KabarTeras
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Rahasia di Balik Keberhasilan Panen di Bantul yang Tembus 10 Ton Gabah per Hektare

Published September 19, 2026 · Updated September 19, 2026 · By Matthew Miller - kabarteras.com

Foto : Matthew Miller - kabarteras.com

Produktivitas Padi di Bantul Melonjak Lewat Pemupukan Berimbang

Kabarteras.com – Panen padi dari lahan percontohan di Kelurahan Trirenggo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat hasil yang menonjol. Kelompok Tani Lestari Nogosari berhasil mencapai produktivitas 10.097 kilogram gabah per hektare pada demplot seluas lima hektare. Capaian itu setara dengan lebih dari 10 ton gabah per hektare dan melampaui hasil panen padi yang umum diperoleh di kawasan tersebut.

Keberhasilan tersebut dikaitkan dengan penerapan pola pemupukan berimbang. Perlakuan yang menghasilkan angka tertinggi menggunakan 70 persen pupuk sintetis serta pupuk hayati cair PHC Pureplant sebanyak enam liter untuk setiap hektare. Kombinasi ini diuji di lahan demplot bersama beberapa skema pemupukan lain agar hasilnya dapat dibandingkan secara langsung.

Data hasil panen yang diterima Kamis, 17 September 2026, memperlihatkan jarak produktivitas yang cukup besar antarperlakuan. Penggunaan pupuk kimia sepenuhnya menghasilkan 6.624 kilogram gabah per hektare. Ketika pupuk kimia 100 persen dipadukan dengan PHC Pureplant, hasilnya meningkat menjadi 7.534 kilogram per hektare. Sementara itu, pola pupuk sintetis 70 persen yang dilengkapi PHC Pureplant menghasilkan 10.097 kilogram per hektare.

Potensi Kenaikan Lebih dari 40 Persen

Di wilayah Trirenggo, produktivitas padi selama ini berada pada kisaran tujuh ton per hektare. Hasil demplot Lestari Nogosari berarti memberikan tambahan sekitar tiga ton per hektare, atau peningkatan lebih dari 40 persen. Perbedaan ini menjadi perhatian karena menunjukkan peluang perbaikan produksi melalui pengelolaan budidaya dan pemupukan yang lebih terukur.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Gemah Ripah Kelurahan Trirenggo, Sunarya, menyampaikan bahwa kondisi tanaman pada perlakuan pemupukan berimbang tampak sangat baik. Ia membina Kelompok Tani Lestari Nogosari yang mengelola lahan percontohan tersebut.

“Hasilnya bagus sekali, anakan mencapai 55 anakan dan bulirnya banyak,” kata Sunarya.

Jumlah anakan dan banyaknya bulir menjadi gambaran penting dalam budidaya padi karena keduanya berkaitan dengan potensi hasil gabah saat panen. Temuan di demplot Bantul juga menegaskan bahwa pengujian di tingkat lapangan diperlukan untuk melihat respons tanaman terhadap kombinasi input yang digunakan.

Dorongan untuk Pengembangan di Wilayah Lain

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bantul Joko Waluyo berharap pola budidaya dari demplot itu dapat terus diuji serta diperluas ke lokasi lain. Jika penerapannya dapat memberikan hasil baik di berbagai wilayah, peningkatan produktivitas berpeluang memperkuat produksi padi Bantul dan membuka kemungkinan pasokan ke daerah lain ketika terjadi surplus.

Bagi petani, hasil dari lahan percontohan tidak otomatis berarti seluruh metode dapat diterapkan tanpa penyesuaian. Demplot berfungsi sebagai ruang pembuktian di lapangan, tempat perlakuan budidaya dibandingkan pada kondisi nyata. Hasilnya dapat menjadi bahan pertimbangan untuk pengembangan praktik pertanian yang tetap memperhatikan kebutuhan tanaman, kondisi lahan, serta ketersediaan sarana produksi.

Program pemupukan berimbang ini melibatkan pimpinan dan anggota Komisi IV DPR RI, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Direktorat Pembenihan Kementerian Pertanian, PT Pupuk Indonesia (Persero), Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia atau Intani, PT Intani Bumi Lestari, serta PT Indoraya Mitra Persada 168.

Dalam rangkaian perlakuan budidaya tersebut, PHC Pureplant digunakan bersama pembenah tanah organik PTO HumicGen. Penggunaan bahan pendukung itu menjadi bagian dari upaya menguji pendekatan budidaya padi yang diarahkan untuk menaikkan produktivitas secara berkelanjutan.

Bagian dari Demplot di Tiga Daerah

Demplot tidak hanya diselenggarakan di Bantul. Lahan percontohan dengan luas masing-masing lima hektare juga dikembangkan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, serta Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Total area program mencapai 15 hektare. Ketiga lokasi itu berada di wilayah binaan anggota Komisi IV DPR RI, yaitu Siti Hediati di Bantul, Panggah Susanto di Temanggung, dan Dadang Naseer di Kabupaten Bandung.

Panen di Bantul berlangsung Selasa, 15 September 2026, dan dilaksanakan oleh Gabungan Kelompok Tani Gemah Ripah Trirenggo. Kegiatan ini dihadiri Direktur Pembenihan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Ladiyani Retno Widowati, Direktur Pupuk Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Syamsudin, serta Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bantul Joko Waluyo.

Hadir pula Manajer Senior Wilayah DIY-Jateng PT Pupuk Indonesia Jeff Narapati, Lurah Trirenggo Ernawati Kusumaningsih, Direktur Utama PT Indoraya Mitra Persada 168 Atik Chandra, dan Ketua Umum Intani Guntur Subagja Mahardika. Kehadiran berbagai unsur ini mencerminkan kolaborasi antara petani, pemerintah, pelaku usaha, dan organisasi pertanian dalam pelaksanaan program.

Direktur Pupuk Kementerian Pertanian Syamsudin memberikan apresiasi terhadap penerapan pemupukan berimbang tersebut. Ia melihat produktivitas yang menembus 10 ton per hektare sebagai sinyal adanya ruang inovasi pada sistem budidaya padi.

“Saya mengapresiasi apa yang dilakukan Intani. Sangat baik dan terukur dalam program swasembada pangan berkelanjutan. Jarang demplot seperti ini yang bisa meningkatkan produktivitas,” ujar Syamsudin.

Ia menilai peningkatan produksi melalui pembenahan sistem budidaya sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap produktivitas padi dalam program PM-AAS, atau Pertanian Modern Advance Agriculture System. Pemerintah juga terus memberikan dukungan untuk pemenuhan kebutuhan pupuk petani.

Hasil panen di Nogosari memberi gambaran bahwa perbaikan produktivitas dapat ditempuh melalui pengujian yang terencana dan pencatatan hasil yang jelas. Tantangan selanjutnya adalah memastikan praktik yang terbukti efektif di demplot dapat dievaluasi secara cermat sebelum dikembangkan lebih luas, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh petani dan mendukung target swasembada pangan nasional secara berkelanjutan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Rahasia di Balik Keberhasilan Panen di Bantul?

Rahasia di Balik Keberhasilan Panen di Bantul is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Rahasia di Balik Keberhasilan Panen di Bantul matter?

Rahasia di Balik Keberhasilan Panen di Bantul matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.