KabarTeras
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Target Lifting 610 Ribu Barel Penuh Tantangan, Akademisi Nilai Strategi Menteri Bahlil Sudah Tepat

Published Agustus 18, 2026 · Updated Agustus 18, 2026 · By Betty Thomas - kabarteras.com

Foto : Betty Thomas - kabarteras.com

Target Lifting 610 Ribu Barel per Hari: Ujian Berat di Tengah Penurunan Produksi Minyak Nasional

Kabarteras.com – Presiden Republik Indonesia menetapkan ambisi agar lifting minyak menyentuh angka 610 ribu barel per hari (bph) pada tahun 2027. Para akademisi dari sejumlah perguruan tinggi memandang sasaran tersebut sebagai ujian serius, mengingat lapangan-lapangan migas dalam negeri secara alami mengalami penurunan output. Kendati demikian, langkah-langkah yang ditempuh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia—mulai dari percepatan eksplorasi, pemanfaatan optimal lapangan yang sudah beroperasi, hingga perbaikan lingkungan investasi—dianggap berada pada lintasan yang benar untuk mempertahankan produksi sekaligus mengokohkan ketahanan energi nasional.

Posisi Strategis Target dalam RAPBN 2027

Bonti Wiradinata, pakar kebijakan publik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Padjadjaran (Unpad), menegaskan bahwa angka 610 ribu bph tidak boleh direduksi sekadar sebagai metrik produksi. Dalam pandangannya, sasaran tersebut menempati posisi krusial untuk melindungi ketahanan energi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global dan gejolak harga energi internasional.

"Target 610.000 barel per hari pada RAPBN 2027 memiliki fungsi sebagai pertahanan dasar (defensive baseline) untuk menjaga daya tawar (bargaining power) Indonesia di tengah volatilitas pasar global," kata Bonti, Selasa (18/8/2026).

Kombinasi Tiga Strategi Kebijakan

Bonti menilai bahwa paket kebijakan Kementerian ESDM—yang mencakup percepatan eksplorasi greenfield, penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) pada lapangan eksisting, serta perbaikan iklim investasi—merupakan kombinasi yang tepat guna mengatasi persoalan penurunan produksi migas nasional.

"Dari sudut pandang kebijakan publik, kombinasi tiga strategi tersebut dinilai tepat sasaran karena mengadopsi pendekatan tritunggal intervensi kebijakan, intervensi jangka pendek, jangka panjang, dan penyediaan fasilitas fiskal, untuk menyelesaikan akar masalah penurunan produksi hulu migas," ujar Bonti.

Ia menjelaskan bahwa mayoritas lapangan minyak di Indonesia telah berumur tua dan secara alamiah mengalami degradasi produksi. Dalam konteks itu, optimalisasi melalui EOR berperan sebagai solusi jangka pendek hingga menengah, sementara eksplorasi wilayah baru menjadi prasyarat keberlanjutan cadangan dan output dalam horizon jangka panjang.

Iklan Investasi dan Agenda Ketahanan Energi

Perbaikan iklim investasi, menurut Bonti, merupakan instrumen vital karena eksplorasi hulu migas menuntut modal dalam skala besar dengan tingkat risiko yang tinggi. Insentif fiskal, keluwesan skema kontrak, serta penyederhanaan prosedur perizinan dinilai mampu meningkatkan daya tarik investasi sektor migas Indonesia.

Penekanan Menteri Bahlil terhadap peningkatan lifting dan eksplorasi untuk menekan ketergantungan impor juga dinilai selaras dengan agenda besar ketahanan energi. Peningkatan produksi domestik tidak sekadar menjaga pasokan, tetapi juga meredam tekanan impor di tengah ketidakpastian harga minyak dunia.

"Penerimaan negara dari migas dapat difungsikan untuk menjaga stabilitas makroekonomi Indonesia sekaligus mendanai infrastruktur energi terbarukan. Dan bila dikelola dengan baik, ini akan sangat menjanjikan dan prospektif," katanya.

Bonti menambahkan bahwa apabila pemerintah berhasil menahan atau bahkan membalikkan tren penurunan produksi yang sudah berlangsung bertahun-tahun, hal itu akan menjadi bukti konkret bahwa reformasi sektor hulu migas mulai membuahkan hasil.

"Kemampuan menahan atau membalikkan tren penurunan produksi minyak yang berlangsung bertahun-tahun adalah bukti valid berjalannya reformasi struktural. Hal ini menandakan meningkatnya kepercayaan investor (capital inflow) dan berfungsinya koordinasi antara SKK Migas dan kementerian terkait," kata Bonti.

Perspektif Ekonomi Energi: Tantangan Lapangan Berusia Matang

Fahmy Radhi, pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), menyoroti bahwa target 610 ribu bph menghadapi hambatan nyata dari kondisi cadangan minyak nasional serta lapangan-lapangan yang telah memasuki fase usia matang. Berdasarkan tren historis, produksi minyak Indonesia berada di kisaran 600 ribu bph dan cenderung menurun dari waktu ke waktu.

Kondisi tersebut, menurut Fahmy, menuntut upaya ekstra untuk mempertahankan level produksi. Meski demikian, ia mengakui bahwa berbagai langkah yang telah dijalankan selama ini berhasil mendorong peningkatan output, antara lain melalui penerapan teknologi baru, optimalisasi sumur-sumur tua, serta pengembangan sumur rakyat.

"Selama setahun memang berbagai upaya dilakukan secara mati-matian. Misalnya penggunaan teknologi dalam eksplorasi, kemudian memanfaatkan sumur-sumur tua, dan juga mendorong sumur rakyat," kata Fahmy.

Keberlanjutan berbagai program tersebut tetap menjadi perhatian utama agar target lifting 2027 tidak sekadar menjadi angka di atas kertas, melainkan tercapai melalui fondasi produksi yang lebih kokoh dan terdiversifikasi.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Target Lifting 610 Ribu Barel Penuh?

Target Lifting 610 Ribu Barel Penuh is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Target Lifting 610 Ribu Barel Penuh matter?

Target Lifting 610 Ribu Barel Penuh matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.