KabarTeras
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Rakit ‘Saksi’ Perjuangan Siswa SD Menuntut Ilmu di Bandung Barat

Published Agustus 28, 2026 · Updated Agustus 28, 2026 · By Susan Johnson - kabarteras.com

Foto : Susan Johnson - kabarteras.com

Menyeberangi Waduk Saguling Demi Bangku Sekolah: Kisah Anak-Anak SDN Budiharja

Kabarteras.com – Di sudut Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, sebuah perahu bambu tua menjadi saksi perjuangan siswa SD menuntut ilmu setiap pagi. Anak-anak SDN Budiharja tidak memiliki jalan darat yang memadai menuju sekolah mereka. Satu-satunya jalur praktis adalah melintasi perairan Waduk Saguling dengan menumpang kendaraan air yang dikerek oleh seutas tali tambang. Bagi mereka, perjalanan singkat itu bukan sekadar moda transportasi, melainkan bagian tak terpisahkan dari rutinitas belajar yang harus ditempuh tanpa terkecuali.

Setiap hari sekolah, pukul 06.00 WIB lebih, Imam Permana (12) dan teman-temannya sudah meninggalkan rumah di Kampung Sadang, RT 05, RW 02, Desa Budiharja. Mereka menyusuri jalan setapak menuju tepian waduk yang debit airnya menyusut akibat musim kemarau. Targetnya jelas: pukul 06.30 WIB mereka wajib sudah berada di ruang kelas yang terletak di Kampung Gombong, RT 03, RW 05, Desa Budiharja. Jarak lintasan air dari pemukiman menuju sekolah hanya sekitar 248 meter, sementara jalur darat mengharuskan mereka memutar sejauh kurang lebih 2,28 kilometer. Perbedaan jarak inilah yang menjadikan penyeberangan sebagai pilihan utama bagi puluhan anak setiap pagi.

Mekanisme Penyeberangan dan Peran Warga

Di tepi waduk, rakit bambu yang sudah lapuk oleh waktu menunggu. Seorang pria paruh baya dari warga setempat mengoperasikan kendaraan air tersebut secara sukarela tanpa bayaran. Seutas tali tambang membentang dari Kampung Sadang ke Kampung Gombong, dan melalui tali itulah perahu dikerek melintasi perairan. Anak-anak duduk tenang sementara matahari pagi mulai membakar terik. Canda dan tawa kerap terdengar saat mereka menaiki rakit, baik saat berangkat maupun pulang.

Imam Permana mengaku sudah menggunakan moda transportasi air ini sejak kelas 4 SD, hampir setiap hari, karena jauh lebih cepat dibanding berjalan kaki.

"Kalau aku mulai naik rakit itu dari kelas 4 hampir setiap hari, soalnya lebih cepet aja dari rumah ke sekolah."

"Kalau muter lumayan jauh, soalnya udah pernah dari kelas 1. Tapi sekarang pake rakit dulu karena lebih cepet. Enggak takut karena udah biasa."

Dukungan Orang Tua dan Makna Pendidikan

Santi Nur Setiani, orang tua salah satu siswa, sangat mengapresiasi keberadaan sarana penyeberangan tersebut. Kendaraan air tradisional berbahan bambu itu setiap hari mengantar anaknya pergi dan pulang sekolah demi mengenyam pendidikan di sekolah negeri. Tanpa kendaraan bermotor di lingkungan mereka, rakit menjadi satu-satunya alternatif yang praktis dan terjangkau bagi keluarga yang tidak memiliki motor atau mobil.

"Biasanya jam 6 lebih udah berangkat dari rumah. Kalau muter jauh jalannya, soalnya nggak ada motor juga. Jadi ke sini lebih cepet."

Kehadiran sarana ini bukan hanya soal efisiensi waktu tempuh. Bagi masyarakat Kampung Sadang, ia menjadi simbol ketangguhan komunitas yang memastikan hak anak atas pendidikan tidak terhambat oleh kondisi geografis. Setiap pagi, ketika rakit itu berayun pelan di atas air Waduk Saguling, yang terbawa bukan sekadar tubuh kecil menuju bangku kelas, melainkan harapan akan masa depan yang lebih baik. Kisah ini mengingatkan bahwa akses pendidikan di Indonesia masih memerlukan solusi kreatif dari komunitas lokal.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Penyeberangan Siswa SDN Budiharja

Berapa jarak yang ditempuh anak-anak dengan rakit? Jarak lintasan air dari Kampung Sadang ke Kampung Gombong sekitar 248 meter. Sebagai perbandingan, jalur darat mengharuskan memutar sejauh kurang lebih 2,28 kilometer.

Kapan anak-anak berangkat dan tiba di sekolah? Mereka meninggalkan rumah sekitar pukul 06.00 WIB dan wajib berada di sekolah pukul 06.30 WIB.

Siapa yang mengoperasikan rakit dan apakah berbayar? Seorang pria paruh baya dari warga setempat mengoperasikan rakit secara sukarela tanpa bayaran setiap hari sekolah. Tidak ada informasi mengenai biaya yang dikenakan kepada siswa.

Sejak kapan Imam Permana menggunakan rakit? Imam Permana mulai menumpang rakit sejak kelas 4 SD dan menggunakannya hampir setiap hari karena jauh lebih cepat dibanding berjalan kaki.

Related Reading