Sistem Koperasi Stabilkan Harga Kakao Petani Jembrana, Tembus Pasar Ekspor
Koperasi Kerta Semaya Samaniya bersama Yayasan Kalimajari kini menjadi pusat perhatian dalam pengembangan komoditas kakao di Kabupaten Jembrana. Keduanya
Koperasi dan Yayasan Kalimajari Jadi Sorotan dalam Pengembangan Kakao Jembrana
Kabarteras.com – Koperasi Kerta Semaya Samaniya bersama Yayasan Kalimajari kini menjadi pusat perhatian dalam pengembangan komoditas kakao di Kabupaten Jembrana. Keduanya berhasil membangun sistem yang mengawal petani dari hulu hingga hilir, sehingga menghasilkan produk berkualitas tinggi yang mampu menembus pasar internasional.
Pendampingan Menyeluruh Meningkatkan Produksi
Agung Widiastuti sebagai Direktur Kalimajari dan I Ketut Wiadnyana selaku Ketua Koperasi Kerta Semaya Samaniya menyoroti pentingnya pendekatan komprehensif dalam membina petani. Proses pendampingan dimulai sejak pemilihan bibit, dilanjutkan dengan penanaman, perawatan rutin, hingga tahap panen.
“Bibit kakao yang ditanam kami sesuaikan dengan kondisi tanah yang bisa jadi berbeda-beda. Kami juga mengajari petani melakukan treatment terhadap lahannya, agar sesuai dengan kebutuhan pohon kakao,” kata Widiastuti.
Untuk memastikan keakuratan treatment, tim melakukan pengambilan sampel tanah yang kemudian diuji di laboratorium. Hasil pengujian menjadi acuan dalam menentukan metode perawatan yang paling tepat untuk setiap lahan.
Petani Merasakan Manfaat Stabilitas Harga
Ketut Sudomo, petani kakao yang berdomisili di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, merasakan langsung dampak positif dari sistem koperasi. Ia menjelaskan bahwa stabilitas harga menjadi landasan kuat bagi petani dalam merencanakan kegiatan pertanian.
“Harga yang stabil tidak hanya menambah penghasilan kami, tapi juga bisa menjadi dasar perhitungan kami untuk menanam dan merawat pohon kakao,” katanya saat menerima kunjungan awak media yang mengikuti program Accelerating Consumer Transformation (ACT) and Sustainability in Indonesia, Kamis.
Dengan memiliki lahan seluas tiga hektare, Ketut Sudomo berhasil memproduksi lebih dari satu ton biji kakao kering setiap tahunnya. Pencapaian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap kesejahteraan keluarganya.
“Saat harga bagus seperti pada tahun 2024 dan 2025, hasil panen saya cukup besar. Dengan harga yang stabil dari koperasi, otomatis penghasilan saya sebagai petani juga lumayan besar,” ujar petani yang kerap menjadi rujukan di Kabupaten Jembrana itu.
Sistem Organik Menuju Standar Internasional
Petani binaan menerapkan sistem pertanian organik untuk menghasilkan kakao berkualitas tinggi. Melalui proses yang konsisten, kakao fermentasi Jembrana telah diakui sebagai salah satu produk terbaik di dunia. Ekspor komoditas ini telah dilakukan berulang kali.
Saat ini, sebanyak 750 petani kakao telah bergabung dalam koperasi. Seluruh anggota mendapatkan pendampingan intensif dari petugas koperasi. Fokus utama adalah pengolahan kakao fermentasi untuk kebutuhan ekspor, dengan proses pemilahan yang sangat ketat.
“Buah kakao yang tidak sehat atau terkontaminasi hama kami pisahkan dari buah yang sehat. Saat pengambilan biji, juga dicek lagi agar mendapatkan biji kakao yang benar-benar baik,” jelasnya.
Biji kakao yang telah melalui proses pemilahan kemudian dibawa ke lokasi fermentasi koperasi untuk diproses lebih lanjut sebelum dipasarkan.
Program ACT Mendukung Transformasi Konsumen
Pola koperasi yang mengawal petani dari hulu sampai hilir ini menarik perhatian berbagai pihak. Konsorsium yang bergabung dalam program Accelerating Consumer Transformation (ACT) and Sustainability in Indonesia, yang didukung oleh Uni Eropa, juga memberikan perhatian khusus.
Melalui program tersebut, mereka mendorong transformasi pola konsumsi konsumen Indonesia agar lebih sadar akan dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial. Terobosan dan pendampingan yang diakui dunia internasional ini menjadikan Koperasi Kerta Semaya Samaniya dan Yayasan Kalimajari sebagai rujukan utama komoditas kakao di Kabupaten Jembrana.
