Skip to content
Kolom

Latest Program: Huru-Hara Penegak Hukum: Deep State, State Capture, atau Konflik Institusional?

Jennifer Brown - kabarteras.com 3 mins read

Latest Program: Huru-Hara Penegak Hukum dan Fenomena Deep State Latest Program – Oleh: Suryanto, Guru Besar Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas

Latest Program: Huru-Hara Penegak Hukum: Deep State, State Capture, atau Konflik Institusional?

Latest Program: Huru-Hara Penegak Hukum dan Fenomena Deep State

Latest Program – Oleh: Suryanto, Guru Besar Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Kontroversi dalam Ruang Publik

Latest Program ini mengupas fenomena huru-hara dalam penegakan hukum yang mengguncang masyarakat. Penggeledahan di sebuah rumah di Sentul, Bogor, yang mengungkap temuan 74 kilogram emas batangan dan uang tunai menjadi pusat perdebatan. Rumah tersebut dikenal sebagai tempat tinggal mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Febrie Adriansyah, meskipun ia menyatakan emas serta uang tersebut milik pihak ketiga. Polri mengatakan emas terdiri dari 74 keping, masing-masing sekitar satu kilogram, dan melakukan uji coba bersama Pegadaian. Meski fakta-fakta dijelaskan, asal-usul dan hubungannya dengan tindak pidana masih perlu dibuktikan secara lengkap.

Pola Kehati-Hatian dalam Penegakan Hukum

Ketegangan antara dua institusi penegak hukum memerlukan pendekatan objektif. Barang yang ditemukan, meski besar, belum cukup membuktikan adanya konspirasi. Latest Program menekankan bahwa pengadilan tetap menjadi penentu akhir. Kebutuhan untuk menghindari kesimpulan terburu terjadi karena dua institusi ini memiliki kekuatan, kehormatan, serta sejarah organisasi yang berbeda. Dalam konteks ini, disiplin dan transparansi menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik.

Deep State: Jaringan Kekuasaan yang Tidak Terlihat

Deep state merujuk pada jaringan kekuasaan informal yang bekerja di balik lembaga resmi dan memengaruhi keputusan negara tanpa transparansi demokratis. Jaringan ini bisa mencakup elemen keamanan, birokrasi, politik, maupun ekonomi. Latest Program menyoroti bahwa konsep ini perlu dianalisis secara kritis, karena ketegangan antara kepolisian dan kejaksaan belum cukup untuk menyimpulkan adanya deep state. Dibutuhkan bukti terkait jaringan terorganisir yang bertahan lama dan memengaruhi kebijakan di luar mekanisme konstitusional.

State Capture: Pengaruh Kepentingan Eksternal

State capture menggambarkan kondisi di mana kepentingan bisnis atau politik berhasil menguasai proses pengaturan negara. Hal ini tidak hanya memengaruhi individu, tetapi juga memperkuat kebijakan, penegakan hukum, serta keputusan lembaga demi keuntungan kelompok tertentu. Latest Program membahas bagaimana temuan emas dan uang bisa menjadi indikator state capture, jika terbukti terkait pola kekayaan, keputusan kasus, perlindungan institusi, dan kepentingan aktor tertentu. Fenomena ini memicu pertanyaan tentang keterbukaan sistem hukum di Indonesia.

Konflik Institusional: Dinamika Internal yang Penting

Konflik institusional terjadi saat dua lembaga penegak hukum bersaing dalam mengambil keputusan. Fakta ini bisa menunjukkan mekanisme saling mengawasi, tetapi juga menguji kemampuan kedua lembaga untuk mengedepankan hukum di atas kepentingan korps. Latest Program menekankan bahwa istilah “konflik institusional” lebih tepat karena menekankan pada dinamika internal organisasi, bukan konspirasi eksternal. Penegakan hukum yang terjadi di dalam lingkaran korps memerlukan analisis mendalam untuk memahami akar masalahnya.

Psikologi Sosial: Membangun Identitas dan Stereotip

Teori identitas sosial Henri Tajfel membantu memahami hubungan antarlembaga. Manusia cenderung membagi diri menjadi “kami” dan “mereka” untuk menciptakan rasa aman serta makna. Identitas korps menjadi penting dalam membangun disiplin, keberanian, serta kesetiaan dalam menjalankan tugas. Latest Program menunjukkan bagaimana psikologi sosial memengaruhi persepsi publik terhadap institusi, baik dalam hal dukungan maupun kritik.

Peran Psikologi dalam Penegakan Hukum

Psikologi sosial juga mengenali kesalahan atribusi mendasar, yaitu kecenderungan menganggap tindakan pihak lain sebagai watak buruk, sementara tindakan sendiri dijelaskan karena situasi. Polisi bisa dicurigai karena ambisi, sedangkan kejaksaan dinilai melindungi kolega; atau sebaliknya. Latest Program menekankan bahwa cara berpikir ini membatasi kemungkinan bahwa keputusan aparat lahir dari campuran faktor pribadi, tekanan organisasi, kekuasaan, serta kepentingan kelembagaan. Perlu pendekatan yang lebih luas untuk memahami dinamika kompleks ini.

Join the discussion