KabarTeras
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pembacaan Sejarah 5 Dialek Sunda Meriahkan Peringatan HUT ke-81 Jawa Barat

Published Agustus 20, 2026 · Updated Agustus 20, 2026 · By Linda Wilson - kabarteras.com

Foto : Linda Wilson - kabarteras.com

Pembacaan Sejarah 5 Dialek Sunda Warnai Peringatan HUT ke-81 Jawa Barat

Akar Hukum dan Konteks Historis Hari Jadi

Kabarteras.com – Pembacaan Sejarah 5 Dialek Sunda menjadi salah satu agenda paling berkesan dalam rangkaian peringatan hari jadi ke-81 Provinsi Jawa Barat yang digelar melalui rapat paripurna DPRD. Peringatan ini berlandaskan Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2010 yang menetapkan 19 Agustus 1945 sebagai tanggal resmi hari jadi provinsi. Tanggal tersebut merujuk pada keputusan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang membentuk delapan provinsi otonom pada masa transisi kemerdekaan, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil. Sejak saat itu, Jawa Barat berdiri sebagai entitas pemerintahan daerah yang memiliki kedaulatan administratif sendiri.

Penetapan hari jadi bukan sekadar ritual tahunan. Berdasarkan pasal 3 huruf A, B, dan C Perda Nomor 26 Tahun 2010, momentum ini berfungsi sebagai bentuk pengakuan negara terhadap peran pemerintah daerah, sekaligus wahana untuk menumbuhkan rasa persatuan, kebanggaan lokal, dan identitas kolektif warga Jawa Barat.

Lima Suara dalam Satu Narasi: Momen Pembacaan di Paripurna

Ketua DPRD Jawa Barat, Buky Wibawa Karya Goena, membuka agenda dengan menyampaikan ucapan selamat hari jadi atas nama lembaga legislatif kepada seluruh masyarakat provinsi. Ia kemudian mengajak hadirin menghormati perjuangan para pendahulu yang meletakkan fondasi berdirinya Jawa Barat sebagai daerah otonom.

"Kami sampaikan penghormatan setinggi-tingginya atas perjuangan para pendahulu kita yang telah memperjuangkan Jawa Barat."

Puncak acara ditandai oleh pembacaan narasi sejarah secara bergantian menggunakan lima dialek bahasa Sunda. Suyedi membawakan bagian dalam dialek Sunda Kulon, Abdul Khoir melanjutkan dengan Sunda Betawi, Dedi Setiawan mengartikulasikan Sunda Cirebon, Supalikasin menyuarakan Sunda Dermayu, dan Godi Suwarna menutup rangkaian dengan dialek Sunda Priangan. Setiap pembacaan membawa warna fonologis dan leksikal yang khas, menciptakan pengalaman linguistik yang jarang ditemui dalam forum resmi.

Isi narasi yang dibacakan merentang dari masa pendudukan Jepang, fase persiapan kemerdekaan, hingga proklamasi 17 Agustus 1945. Dua hari setelah proklamasi, Jawa Barat secara resmi berdiri sebagai provinsi. Kisah kemudian berlanjut ke era pembangunan modern dan ditutup dengan aspirasi bagi generasi penerus untuk menjaga warisan budaya sekaligus mendorong kemajuan daerah.

Dimensi Sosial-Politik dan Harapan ke Depan

Buky Wibawa Karya Goena menegaskan bahwa peringatan hari jadi dimaksudkan untuk memperkokoh ikatan batin seluruh elemen masyarakat—mulai dari rakyat biasa, lembaga politik, organisasi sosial keagamaan, pelaku budaya, hingga sektor ekonomi—terhadap Jawa Barat. Ia menyebutnya sebagai sarana menunjukkan jati diri masyarakat yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif untuk memajukan pertumbuhan serta pengembangan pembangunan daerah.

"Sarana untuk menunjukkan jati diri masyarakat Jawa Barat yang memiliki keunggulan kualitas, komparatif dan kompetitif yang dapat memajukan pertumbuhan dan pengembangan pembangunan daerah."

Menutup rangkaian acara, Ketua DPRD menyerukan agar seluruh pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Barat, terus melanjutkan sinergi lintas sektor demi membangun provinsi yang lebih maju dan berkeadilan di masa mendatang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah acara pembacaan sejarah dengan lima dialek Sunda akan kembali digelar tahun depan? Sebagai agenda rutin dalam peringatan hari jadi yang diamanatkan Perda Nomor 26 Tahun 2010, pembacaan sejarah multibahasa diproyeksikan menjadi bagian tetap dari setiap peringatan tahunan, meskipun format dan pembawanya dapat disesuaikan oleh panitia DPRD.

Kenapa lima dialek dipilih dan bukan satu bahasa Sunda baku? Pemilihan lima dialek—Kulon, Betawi, Cirebon, Dermayu, dan Priangan—bertujuan merepresentasikan keragaman linguistik masyarakat Jawa Barat secara utuh, sehingga setiap komunitas lokal merasa terwakili dalam narasi resmi provinsi.

Di mana warga dapat mengakses rekaman atau transkrip acara? Rekaman rapat paripurna umumnya diunggah melalui kanal resmi DPRD Jawa Barat. Warga dapat menghubungi humas DPRD untuk memperoleh transkrip lengkap narasi sejarah yang dibacakan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Pembacaan Sejarah 5 Dialek Sunda Meriahkan?

Pembacaan Sejarah 5 Dialek Sunda Meriahkan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pembacaan Sejarah 5 Dialek Sunda Meriahkan matter?

Pembacaan Sejarah 5 Dialek Sunda Meriahkan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.