New Policy: Di Balik Jeruji, Warga Binaan Lapas Manado Ciptakan Produk Bernilai Ekonomi
Di Balik Jeruji, Warga Binaan Lapas Manado Ciptakan Produk Bernilai Ekonomi New Policy - Sebagai bagian dari New Policy yang diusung oleh Direktorat Jenderal
Di Balik Jeruji, Warga Binaan Lapas Manado Ciptakan Produk Bernilai Ekonomi
New Policy – Sebagai bagian dari New Policy yang diusung oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Lapas Kelas IIA Manado kini menjadi contoh nyata bagaimana warga binaan dapat berkontribusi secara ekonomi selama menjalani masa pidana. Kepala Lapas Manado, Krisman Ziliwu, mengungkapkan bahwa program ini memberikan ruang bagi para warga binaan untuk mengembangkan keterampilan, membangun kemandirian, serta menciptakan produk bernilai ekonomi yang bisa dipasarkan ke masyarakat. Dengan pendekatan yang lebih humanis, lembaga pemasyarakatan kini tidak hanya fokus pada pembinaan sikap dan perilaku, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.
“New Policy memungkinkan warga binaan merasa bahwa masa hukuman bukanlah akhir dari potensi mereka, tetapi awal dari perubahan positif yang bisa mereka bawa ke masyarakat,” kata Krisman Ziliwu. Menurutnya, penggunaan teknologi dan metode pembelajaran modern dalam program ini membuat warga binaan lebih mudah mengikuti pelatihan, sehingga mampu menghasilkan produk yang diminati dan memiliki nilai jual tinggi.
Program New Policy di Lapas Manado mencakup berbagai macam bidang keahlian, mulai dari kerajinan tangan, perabot rumah tangga, hingga inovasi produk makanan dan tekstil. Pelatihan dijalankan secara terstruktur, dengan pengawasan ketat dari petugas lapas dan para instruktur yang berpengalaman. Selain itu, warga binaan juga diberikan akses ke bahan baku, alat produksi, dan tempat kerja yang terorganisir. Hasil karya mereka tidak hanya dipakai dalam lapas, tetapi juga dijual ke luar, yang menjadi sumber pendapatan tambahan bagi mereka.
Krisman Ziliwu menjelaskan bahwa New Policy berfokus pada peningkatan keterampilan teknis dan kemandirian mental warga binaan. “Mereka belajar cara berproduksi secara efisien, memahami kebutuhan pasar, serta mengasah kemampuan kerja sama. Semua ini penting agar mereka bisa terus berkembang setelah bebas,” tambahnya. Program ini juga dilengkapi dengan pelatihan soft skill, seperti komunikasi dan manajemen waktu, yang diperlukan untuk beradaptasi dengan kehidupan di luar lapas.
Strategi Pemasyarakatan yang Berorientasi Ekonomi
Dalam New Policy, Lapas Manado melibatkan mitra eksternal, seperti UKM lokal dan perusahaan swasta, untuk memperluas peluang pemasaran produk warga binaan. Kerja sama ini tidak hanya memberikan akses ke pasar, tetapi juga membuka peluang kerja sambilan bagi warga binaan yang ingin memulai bisnis sendiri setelah bebas. Selain itu, pihak lapas juga menyediakan pelatihan dasar bisnis, mulai dari perencanaan produksi hingga pemasaran, sehingga warga binaan memiliki bekal yang komprehensif.
Keberhasilan program ini juga diukur dari peningkatan kualitas hidup warga binaan. Dengan memperoleh penghasilan sepanjang masa hukuman, mereka bisa mengurangi ketergantungan pada pihak keluarga atau institusi pemasyarakatan. “New Policy menunjukkan bahwa sistem pemasyarakatan tidak hanya menyelesaikan hukuman, tetapi juga mengubah warga binaan menjadi bagian dari ekonomi sektor informal,” kata Krisman. Ia menambahkan bahwa program ini telah membuka banyak peluang, termasuk pengembangan usaha mikro dan peningkatan daya beli warga binaan.
Manfaat dari New Policy tidak hanya terlihat dari aspek ekonomi, tetapi juga dari peningkatan kualitas hidup sosial warga binaan. Mereka belajar untuk menjadi lebih disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. “Kegiatan ini juga menjadi sarana pengasahan mental, sehingga mereka bisa kembali ke masyarakat dengan sikap yang lebih positif dan siap menghadapi tantangan kehidupan,” jelas Krisman. Dengan pendekatan yang holistik, New Policy di Lapas Manado diharapkan menjadi model yang bisa diadopsi oleh lapas-lapas lain di Indonesia.
