DPR Dorong Satgas Khusus Bebaskan 4 WNI Sandera Perompak Somalia
Di Makassar, Sulawesi Selatan, anggota DPR Syamsu Rizal menyampaikan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan berbagai instansi
Parlemen Mendesak Pembentukan Satuan Tugas Pembebasan Sandera Somalia
Kabarteras.com – Di Makassar, Sulawesi Selatan, anggota DPR Syamsu Rizal menyampaikan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan berbagai instansi terkait. Tujuannya adalah menyusun strategi pembebasan empat warga negara Indonesia yang menjadi tawanan, termasuk sandera-sandera lainnya. Pernyataan ini disampaikan pada hari Selasa kepada awak media.
Landasan Hukum dan Opsi Militer
Syamsu menjelaskan bahwa UU Nomor 3 Tahun 2025 telah mengatur peran TNI dalam operasi militer non-perang. Tugas ini mencakup perlindungan terhadap WNI yang berada di luar negeri. Ia menambahkan bahwa opsi penggunaan operasi militer dapat dijadikan pilihan terakhir jika semua upaya lain belum memberikan hasil optimal.
“Kami meminta TNI, Kementerian Luar Negeri, dan kementerian terkait membentuk satuan tugas agar upaya penyelamatan WNI di Somalia dapat dilakukan secara terukur,” ujarnya.
Kendala dan Dinamika Negosiasi
Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah belum teridentifikasinya pihak yang tepat untuk bernegosiasi. Hal ini berdasarkan laporan dari Atase Pertahanan Indonesia di Eropa. Selain itu, lokasi penyanderaan yang sering berpindah membuat pemantauan menjadi sulit. Nilai tebusan juga mengalami fluktuasi signifikan. Awalnya diminta sebesar 2 juta dolar AS, kemudian naik menjadi 5 juta dolar AS, dan terakhir mencapai 10 juta dolar AS.
Syamsu juga menekankan pentingnya optimasi struktur pertahanan Indonesia di luar negeri. Termasuk di dalamnya atase pertahanan dan unsur intelijen, agar dapat memberikan masukan serta langkah-langkah terukur. Perusahaan yang mempekerjakan para awak kapal menyatakan kesiapannya mengikuti keputusan yang diambil, meskipun memiliki keterbatasan finansial.
Bukti Video dan Koordinasi Pemerintah
Dalam rapat terakhir dengan Kementerian Luar Negeri, Syamsu menunjukkan rekaman video kepada para peserta. Video tersebut diterima dari Syamsuddin Ashari, ayah dari Kapten Ashari Samadikun. Rekaman ini menggambarkan kondisi para sandera saat ini.
“Saya memperlihatkan video, diputarkan ke semua. Waktu dia (korban) salat, waktu tapis minuman yang sudah keruh dari botol minuman mineral, serta pernyataan Ashari semua direkam video. Saya perlihatkan kepada Kemenlu, TNI supaya bisa membentuk task force. Itu dilaporkan supaya bisa berkoordinasi,” katanya.
Video tersebut diputar dalam pertemuan bersama TNI dan Kementerian Luar Negeri sebagai penguat koordinasi pembentukan satuan tugas. Syamsu berharap kehadiran pemerintah melalui pembentukan task force dapat memberikan kejelasan mengenai besaran tebusan dan langkah penyelamatan, dengan tetap mengutamakan keselamatan para WNI.
Pemohonan Keluarga dan Identitas Sandera
Sementara itu, Syamsuddin Ashari memohon agar pemerintah segera menyelamatkan putranya, Ashari Samadikun, beserta rekan-rekannya. Mereka telah disandera selama sekitar tiga bulan. Keluarga mengaku tidak menerima kabar selama hampir satu bulan terakhir, sehingga tidak mengetahui kondisi para korban maupun perkembangan penanganan kasus.
“Kami benar-benar tidak menerima kabar apa pun sehingga tidak mengetahui bagaimana kondisi mereka maupun perkembangan penanganan kasus ini. Informasi terakhir menyebutkan para awak sudah tidak berada di kapal, tetapi belum dapat dipastikan kebenarannya,” katanya.
Empat WNI yang disandera oleh perompak Somalia terdiri dari Kapten Ashari Samadikun asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan; Adi Faizal dari Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan; Wahudinanto asal Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah; serta Fiki Mutakin dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
