Skip to content
Resumatra

Tapir di Mesuji Mati Ditombak & Disembelih Warga – BKSDA Bengkulu Beri Imbauan tak Ganggu Satwa Liar

Betty Thomas - kabarteras.com 3 mins read

Tapir di Mesuji Mati Ditombak Disembelih -

Tapir di Mesuji Mati Ditombak & Disembelih Warga – BKSDA Bengkulu Beri Imbauan tak Ganggu Satwa Liar

Tapir di Mesuji Mati Ditombak & Disembelih Warga, BKSDA Bengkulu Beri Imbauan tak Ganggu Satwa Liar

03 Jul 2026, 13:54 WIB | Antara | Umum | 2675 Karakter

Tapir di Mesuji Mati Ditombak Disembelih – Tapir yang sebelumnya menjadi sorotan publik karena muncul di Jalan Lintas Register 45, Kabupaten Mesuji, Lampung, akhirnya meninggal setelah dibunuh dan disembelih oleh warga setempat. Empat orang pelaku diketahui telah ditangkap oleh petugas berwenang, menurut informasi yang dihimpun dari BKSDA Bengkulu. Peristiwa ini memicu respons cepat dari instansi konservasi, yang menekankan perlunya pengawasan lebih ketat terhadap satwa liar di wilayah tersebut.

Video viral yang menunjukkan tapir berwarna hitam putih berjalan tenang di badan jalan memperkuat perhatian masyarakat terhadap satwa yang dianggap langka ini. Rekaman tersebut menyebar cepat di media sosial, memicu rasa penasaran dan kekaguman terhadap keberadaan tapir di tengah aktivitas manusia. Namun, kejadian berikutnya menunjukkan bagaimana keberadaan satwa liar bisa juga memicu tindakan yang tidak terduga.

“Kami telah mendapat laporan bahwa tapir yang viral di Mesuji telah mati dan disembelih warga. Tim kami sedang di lokasi untuk berkoordinasi dengan Polres serta mengevaluasi kondisi lingkungan sekitar,” ungkap Itno Itoyo, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung BKSDA Bengkulu, saat dihubungi dari Bandarlampung, Jumat.

Menurut Itno, tapir adalah satwa yang dilindungi secara nasional, sehingga perlindungan ekosistemnya menjadi prioritas. Ia menjelaskan bahwa peristiwa ini tidak hanya menggambarkan tindakan warga yang tergesa-gesa, tetapi juga menunjukkan pentingnya edukasi terhadap kesadaran masyarakat tentang konservasi. “Tapir adalah bagian dari keanekaragaman hayati daerah ini, jadi masyarakat harus lebih waspada saat bertemu satwa liar,” katanya.

BKSDA Bengkulu sebelumnya memang sudah menerima video penggalan dari warga yang menunjukkan upaya menyelamatkan tapir. Namun, meski ada tindakan positif, hewan itu akhirnya tetap terbunuh. Karena itu, BKSDA memberikan peringatan khusus agar masyarakat tidak membahayakan satwa liar atau mengganggu aktivitasnya. “Kami mengimbau warga untuk tidak menembak atau menyembelih tapir tanpa izin, karena hal ini bisa mengancam keberlanjutan spesies tersebut,” terang Itno.

Detil Peristiwa Penembakan Tapir di Mesuji

Kejadian penembakan tapir terjadi pada Rabu (1/7) malam, setelah hewan tersebut terlihat berjalan di dekat jalan raya yang ramai. Warga setempat, yang sebelumnya berusaha menangkap tapir dengan harapan bisa menyelamatkan, akhirnya memutuskan menembak dan menyembelih hewan itu karena takut ancaman terhadap keselamatan diri. Menurut laporan, tapir itu terjebak di area yang sempit, sehingga warga merasa terpaksa mengambil tindakan.

Kasus ini menimbulkan polemik di kalangan penggiat lingkungan dan masyarakat setempat. Di satu sisi, warga menganggap tapir sebagai hewan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, sementara di sisi lain, muncul kekhawatiran tentang hilangnya satu spesies yang langka. BKSDA mencatat bahwa tapir di wilayah Mesuji merupakan bagian dari populasi yang terancam, sehingga setiap kematian satwa ini berdampak signifikan terhadap konservasi.

Respons BKSDA dan Langkah Pencegahan

Dalam waktu singkat, BKSDA Bengkulu memulai investigasi terkait kejadian tersebut. Tim konservasi berupaya mengumpulkan informasi lebih lanjut untuk memahami apakah tindakan warga tersebut dilakukan dengan sebab yang cukup atau terlalu ekstrim. “Tapir adalah bagian dari ekosistem hutan, jadi kita perlu mengetahui apakah ada kejadian serupa sebelumnya di wilayah ini,” kata Itno.

Sebagai tindakan pencegahan, BKSDA juga memberikan edukasi melalui media sosial dan pertemuan langsung dengan warga. Mereka menekankan pentingnya menghormati batas-batas hewan liar dan menghindari tindakan spontan yang bisa berakibat fatal. “Tidak semua warga terlihat mengganggu tapir, tetapi kita harus bersiap menghadapi situasi yang mungkin berulang,” jelas Itno.

“Tapir di Mesuji adalah spesies yang penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Jika terus dibiarkan, kita bisa kehilangan satwa ini karena penembakan yang tidak terencana,” tambahnya.

Sebagai langkah tambahan, BKSDA berencana mengadakan sosialisasi mengenai cara menghadapi satwa liar di sekitar jalan raya. Mereka juga berharap warga bisa lebih memahami keberadaan tapir sebagai bagian dari keanekaragaman hayati yang perlu dijaga. “Kami percaya bahwa dengan edukasi, masyarakat bisa berperan aktif dalam melestarikan satwa liar,” tutup Itno.

Join the discussion