Jonan dan CEO Grab Soroti Kesenjangan Kampus-Industri, Kurikulum Bisnis Diminta Berubah
Jonan dan CEO Grab Soroti Kesenjangan Kampus-Industri
Kabarteras.com – Jonan dan CEO Grab Soroti kesenjangan antara dunia akademik dan kebutuhan industri dalam forum CEO Talks 2026: Shaping the Future of Business Education yang digelar di Tugu Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta. Acara yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga mempertemukan Ignasius Jonan dan Neneng Goenadi, CEO Grab Indonesia, untuk membahas mengapa kurikulum bisnis perguruan tinggi Indonesia perlu bertransformasi secara fundamental agar lulusan tetap relevan di pasar kerja.
AI Mengubah Lanskap Pendidikan Tinggi
Neneng Goenadi membuka paparannya dengan menegaskan bahwa ekspansi teknologi kecerdasan buatan telah mengubah cara mahasiswa mengakses pengetahuan secara radikal. Materi teoretis yang sebelumnya hanya tersedia di perpustakaan kampus kini dapat diserap dalam hitungan menit melalui berbagai instrumen berbasis AI. Kondisi ini, menurutnya, menuntut pergeseran orientasi pendidikan tinggi menuju kapabilitas yang tidak dapat direplikasi oleh mesin.
Ia menekankan bahwa kemampuan interpersonal, daya pikir kritis, fleksibilitas adaptasi, keterampilan komunikasi, serta kapasitas penyelesaian masalah riil akan menjadi pembeda utama bagi lulusan di hadapan pasar kerja. Jonan dan CEO Grab Soroti bahwa transformasi kurikulum bukan lagi pilihan, melainkan keharusan agar lulusan tidak tertinggal oleh percepatan teknologi.
"Transformasi ini sangat mendesak. Teori kini bisa dipelajari dari mana saja menggunakan AI, namun soft skills dan pengalaman praktis tidak dapat digantikan," kata Neneng.
Dari perspektif tersebut, Neneng menilai bahwa program magang yang selama ini ditujukan semata-mata bagi mahasiswa sudah tidak memadai. Ia mengusulkan agar perguruan tinggi juga menyediakan jalur bagi dosen untuk terjun langsung ke dalam operasional perusahaan melalui mekanisme yang ia sebut faculty immersion. Pengalaman semacam itu akan membekali pengajar dengan pemahaman aktual mengenai bagaimana teknologi, pola kerja, kebutuhan kompetensi, dan model bisnis bertransformasi dalam tempo yang sangat cepat.
"Selain program magang mahasiswa yang berkualitas, para dosen juga perlu terjun langsung menjadi bagian dari dinamika perusahaan agar memiliki pemikiran yang lebih terbuka terhadap kebutuhan nyata industri," kata Neneng.
Keterlibatan Praktisi dan Kesejahteraan Pengajar
Ignasius Jonan menyoroti dimensi berbeda dari persoalan yang sama. Ia menilai bahwa proporsi tenaga pengajar yang berasal dari kalangan praktisi industri masih terlalu kecil, khususnya pada jenjang pascasarjana. Jonan mengusulkan agar minimal sepertiga dari total pengampu mata kuliah utama maupun asisten pengajar di program tersebut merupakan profesional yang relevan dengan kebutuhan sektor bisnis.
Kehadiran praktisi di ruang kelas, menurut Jonan, memastikan mahasiswa tidak sekadar menyerap kerangka teoretis, melainkan juga berhadapan langsung dengan persoalan operasional yang dihadapi dunia usaha. Jonan dan CEO Grab Soroti bahwa tanpa keterlibatan langsung praktisi, kurikulum akan terus tertinggal dari realitas pasar dan kehilangan daya guna praktisnya.
Di sisi lain, Jonan menyinggung persoalan kesejahteraan tenaga kependidikan sebagai prasyarat keberlanjutan mutu institusi. Ia berargumen bahwa perguruan tinggi tidak akan mampu mempertahankan standar pendidikan yang tinggi apabila kompensasi bagi pengelola institusi tetap diabaikan.
"Sistem pendidikan yang unggul tidak dapat berjalan tanpa kesejahteraan pengelola yang layak. Jika penghasilan dan kompensasi tidak mendukung, kualitas yang ditargetkan mustahil tercapai," kata Jonan.
Sebagai pembanding, Jonan merujuk pada praktik institusi pendidikan kelas dunia seperti London Business School, yang menurutnya menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu pilar utama dalam penyelenggaraan pendidikan.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Transformasi Kurikulum Bisnis
Apa yang dimaksud dengan faculty immersion? Faculty immersion adalah mekanisme di mana dosen perguruan tinggi ditempatkan sementara di dalam perusahaan untuk memahami langsung dinamika operasional, teknologi, dan kebutuhan kompetensi industri. Tujuannya agar pengajar membawa perspektif aktual ke ruang kelas dan tidak terjebak pada kerangka teoretis yang sudah usang.
Berapa proporsi praktisi yang disarankan di program pascasarjana? Ignasius Jonan mengusulkan minimal sepertiga dari total pengampu mata kuliah utama dan asisten pengajar di program pascasarjana berasal dari kalangan profesional industri yang memiliki rekam jejak langsung di sektor bisnis.
Apakah program magang mahasiswa masih relevan? Menurut Neneng Goenadi, program magang mahasiswa tetap penting namun tidak cukup berdiri sendiri. Ia menekankan bahwa tanpa keterlibatan dosen dalam ekosistem industri, magang mahasiswa kehilangan konteks pedagogis yang memadai dan tidak mampu membangun kompetensi adaptif yang dibutuhkan pasar kerja.