Skip to content
News

New Policy: Ancaman Bom di SDN Srengseng Sawah Hancurkan Makna Gerakan Ayah Antar Anak Sekolah

Susan Johnson - kabarteras.com 3 mins read

ncurkan Makna Gerakan Ayah Antar Anak Sekolah New Policy - Program New Policy yang bertujuan memperkuat peran ayah dalam pendidikan anak kembali diuji oleh

New Policy: Ancaman Bom di SDN Srengseng Sawah Hancurkan Makna Gerakan Ayah Antar Anak Sekolah

New Policy: Ancaman Bom di SDN Srengseng Sawah Hancurkan Makna Gerakan Ayah Antar Anak Sekolah

New Policy – Program New Policy yang bertujuan memperkuat peran ayah dalam pendidikan anak kembali diuji oleh sebuah insiden serius di SDN Srengseng Sawah. Beberapa waktu lalu, ancaman bom melalui pesan WhatsApp oleh seseorang bernama MY memicu kekhawatiran masyarakat. Dalam pesan tersebut, pelaku mengancam akan melakukan serangan di 11 lokasi sekolah dan meminta pihak sekolah tidak melaporkan ke polisi. Insiden ini mengguncang hari pertama MPLS, saat biasanya ayah aktif mengantar anak-anak memasuki lingkungan belajar baru.

Kejadian tersebut memaksa kepolisian mengirim tim Gegana dan unit K-9 untuk menyisir seluruh area sekolah. Meski pelaku akhirnya ditangkap dan tidak ditemukan bahan peledak, dampak psikologisnya terasa nyata. Rasa aman anak-anak hancur seketika, terutama bagi si anak pelaku yang harus meninggalkan lingkungan sekolah. New Policy mengharuskan pendidik dan orang tua lebih sensitif terhadap potensi ancaman, sekaligus menjaga semangat gerakan ayah antar anak tetap berjalan.

Gerakan Ayah Mengantar Anak: Simbol Kehadiran Emosional

Gerakan Ayah Antar Anak Sekolah (GAMAS) dianggap sebagai bentuk partisipasi aktif orang tua dalam pengasuhan anak. Menurut Gloria Siagian, psikolog anak, kehadiran ayah di hari pertama sekolah bukan hanya sekadar bantuan fisik, tapi juga menumbuhkan rasa aman yang lebih dalam. “Peran ayah dalam GAMAS sangat penting karena mereka menjadi simbol kekuatan keluarga,” jelas Siagian.

“Anak-anak yang melihat ayah berusaha mendekati sekolah dengan rasa percaya diri akan merasa lebih nyaman,” imbuhnya. Keikutsertaan ayah dalam kegiatan ini berkontribusi pada pembentukan hubungan emosional yang kuat, yang bisa menjadi fondasi untuk kemandirian anak di masa depan. New Policy juga mendorong pelaku didik dan orang tua untuk melibatkan ayah dalam proses pembelajaran sejak awal.

Sementara itu, pendidikan yang diberikan melalui program New Policy menekankan pentingnya keterlibatan ayah dalam berbagai aspek pengasuhan. Dalam Surat Edaran No. 17 Tahun 2026, pemerintah menegaskan bahwa program ini bertujuan membangun kepercayaan diri anak dan menciptakan lingkungan belajar yang harmonis. Namun, ancaman bom di SDN Srengseng Sawah menunjukkan bahwa kehadiran ayah bisa terganggu oleh faktor eksternal.

Penyesuaian New Policy dalam Kondisi Darurat

Menyusul insiden di SDN Srengseng Sawah, New Policy direspons dengan penyesuaian mekanisme pengawasan di sekolah. Kepolisian dan pihak sekolah bersinergi untuk memastikan lingkungan belajar tetap aman, sementara gerakan ayah antar anak tetap bisa dilakukan secara aman. “Jika tidak ada kekhawatiran, ayah bisa terus berpartisipasi, tapi kita harus ekstra hati-hati,” kata seorang petugas sekolah.

“Kita tidak ingin New Policy ini terhenti karena kecemasan. Justru, insiden ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya partisipasi aktif,” ujar Siagian. Ia menekankan bahwa kehadiran ayah di sekolah bisa menjadi sarana mengurangi kecemasan anak di bawah tekanan situasi darurat. Misalnya, ayah yang hadir bisa memberikan dukungan emosional ketika anak merasa cemas.

Dalam New Policy, diharapkan ada harmonisasi antara upaya melindungi anak dari ancaman eksternal dan memperkuat hubungan antara orang tua dengan anak. Selain itu, program ini juga memperkuat kolaborasi antara keluarga dan institusi pendidikan untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan penuh kepercayaan. Anak-anak yang melihat ayah ber

Join the discussion