KabarTeras
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Waskita Luncurkan Sistem Pembayaran Terintegrasi Berbasis SNAP

Published September 1, 2026 · Updated September 1, 2026 · By Patricia Williams - kabarteras.com

Foto : Patricia Williams - kabarteras.com

Waskita Karya Jadi Kontraktor Pertama Bersertifikat SNAP, Integrasi Pembayaran Digital dengan BNI

Kabarteras.com – Industri konstruksi Indonesia selama bertahun-tahun bergantung pada alur pembayaran yang lambat, berbasis kertas, dan terfragmentasi antarbagian. Tagihan proyek harus dicetak, ditandatangani, lalu dikirimkan secara fisik sebelum dana akhirnya cair. Proses semacam itu tidak hanya memperlambat arus kas kontraktor, tetapi juga membuka celah kesalahan administrasi dan keterlambatan pembayaran kepada mitra kerja. Kini, salah satu BUMN konstruksi terbesar di tanah air memutuskan untuk memutus rantai tersebut secara total.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk resmi mengaktifkan mekanisme pembayaran terintegrasi model Host to Host (H2H) yang terhubung langsung ke infrastruktur perbankan melalui layanan Application Programming Interface (API) milik PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Integrasi ini dibangun di atas standar Nasional Open API (SNAP), kerangka kerja terbuka yang dikembangkan untuk menyatukan protokol pertukaran data antara institusi keuangan dan sektor korporasi di Indonesia.

Arti Sertifikasi SNAP bagi Sektor Konstruksi

SNAP sendiri merupakan inisiatif yang memungkinkan berbagai entitas—mulai dari bank, perusahaan teknologi finansial, hingga korporasi non-keuangan—berinteraksi melalui satu bahasa teknis yang seragam. Dengan mengadopsi standar ini, Waskita Karya tercatat sebagai perusahaan konstruksi pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi SNAP. Capaian tersebut menandai pergeseran signifikan: kontraktor tidak lagi harus menunggu siklus persetujuan berlapis-lapis sebelum dana keluar dari rekening perusahaan.

Direktur Keuangan Waskita Karya, Wiwi Suprihatno, menjelaskan bahwa aktivasi H2H mengubah secara fundamental cara pembayaran diproses. Sistem internal perusahaan kini berkomunikasi secara langsung dan real time dengan sistem perbankan, sehingga setiap pengajuan tagihan berjalan otomatis tanpa intervensi manual yang tidak perlu.

"Dengan begitu, Waskita menjadi perusahaan konstruksi pertama yang mendapatkan sertifikasi SNAP," ujar Wiwi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Akibat Operasional: Dokumen Fisik Hilang, Pemantauan Langsung

Di lapangan, perubahan paling terasa dirasakan oleh tim proyek. Pengajuan pembayaran tidak lagi memerlukan pencetakan faktur atau pengiriman berkas fisik ke kantor pusat. Seluruh alur—mulai dari input data tagihan, verifikasi, hingga eksekusi transfer—berjalan secara digital melalui aplikasi SAP yang telah terintegrasi ke dalam sistem Waskita. Tim proyek dapat memantau status pengajuan secara langsung, mengetahui pada tahap mana dana berada, dan menerima notifikasi ketika pembayaran terealisasi.

Manfaat ini tidak berhenti di dalam pagar perusahaan. Mitra kerja Waskita, termasuk subkontraktor dan pemasok material, kini mampu mengakses informasi status pembayaran tagihan mereka secara real time. Transparansi semacam itu mengurangi konflik administratif yang kerap muncul ketika pihak ketiga tidak mengetahui kapan dan mengapa pembayaran tertunda. Pada saat yang sama, sentralisasi proses pembayaran di tingkat perseroan menjadi lebih kokoh karena seluruh transaksi melewati satu kanal terstandar.

Transformasi Digital dan Tata Kelola Dana

Wiwi menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar pembaruan teknis, melainkan bagian dari agenda transformasi digital perusahaan secara menyeluruh, khususnya dalam dimensi penguatan tata kelola dana. Waskita mengacu pada delapan stream transformasi sebagai peta jalan perubahannya, dan salah satu stream tersebut berfokus pada transformasi bisnis untuk memperketat pengelolaan keuangan.

"Tujuannya agar proses keuangan menjadi terintegrasi, efisien, transparan, dan akuntable," ucap Wiwi.

"Salah satunya transformasi bisnis dalam rangka penguatan tata kelola dana demi mewujudkan Good Corporate Governance (GCG)," lanjutnya.

Dalam konteks BUMN yang pernah menghadapi tekanan likuiditas dan sorotan publik atas pengelolaan kas, kemampuan untuk melihat arus keluar-masuk dana secara real time menjadi instrumen tata kelola yang sangat bernilai. Integrasi H2H memberikan visibilitas instan terhadap setiap transaksi, sehingga manajemen dapat mengambil keputusan berbasis data alih-alih menunggu laporan periodik yang sudah basi.

Proyeksi Digitalisasi Menyeluruh dan Kolaborasi Antar-BUMN

Wiwi menambahkan bahwa penerapan sistem pembayaran digital ini turut mendukung pengelolaan arus kas perusahaan secara lebih presisi. Namun, ia menekankan bahwa langkah ini baru merupakan satu potongan dari rencana yang jauh lebih luas. Waskita menargetkan digitalisasi menyeluruh terhadap seluruh sistem operasional perusahaan, mencakup rantai pasok, manajemen proyek, hingga pelaporan keuangan.

"Ke depannya, Waskita Karya akan melakukan digitalisasi menyeluruh terhadap sistem operasional perusahaan," sambung Wiwi.

Di sisi lain, pemanfaatan API BNI dalam skema ini juga merepresentasikan bentuk kolaborasi antarbadan usaha milik negara. Dua entitas BUMN—satu di sektor konstruksi, satu di sektor perbankan—bergandengan tangan untuk membangun infrastruktur pembayaran digital yang sebelumnya tidak tersedia secara komersial bagi kontraktor. Wiwi berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada satu modul, melainkan terus berkembang menjadi ekosistem digitalisasi berkelanjutan yang dapat diadopsi oleh sektor lain.

"Diharapkan kerja sama yang terjalin dapat terus berjalan dan mewujudkan digitalisasi berkelanjutan," kata Wiwi.

Bagi pembaca yang mengikuti dinamika BUMN dan transformasi digital di Indonesia, langkah Waskita ini layak dicermati bukan hanya sebagai berita teknologi, tetapi sebagai indikator bahwa sektor konstruksi—yang selama ini dianggap paling lambat mengadopsi otomatisasi—mulai bergerak keluar dari paradigma administratif berbasis kertas. Jika sertifikasi SNAP dapat direplikasi oleh kontraktor lain, dampaknya terhadap kecepatan pembayaran, transparansi rantai pasok, dan kesehatan arus kas industri konstruksi nasional akan terasa dalam skala yang jauh lebih besar.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Waskita Luncurkan Sistem Pembayaran Terintegrasi Berbasis?

Waskita Luncurkan Sistem Pembayaran Terintegrasi Berbasis is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Waskita Luncurkan Sistem Pembayaran Terintegrasi Berbasis matter?

Waskita Luncurkan Sistem Pembayaran Terintegrasi Berbasis matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.