Historic Moment: Dewan Hakim Sebut Kualitas Bacaan Peserta MTQ ke-40 Sumut Meningkat Signifikan
Terus Meningkat Historic Moment - Di tengah perayaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-40 tingkat Sumatera Utara, dewan hakim mengungkapkan bahwa kualitas
Historic Moment: Kualitas Bacaan Peserta MTQ ke-40 Sumut Terus Meningkat
Historic Moment – Di tengah perayaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-40 tingkat Sumatera Utara, dewan hakim mengungkapkan bahwa kualitas bacaan peserta mencatatkan peningkatan nyata. Ini menjadi Historic Moment dalam sejarah lomba tilawah di provinsi tersebut, mengingat prestasi para peserta dinilai telah menembus batas yang sebelumnya dianggap sulit. Dengan tingkat keberhasilan yang meningkat signifikan, MTQ tahun ini menghadirkan perubahan besar dalam standar kompetisi.
“Beberapa peserta MTQ ke-40 Sumut telah mampu mencapai nilai di atas 95 meski kompetisi baru berlangsung empat hari,” kata Syaifuddin Hazmi Lubis, Ketua Dewan Hakim, dalam sambutan pembukaan di Deli Serdang, Jumat (15/6/2026). Ia menegaskan bahwa kualitas penampilan qari dan qariah dari berbagai daerah semakin konsisten dan menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Meningkatnya kualitas bacaan peserta tidak hanya terlihat dari nilai yang lebih tinggi, tetapi juga dari kemampuan menguasai teknik tajwid, intonasi, dan keakuratan dalam menyampaikan ayat-ayat suci. Hazmi menyebutkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, skor tertinggi yang diberikan cenderung terbatas pada angka 94 dari nilai maksimal 100. Namun, pada MTQ ke-40 ini, peserta berhasil melewati ambang batas tersebut, menandakan perbaikan sistem pelatihan dan persiapan di tingkat lokal.
Persiapan dan Pelatihan yang Menyeluruh
Kemajuan ini didukung oleh peran aktif organisasi dan pemangku kepentingan di Sumut. Berbagai lembaga daerah serta guru pengajar qira’at telah meningkatkan metode pembinaan, termasuk penerapan teknologi digital untuk memantau perkembangan peserta secara real-time. “Dengan pendekatan yang lebih terstruktur, peserta kini lebih siap menghadapi tingkat nasional,” jelas Hazmi, menambahkan bahwa penggunaan media sosial dan platform pembelajaran online menjadi faktor penting dalam mempercepat proses penguasaan bacaan.
“Kita melihat adanya Historic Moment dalam kompetensi tilawah Sumut, yang mencerminkan komitmen lembaga dan masyarakat dalam memajukan qira’at,” tegas Hazmi. Ia berharap peningkatan ini terus berlanjut hingga MTQ Nasional 2026, yang akan diadakan di Jawa Tengah.
Target Medali dan Kualifikasi Nasional
Dewan Hakim MTQ ke-40 Sumut tidak hanya fokus pada penilaian lokal, tetapi juga menyiapkan peserta untuk mengharumkan nama daerah di tingkat nasional. Dengan sekitar setengah dari peserta memiliki kemampuan sejajar dengan standar nasional, harapan untuk meraih medali di MTQ Nasional XXXI/2026 semakin tinggi. “Ini adalah Historic Moment yang berpotensi mengubah citra Sumut dalam ajang nasional,” ujar Hazmi, menyoroti pentingnya persiapan jangka panjang.
“Kemampuan peserta di semua cabang menunjukkan potensi besar untuk meraih medali,” tambahnya. Dengan 1.109 peserta dari 28 kabupaten/kota yang berlaga di delapan cabang dan 28 golongan perlombaan, MTQ ke-40 Sumut menciptakan suasana kompetitif yang sehat. Kompetisi berlangsung selama 10 hari, 15 hingga 24 Juni 2026, di Deli Serdang, dengan suasana yang semarak dan partisipasi yang luas.
Dalam Historic Moment ini, keberhasilan peserta juga mencerminkan peran pemerintah provinsi dan masyarakat dalam mendukung lingkungan belajar yang kondusif. Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, telah memberikan apresiasi berupa program umroh untuk 10 juara terbaik, sebagai penghargaan atas usaha mereka. “Minimal ada 10 pemenang yang akan diberangkatkan umroh oleh Pemprov Sumut,” kata Bobby setelah menghadiri acara pembukaan, menekankan pentingnya penghargaan sebagai motivasi untuk terus berprestasi.
“Kita optimistis Sumut bisa menduduki lima besar pada MTQ Nasional 2026,” tambah Hazmi. Ia menjelaskan bahwa perbaikan kualitas bacaan peserta bukan hanya hasil latihan intensif, tetapi juga karena peningkatan kesadaran akan pentingnya qira’at dalam pendidikan agama. Dengan peningkatan ini, Sumut berharap menjadi contoh daerah yang berkomitmen dalam pengembangan budaya membaca al-Quran.
