Sejak Dijajah Belanda – Sistem Pendidikan di Indonesia tak Memihak Rakyat Kecil
Tidak Memihak Rakyat Kecil Sejak Dijajah Belanda - Dalam sejarah pendidikan Indonesia, sistem sekolah selama masa penjajahan Belanda sering dikritik karena
Sejak Dijajah Belanda, Sistem Pendidikan di Indonesia Tidak Memihak Rakyat Kecil
Sejak Dijajah Belanda – Dalam sejarah pendidikan Indonesia, sistem sekolah selama masa penjajahan Belanda sering dikritik karena kurang mengakomodasi kebutuhan rakyat kecil. Saat ini, biaya pendidikan menjadi beban berat bagi orang tua yang ekonominya terbatas. Pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi memerlukan dana yang cukup besar, dengan biaya sampai jutaan rupiah. Fenomena ini menciptakan ketimpangan, terutama jika dibandingkan dengan masa lalu.
Memori Pendidikan yang Lebih Aksesibel
Dalam era 1950-an hingga 1960-an, pendidikan dasar lebih mudah dijangkau masyarakat. Sekolah-sekolah umumnya tidak mengenakan biaya sebesar saat ini. Dulu, murid-murid Sekolah Rakyat (SR), yang kini dikenal sebagai SD, mendapatkan fasilitas seperti satu gelas susu setiap pagi. Jika sakit, mereka bisa memperoleh pemeriksaan kesehatan gratis melalui surat dari kepala sekolah. Contoh nyata adalah siswa SR di Jl Kramat III yang pernah kesekolah dengan telanjang kaki.
“Sekolah umumnya gratis karena subsidi pemerintah. Bahkan, saat saya masih mengajar di SMP Negeri Jakarta Selatan, biaya kuliah di Universitas Indonesia hanya Rp 240 per tahun,” kata Sopingi, seorang pensiunan guru yang tinggal di Depok.
Menurut Sopingi, ketimpangan ekonomi pada masa itu justru lebih parah daripada sekarang. Namun, biaya pendidikan tetap terjangkau karena bantuan pemerintah. Sebaliknya, saat ini murid harus membayar uang sekolah yang mencakup berbagai biaya tambahan. Perbedaan yang mencolok terlihat dari keberadaan kendaraan. Dulu, siswa ke sekolah dengan sepeda, tidak ada yang bermotor atau mobil.
Kegiatan Sekolah yang Khas Masa Lalu
Pada masa awal kemerdekaan, pertandingan olahraga antarsekolah sering diadakan, seperti kasti dan sepak bola. Lapangan yang masih ada di sekitar kawasan Jakarta Pusat menjadi tempat pertemuan siswa. Fenomena ini membuat organisasi PSSI pada tahun 1950-an menjadi tim yang kuat dan dihormati di Asia.
Kini, akses pendidikan terbatas oleh biaya yang meningkat. Tahun 1950-an hingga 1960-an, uang jajan sepicis (10 sen) dan uang segobang (dua setengah sen) cukup mengcover kebutuhan sehari-hari. Di masa itu, anak-anak juga bisa menggunakan uang jalan harian untuk menonton pertandingan di Megaria, Jakarta Pusat. Perubahan ini menggambarkan pergeseran nilai pendidikan dari kegiatan belajar-mengajar ke biaya operasional yang lebih mahal.
