Remaja Masjid Makin Sepi, Dosen UIN Jakarta Soroti Pergeseran Dakwah ke Medsos
Remaja Masjid Makin Sepi: Dosen UIN Soroti Pergeseran Dakwah
Kabarteras.com – Remaja masjid makin sepi, dan seorang dosen UIN Jakarta menyoroti fenomena ini secara terbuka. Ruang-ruang ibadah yang selama berabad menjadi pusat transmisi ilmu keislaman kini ditinggalkan oleh kalangan usia belasan hingga dua puluhan. Alih-alih duduk bersila di shaf belakang mendengarkan khotbah atau ceramah mingguan, mayoritas anak muda memilih membuka aplikasi streaming, mengikuti akun dai di media sosial, atau bergabung ke grup kajian daring yang beroperasi tanpa batas waktu dan tempat.
Pergeseran ini bukan sekadar mode sementara. Ia menandai perubahan struktural dalam cara generasi muda mengonsumsi wacana keagamaan. Konsekuensinya serius: tidak semua konten yang beredar di platform digital diproduksi oleh figur dengan legitimasi keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Pengamatan Langsung dari Ruang Akademik
Rubiyanah, pengajar di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyampaikan pengamatan tersebut pada Academy Day FDIKOM yang berlangsung Jumat, 4 September 2026. Menurutnya, menemukan remaja yang secara rutin hadir di masjid untuk menyimak dakwah dari dai berotoritas kini nyaris mustahil.
"Belum pernah ketemu lagi tuh anak-anak remaja masjid, yang dia dengerin dakwah itu di masjid. Yang memang di situ ada dainya, ada kiainya, yang mungkin juga dia punya otoritas keilmuan yang mumpuni."
Ia menambahkan bahwa jumlah remaja yang masih aktif dalam kegiatan keagamaan berbasis masjid praktis dapat dihitung jari, atau bahkan sudah lenyap sepenuhnya. Sumber pembelajaran mereka kini berasal dari dai-dai yang ditemukan secara daring maupun dari halaqah-halaqah kecil yang didistribusikan lewat kanal digital.
"Bisa dihitung, atau mungkin udah nggak ada kali ya remaja masjid zaman sekarang. Karena mereka tuh pasti belajarnya dari dai-dai mungkin yang ada di media sosial. Atau halaqah-halaqah sendiri yang kemudian itu juga muncul di media."
Tantangan Otoritas Keilmuan di Era Konten Digital
Ketika sumber utama pembelajaran agama bergeser dari figur terverifikasi secara keilmuan ke konten digital yang diproduksi secara masif, muncul persoalan mendasar tentang akurasi dan kedalaman materi. Tidak setiap kreator konten memiliki latar belakang akademik dalam studi Islam, dan tidak setiap video ceramah singkat mampu menggantikan kedalaman kajian sistematis di bawah bimbingan ulama atau akademisi.
Rubiyanah menegaskan bahwa institusi akademik dan lembaga dakwah harus merespons kondisi ini secara serius. Proses belajar agama tidak lagi sepenuhnya berlangsung melalui jalur konvensional; dalam banyak kasus, media sosial dan platform digital justru menjadi kanal utama. Tantangan tersebut sekaligus membuka ruang bagi pengembangan ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) untuk merumuskan kerangka yang menjaga kualitas keilmuan di tengah logika distribusi konten digital.
"Model-model seperti ini bagaimana kita responsi terhadap logika media baru."
Academy Day yang menjadi wadah pemaparan tersebut mengusung tema "Posisi dan Keunggulan Program Studi Magister dan Doktor Komunikasi dan Penyiaran Islam". Dekan FDIKOM, Prof Gun Gun Heryanto, menekankan bahwa program pascasarjana tidak boleh berhenti pada produksi lulusan yang sekadar memenuhi standar akademik. Lulusan dituntut memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan keilmuan, pemenuhan kebutuhan masyarakat, serta penguatan kapasitas lembaga komunikasi dan penyiaran Islam di Indonesia.
"Program studi magister dan doktor harus terus memperkuat kualitas akademik, produktivitas riset, serta relevansinya terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri komunikasi."
FAQ
Apakah fenomena sepihnya remaja di masjid hanya terjadi di Indonesia? Tidak. Pergeseran konsumsi konten keagamaan ke platform digital merupakan tren global, meski bentuk dan skalanya berbeda di tiap negara. Di Indonesia, fenomena ini dipercepat oleh penetrasi internet yang masif sejak awal 2020-an.
Apa yang disarankan akademisi agar remaja kembali ke ruang dakwah konvensional? Rubiyanah tidak merumuskan solusi tunggal, melainkan menyerukan respons sistemik dari institusi akademik dan lembaga dakwah. Inti rekomendasinya adalah mengembangkan kerangka keilmuan KPI yang mampu menjembatani kualitas akademik dengan logika distribusi konten digital, sehingga remaja tetap memperoleh materi keislaman yang terverifikasi.
Kapan dan di mana pernyataan ini disampaikan? Pernyataan Rubiyanah disampaikan pada Academy Day FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jumat, 4 September 2026, dalam sesi bertema posisi dan keunggulan program studi magister dan doktor Komunikasi dan Penyiaran Islam.