Pemkab Merauke Tunggu Laporan Lengkap Penembakan Kapal Nelayan di Perairan PNG
Rekianus Samkakai, yang menjabat sebagai Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah Kabupaten Merauke, mengonfirmasi bahwa pihaknya masih menunggu rincian
Penungguan Laporan Resmi Atas Kasus Penembakan Kapal Nelayan di Wilayah Papua Nugini
Kabarteras.com – Rekianus Samkakai, yang menjabat sebagai Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah Kabupaten Merauke, mengonfirmasi bahwa pihaknya masih menunggu rincian lengkap seputar kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa proses koordinasi dengan berbagai pihak terkait sedang berlangsung untuk memperoleh keterangan resmi.
“Hingga saat ini kami masih menunggu laporan terkait penembakan yang menewaskan nakhoda kapal bernama Rizal,” ujar Rekianus saat dihubungi dari Jayapura, Sabtu.
Rincian Awal Insiden di Perairan PNG
Berdasarkan informasi awal yang masuk, tragedi itu bermula ketika KMN Sardi Utama 02 sedang menjalankan operasinya di perairan Papua Nugini. Setelah tembakan terjadi, jenazah nakhoda Rizal segera dipindahkan oleh para penyerang ke atas kapal motor milik mereka. Terungkap bahwa kelompok pelaku terdiri dari sekitar lima individu yang semuanya mengenakan pakaian berwarna hitam dan membawa senjata api.
Taufik Latarissa, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Papua Selatan, mengonfirmasi kebenaran informasi tersebut. Ia menambahkan bahwa para penyerang juga merampas seluruh perangkat komunikasi yang dimiliki awak kapal, termasuk handphone, lalu membawanya ke bagian belakang kapal.
Nasib Korban dan Upaya Koordinasi
Sebanyak tujuh Anak Buah Kapal (ABK) yang berada di KMN Sardi Utama 02 berhasil selamat dan tiba di Merauke pada tanggal 20 Juni 2026. Namun, nasib jenazah nakhoda Rizal masih belum jelas karena dibawa pergi oleh para pelaku penembakan.
Pemkab Merauke, melalui Badan Pengelola Perbatasan Daerah, terus melakukan komunikasi intensif dengan berbagai instansi. Koordinasi dilakukan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (Kedubes RI) di Port Moresby serta Konsulat RI di Vanimo untuk melacak keberadaan jenazah korban.
“Kami terus berkoordinasi dengan Kedubes RI di Port Moresby maupun Konsulat RI di Vanimo agar bisa mendapatkan laporan terkait keberadaan jenazah nakhoda KMN Sardi Utama 02,” tegas Rekianus Samkakai.
