KabarTeras
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Debit Air Menyusut Akibat Kemarau, Hamparan Sampah dan Sedimentasi Muncul di Sungai Citarum

Published Agustus 23, 2026 · Updated Agustus 23, 2026 · By Susan Johnson - kabarteras.com

Foto : Susan Johnson - kabarteras.com

Sedimentasi dan Sampah Menampakkan Diri di Sungai Citarum Saat Kemarau Panjang

Kabarteras.com – Pantauan Republika pada Sabtu (22/8/2026) memperlihatkan pemandangan tidak biasa di Sungai Citarum, Blok Jembatan Babakan Sapan (BBS), Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat. Lapisan lumpur bercampur sampah telah mengendap hingga menutupi permukaan sungai, menciptakan tampilan yang menyerupai daratan. Fenomena ini terjadi seiring menyusutnya debit air akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

Restu Nugraha (35 tahun), warga setempat, menyebut bahwa penurunan muka air di kawasan tersebut sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Ia menilai kondisi kali ini cukup ekstrem dan menyerupai situasi kemarau 2023 yang juga berkepanjangan, diperparah oleh fenomena El Nino tahun ini.

"Iya emang airnya surut udah sebulan terakhir. Biasanya enggak sampe kayak gini ( terlihat sedimentasinya). Kayaknya gara-gara kemarau lama," kata Restu.

"Ini lumayan drastis penurunan debitnya. Ada mungkin 2-3 meter berkurang kedalamannya," ujar Restu.

Dampak terhadap Pasokan Waduk Saguling

Sungai Citarum berperan sebagai sumber air bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling. Menyusutnya debit di hulu secara langsung memengaruhi volume air yang mengalir ke Waduk Saguling, yang dikelola PT PLN Indonesia Power (PLN IP).

Praja Mukti Ediatmaja, Manajer Sipil PLTA Saguling, menjelaskan bahwa selisih debit antara musim hujan dan musim kemarau sangat mencolok. Pada puncak musim penghujan, debit masuk dapat mencapai 155–200 meter kubik per detik. Sebaliknya, sepanjang Agustus 2026 angka tersebut anjlok menjadi hanya 10 hingga 18 meter kubik per detik.

"Debit air masuk berkisar antara 10-18 m3/detik untuk bulan Agustus, puncak musim penghujan bisa mencapai 155-200 m3/detik," kata Praja saat dikonfirmasi, Jumat (21/8/2026).

Status Operasional Pembangkit Masih Normal

Terlepas dari berkurangnya pasokan air, Praja menegaskan bahwa tinggi muka air waduk saat ini tetap berada dalam koridor operasi yang diizinkan. Batas atas tinggi muka air pada musim kemarau ditetapkan pada 640 meter di atas permukaan laut (mdpl), sementara batas bawah berada di 636 mdpl. Posisi aktual muka air tercatat di angka 638 mdpl, sehingga masih aman.

"Namun demikian kondisi Tinggi Muka Air Waduk Saguling saat ini masih di batas operasi normal yaitu 638 mdpl," ujar Praja.

Produksi listrik dari Saguling sendiri tidak mengalami gangguan berarti. Pembangkit ini tetap menjalankan fungsinya sebagai penopang beban puncak pada sistem kelistrikan Jawa-Bali sekaligus sebagai pengatur frekuensi sistem melalui mekanisme load frequency control (LFC).

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Debit Air Menyusut Akibat Kemarau Hamparan?

Debit Air Menyusut Akibat Kemarau Hamparan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Debit Air Menyusut Akibat Kemarau Hamparan matter?

Debit Air Menyusut Akibat Kemarau Hamparan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.