digital menjadi kunci utama agar UMKM dapat memperluas pasar secara berkelanjutan. Dalam diskusi #BeliLokal yang berlangsung pada Kamis (13/8/2026), ia menyampaikan pandangan optimis bahwa setiap UMKM Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang jika didukung oleh ekosistem yang tepat.

"Kami percaya setiap UMKM Indonesia memiliki potensi untuk terus berkembang apabila didukung oleh kapabilitas yang tepat, peluang untuk lebih mudah ditemukan oleh konsumen, serta ekosistem yang kuat," ujar Stephanie.

Membangun Brand Awareness dan Visibilitas Digital

Menurut Stephanie, tantangan terbesar yang masih dihadapi banyak pelaku usaha adalah brand awareness. Produk Bagus Saja tak Cukup jika tidak disertai strategi yang tepat untuk meningkatkan visibilitas di ranah digital. Strategi tersebut meliputi konten digital yang menarik, live shopping, kolaborasi dengan kreator konten, serta program afiliasi yang terukur.

Satrio Arief, Group Brand Manager Facetology, merasakan langsung pengalaman tersebut dalam perjalanan membangun merek lokal. Ia menjelaskan bahwa salah satu kesulitan utama dalam membangun merek lokal adalah mendapatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas. Kolaborasi dengan kreator konten dapat membantu merek menjangkau segmen konsumen yang lebih beragam, namun kerja sama ini perlu disesuaikan dengan karakter audiens masing-masing kreator agar efektif.

"Peran kreator itu sangat penting karena untuk mengenalkan sesuatu kita tidak bisa bergerak sendirian. Saat kita bergerak bersama-sama itu bisa mempercepat jalan untuk mengenalkan ke orang yang lebih banyak," jelas Satrio.

Ia menambahkan bahwa pemanfaatan konten dan live streaming tidak hanya bertujuan untuk berjualan. Kanal-kanal tersebut juga dapat digunakan untuk menjelaskan produk secara mendalam sekaligus membangun interaksi yang lebih kuat dengan konsumen.

Pengalaman Praktis dari Pelaku UMKM

Lisa Amalia, Owner Apelicious, berbagi pengalaman serupa dalam perjalanan bisnisnya. Produk camilan sehat berbahan buah dan sayur lokal ini dikembangkan sejak 2018, namun Lisa mengakui bahwa ia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memperkenalkannya kepada pasar yang lebih luas.

Momentum positif mulai terasa setelah Apelicious bergabung ke Tokopedia dan TikTok Shop pada tahun 2021. Produk yang awalnya berupa keripik apel kemudian berkembang menjadi berbagai olahan buah dan sayur yang lebih beragam. Lisa menceritakan bahwa awalnya ada ketidakpercayaan diri untuk mengenalkan produk ke audiens yang lebih luas, namun setelah bergabung, sekitar satu bulan produk menjadi trending.

"Awalnya ada sebuah ketidakpercayaan diri sebenarnya untuk mengenalkan produk ini ke audiens yang lebih luas. Setelah bergabung, kami tidak menyangka sekitar satu bulan produk menjadi trending," cerita Lisa.

Menurut Lisa, konten menjadi salah satu cara utama untuk membangun kesadaran konsumen. Ia menyebutkan bahwa sekitar 40 persen penjualan Apelicious berasal dari video, sementara live streaming juga memberikan kontribusi yang signifikan. Namun, persaingan produk lokal tidak berhenti pada kemampuan menjangkau konsumen. Lisa mengatakan bahwa pelaku usaha juga perlu memiliki pembeda dan nilai yang kuat agar tidak terjebak dalam perang harga dengan produk nonlokal.

"Lebih mengedepankan komunitas. Orang sudah percaya maka akan sharing-sharing, membangun kepercayaan, terus membangun awareness," katanya.

Dukungan Pemerintah dan Fondasi Bisnis yang Kuat

Dari sisi pemerintah, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Maman Abdurrahman menilai bahwa dukungan terhadap UMKM tidak cukup hanya berupa pembukaan akses pasar. Pelaku usaha membutuhkan pendampingan, peningkatan kapasitas, legalitas, serta jejaring agar mampu meningkatkan skala bisnis secara berkelanjutan.

Dengan demikian, tantangan UMKM di era digital tidak lagi sebatas masuk ke platform daring. Produk Bagus Saja tak Cukup menjadi reminder penting bahwa pelaku usaha perlu memahami cara membangun merek, membaca perilaku konsumen, memanfaatkan konten dan kreator, sekaligus memperkuat fondasi bisnis agar pertumbuhan tidak berhenti pada peningkatan penjualan semata.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Tantangan UMKM Digital

Apa saja tantangan utama UMKM di era digital? Tantangan utama meliputi brand awareness, visibilitas digital, persaingan harga, dan kebutuhan akan fondasi bisnis yang kuat.

Bagaimana cara meningkatkan visibilitas produk UMKM? Melalui konten digital, live shopping, kolaborasi dengan kreator, dan program afiliasi yang terukur.

Apakah platform digital penting untuk UMKM? Ya, platform seperti Tokopedia dan TikTok Shop memberikan akses ke pasar yang lebih luas dan meningkatkan penjualan secara signifikan.

Berapa persen penjualan Apelicious berasal dari video? Sekitar 40 persen penjualan Apelicious berasal dari video, dengan kontribusi tambahan dari live streaming.

Related Reading