Main Agenda: Mahasiswi UBSI Kampus Pontianak Juara 1 Tari Tradisional di Ajang Internasional
Mahasiswi UBSI Pontianak Meraih Juara 1 Tari Tradisional di Ajang Internasional Main Agenda Main Agenda - Dalam ajang internasional Main Agenda 2026 yang
Mahasiswi UBSI Pontianak Meraih Juara 1 Tari Tradisional di Ajang Internasional Main Agenda
Main Agenda – Dalam ajang internasional Main Agenda 2026 yang berlangsung di Medan, Sumatera Utara, dari 28 Juni hingga 4 Juli, Mahasiswi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Pontianak, Antik Avelia Carolin, mencuri perhatian dengan prestasi luar biasa. Dengan berjuang bersama tim tari tradisional yang mewakili Kota Pontianak, Antik sukses meraih Juara Pertama dalam kategori pertunjukan seni budaya lokal. Penghargaan ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga membawa harum nama kampus dan kota asalnya di panggung internasional.
Keberhasilan di Tingkat Internasional
Ajang Main Agenda 2026 menjadi salah satu kesempatan penting bagi Kota Pontianak untuk menunjukkan kekayaan budaya dan seni kepada dunia. Tari tradisional yang ditampilkan oleh Antik dan tim menjadi salah satu elemen utama dalam perhelatan tersebut, menggabungkan gerakan yang menginspirasi dengan kostum yang bernuansa lokal. Pertunjukan ini tidak hanya menunjukkan keahlian teknis dalam seni tari, tetapi juga menceritakan nilai-nilai budaya Kalimantan Barat yang kaya raya. Antik menyatakan bahwa keberhasilan ini memperkuat keyakinan bahwa seni dan budaya adalah bagian tak terpisahkan dari identitas daerah.
Kemampuan Antik untuk menggabungkan keahlian akademik dengan passion seni membuktikan bahwa pelajar UBSI Pontianak mampu bersinar di berbagai bidang. Dukungan dari pengurus kampus dan komunitas seni lokal menjadi faktor penting dalam keberhasilan ini. Penggemar seni budaya mengapresiasi inisiatif UBSI Kampus Pontianak dalam mengembangkan minat mahasiswa di luar bidang teknologi dan informatika.
Proses Latihan yang Penuh Makna
Persiapan tim tari tradisional di ajang Main Agenda 2026 tidaklah mudah. Antik dan anggota tim harus mengatur waktu latihan yang padat, terutama karena jadwal kuliah dan kegiatan ekstrakurikuler. Beberapa dari mereka juga memiliki tanggung jawab di luar kampus, seperti pekerjaan atau kewirausahaan. Namun, komitmen untuk meraih prestasi membuat mereka terus berusaha meski menghadapi berbagai hambatan.
“Main Agenda 2026 adalah pengalaman berharga bagi kami. Meski menghadapi tantangan dalam mengatur jadwal, kami berjuang dengan semangat untuk menghadirkan pertunjukan terbaik. Setiap gerakan tari kami dirancang dengan cermat agar bisa menunjukkan keunikan budaya Pontianak secara maksimal,” papar Antik.
Dalam latihan, tim juga menggali makna tari tradisional yang menjadi fondasi pertunjukan. Mereka mempelajari sejarah tarian tersebut, serta mengadaptasinya agar sesuai dengan konteks modern tanpa kehilangan ciri khas lokal. Proses ini tidak hanya memperkuat kemampuan teknis, tetapi juga membangun rasa bangga dan kebanggaan terhadap budaya tanah air.
Peran Kampus dalam Pengembangan Seni Budaya
UBSI Kampus Pontianak berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan minat mahasiswa di berbagai bidang, termasuk seni dan budaya. Dukungan ini berupa fasilitas, pelatihan, serta program kerja sama dengan komunitas seni lokal. Antik mengungkapkan bahwa kesempatan seperti Main Agenda 2026 tidak mungkin terwujud tanpa bantuan dari pihak kampus.
“Main Agenda 2026 adalah bukti bahwa kampus UBSI Pontianak tidak hanya fokus pada pendidikan teknis, tetapi juga melibatkan mahasiswa dalam kegiatan seni budaya. Ini membuktikan bahwa kampus bisa menjadi pusat pengembangan kreativitas dan kearifan lokal,” tambah Antik.
Kepala Kemahasiswaan UBSI Pontianak, Yoki Firmansyah, menegaskan bahwa keberhasilan Antik menunjukkan bagaimana kampus memberikan ruang untuk ekspresi budaya mahasiswa. “Main Agenda 2026 bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga platform untuk membangun karakter dan daya saing generasi muda. UBSI Pontianak bangga dengan keberanian Antik dan timnya dalam mengharumkan nama daerah,” ujarnya.
Prestasi ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berinovasi. Kampus Digital Kreatif UBSI Pontianak berharap keberhasilan seperti ini bisa menjadi contoh bagaimana pendidikan bisa berjalan sejalan dengan pengembangan seni dan budaya. Dengan semangat Main Agenda 2026, mereka berharap ke depan bisa meraih lebih banyak pengakuan di tingkat internasional.
