Sirah Nabi di Society 5.0, Apa yang Harus Berubah?
Sirah Nabi di Society 5 0: Membaca Ulang Dakwah Islam di Tengah Krisis Nilai, Liquid Modernity, dan Dekadensi Peradaban Kontemporer
Kabarteras.com – Oleh: Fahmi Salim (Ketua Umum Forum Dai dan Mubaligh Azhari Indonesia / FORDAMAI)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Setiap peringatan Maulid Nabi, Nuzul Qur'an, Isra' Mi'raj, Hijrah, Perang Badar, Fathu Makkah, hingga Haji Wada', panggung dakwah Islam di Indonesia masih didominasi pengulangan narasi sentimental. Kisah-kisah kenabian kerap berhenti pada romantisme sejarah atau kronologi tahunan yang steril dari kontekstualisasi zaman. Padahal, membaca Sirah Nabi di Society 5 0 menuntut lebih dari sekadar pengulangan: ia menuntut transformasi metodologis yang menempatkan wahyu sebagai instrumen perubahan sosial, bukan sekadar artefak museum.
Dari Kronologi ke Transformasi: Kelemahan Metodologis Pembacaan Sirah
Kelemahan paling mendasar dalam pembacaan sirah kontemporer adalah reduksi epistemologis. Sirah sering diperlakukan sebagai dongeng pengantar tidur atau tumpukan artefak masa lalu. Padahal, Sirah Nabawiyah merupakan laboratorium peradaban hidup—satu-satunya ruang uji historis tempat wahyu langit ditransformasikan secara empiris menjadi realitas sosial: membentuk tatanan keluarga, menyusun tata kelola negara, hingga menggeser tatanan geopolitik global.
Dunia modern terjebak dalam dikotomi antara rasionalisme dan empirisme materialistik. Di titik itu, sirah menawarkan model integratif melalui tiga pilar epistemologi Islam: Wahyu (Naql), Rasio (Aql), dan Pengalaman Indrawi (Hiss). Mukjizat dan bimbingan wahyu tidak pernah meniadakan kausalitas logis. Ketika merancang peristiwa Hijrah, Rasulullah ﷺ menyewa penunjuk jalan profesional non-Muslim, memilih rute memutar ke selatan melalui Gua Tsur alih-alih jalur langsung ke utara, dan membangun jaringan intelijen yang rapi. Keyakinan spiritual (tawakal) diintegrasikan secara seimbang dengan mitigasi risiko (Aql) serta aksi nyata (Hiss).
Tiga Pilar Epistemologi dan Jangkar Moral di Era Liquid Modernity
Mengadopsi tesis pemikir Aljazair Malik Bennabi, peradaban manusia bergerak dalam tiga fase orientasi: peradaban sehat berpusat pada ide dan gagasan; peradaban sakit berpusat pada tokoh dan figur; peradaban dekaden berpusat pada benda dan materi. Masyarakat Jahiliyah abad ke-7 terjebak dalam pemujaan berhala dan kultus ashabiyah kabilah. Melalui risalah kenabian, Rasulullah ﷺ meruntuhkan kedua kutub tersebut dan mengalihkan orientasi umat menuju kedaulatan tauhid serta nilai-nilai transenden. Pembacaan sirah modern wajib mengembalikan supremasi ide dan prinsip syariat, bukan fanatisme golongan yang sempit.
Sosiolog Zygmunt Bauman memperkenalkan konsep Liquid Modernity: era di mana nilai moral mencair, relativisme merajalela, dan manusia kehilangan pegangan hidup. Dampak lanjutannya melahirkan kecemasan eksistensial serta individualisme ekstrem. Generasi muda terseret dalam ilusi "keselamatan individual", sibuk mengejar capaian karier pribadi tanpa kepedulian terhadap problem sosial kolektif.
Sirah Nabawiyah hadir sebagai jangkar moral yang kokoh. Ia menambatkan kebenaran pada prinsip wahyu yang absolut, namun membuka kelenturan pada sarana teknis kontemporer.
Sirah merawat dimensi kemanusiaan secara proporsional melalui tiga pilar. Pilar Akal memandu perencanaan strategis dan logika sebab-akibat. Pilar Ruh menawarkan katarsis dan terapi mental: ketika putra beliau Ibrahim wafat, Rasulullah ﷺ menangis dan menegaskan bahwa kesedihan adalah tabiat manusiawi yang tetap berbingkai rida Ilahi; pengalaman penolakan berdarah di Thaif mengajarkan ketahanan mental tanpa keputusasaan. Pilar Jasad menunjukkan etos kerja keras sebagai pedagang mandiri dan integritas fisik sebagai pemimpin lapangan.
Dimensi kolektif juga terawat dalam sirah. Kasus boikot sosial terhadap Ka'ab bin Malik pasca-Perang Tabuk membuktikan bahwa integritas komunitas tidak boleh dikorbankan demi egoisme individu. Di Society 5 0, di mana ikatan sosial menipis, pelajaran ini menjadi semakin relevan.
FAQ: Sirah Nabi di Society 5 0
Apa perbedaan membaca sirah secara kronologis versus kontekstual? Pembacaan kronologis berhenti pada urutan peristiwa tahunan. Pembacaan kontekstual mengekstrak prinsip epistemologis, sosiologis, dan manajerial dari setiap peristiwa, lalu memetakannya ke problem kontemporer seperti liquid modernity atau krisis identitas generasi muda.
Bagaimana sirah menjawab kecemasan eksistensial generasi muda? Sirah menyediakan kerangka makna yang absolut (wahyu) sekaligus ruang kelenturan pada sarana teknis. Kisah Thaif, misalnya, menunjukkan bahwa penolakan sosial bukan akhir jalan, melainkan fase penguatan ketahanan mental yang tetap berorientasi pada tujuan transenden.
Apakah pembacaan sirah kontekstual berarti mengubah teks? Tidak. Teks dan fakta historis