Skip to content
News

Israel Terus Bunuhi Warga Gaza – Korban ‘Pascagencatan Senjata’ Lampaui 1.000 Orang

Betty Thomas - kabarteras.com 3 mins read

mpaui 1.000 Orang Latar Belakang Konflik Israel Terus Bunuhi Warga Gaza - Konflik antara Israel dan Palestina telah memasuki tahun kedua setelah gencatan

Israel Terus Bunuhi Warga Gaza – Korban ‘Pascagencatan Senjata’ Lampaui 1.000 Orang

Israel Terus Bunuhi Warga Gaza, Korban Lampaui 1.000 Orang

Latar Belakang Konflik

Israel Terus Bunuhi Warga Gaza – Konflik antara Israel dan Palestina telah memasuki tahun kedua setelah gencatan senjata yang dicanangkan pada 26 November 2023. Meski perjanjian ini bertujuan untuk memberi jeda bagi korban, operasi militer yang terus berlanjut masih menyebabkan banyak kematian dan luka-luka. Data terkini menunjukkan bahwa jumlah korban akibat serangan Israel sejak 11 Oktober 2023 mencapai 1.007 orang tewas dan 3.165 terluka, dengan korban pascagencatan senjata melampaui 1.000 orang. Angka ini menggarisbawahi bahwa Israel terus bunuh warga Gaza, bahkan dalam kondisi di luar masa perang.

“Serangan udara terus dilakukan meski wilayah Jalur Gaza dalam kondisi damai. Banyak warga sipil menjadi korban tanpa peringatan,” kata Jurnalis Muhammad Rabah dari Gaza, yang mengawasi situasi di lapangan. Ia menyoroti bahwa kejadian di Lapangan Anwar Aziz, Jabalia, pada Kamis (19/6/2026), menewaskan Al-Karim Mousa Abu Dan (71 tahun) dan Jad Suleiman (8 tahun). Anak terakhir itu sedang pulang dari sekolah saat rudal Israel jatuh.

Kasus Serangan Terkini

Berdasarkan laporan dari tim medis di Al-Shifa, serangan di Kota Gaza pada hari itu menyebabkan tiga korban tewas dan empat lainnya terluka. Evakuasi korban dilakukan dengan cepat, namun banyak dari mereka masih terjebak di bawah reruntuhan atau di daerah yang sulit dijangkau. Pada hari yang sama, di Tel al-Hawa, barat daya Kota Gaza, serangan terpisah menewaskan satu warga dan melukai delapan orang. Jumlah ini menunjukkan bahwa Israel terus bunuh warga Gaza, meski gencatan senjata telah berlaku.

Sumber lokal mengungkapkan bahwa serangan udara di Al-Attar, Khan Younis, Gaza selatan, pada hari itu juga mengakibatkan dua kematian dan sejumlah luka. Serangan-serangan ini terjadi di berbagai wilayah Jalur Gaza, menunjukkan keberlanjutan ancaman dari Israel terhadap warga sipil. Angka korban yang terus meningkat menjadi sinyal bahwa gencatan senjata belum cukup untuk memutus siklus kekerasan.

“Korban pascagencatan senjata menjadi bukti bahwa serangan tidak hanya terjadi saat perang berlangsung, tetapi juga setelahnya,” ungkap pejabat kesehatan dari Gaza. Ia menambahkan bahwa ratusan warga masih mengalami trauma dan kehilangan tempat tinggal akibat aksi-aksi militer Israel. Banyak dari mereka tidak memiliki akses ke layanan kesehatan yang memadai, sehingga kondisi mereka semakin memburuk.

Sejak 7 Oktober 2023, konflik Gaza mengakibatkan 73.016 korban jiwa dan 173.265 luka. Jumlah ini menjadikan agresi Israel sebagai salah satu peristiwa terburuk dalam sejarah Palestina modern. Meski gencatan senjata dicanangkan, Israel terus bunuh warga Gaza, dengan serangan yang seringkali menargetkan bangunan, jalan raya, dan daerah padat penduduk. Banyak korban tidak bisa dibedakan antara militer dan sipil, menyebabkan kekhawatiran akan perlindungan warga non-perang.

Menurut laporan PBB, perang ini telah menyebabkan kehancuran infrastruktur kritis seperti rumah sakit, sekolah, dan tempat tinggal. Serangan yang terus berlanjut mengakibatkan krisis kemanusiaan yang semakin parah, dengan ribuan warga Gaza kehilangan akses ke air bersih, makanan, dan perawatan medis. Meski ada upaya internasional untuk menghentikan kekerasan, Israel tetap bertindak dengan kekuatan senjata, menunjukkan bahwa gencatan senjata belum mencapai efek yang diharapkan.

Kasus-kasus bunuh warga Gaza pascagencatan senjata menimbulkan kecaman internasional. Organisasi hak asasi manusia seperti Human Rights Watch menyoroti bahwa serangan Israel terus menghasilkan korban jiwa yang tidak perlu. Pada bulan Mei 2026, kejadian di Jabalia kembali mengingatkan dunia tentang dampak berkepanjangan dari konflik ini. Angka korban yang melampaui 1.000 orang dalam waktu singkat menjadi bukti bahwa kekerasan tidak berhenti, bahkan setelah kesepakatan damai diumumkan.

Join the discussion