Ketika yang Hijau Akhirnya Menjadi Jerami
Manusia kerap terjebak dalam kejar-kejaran tanpa henti. Kita berlari mengejar berbagai tujuan hingga lupa menoleh ke belakang dan bertanya: apa gunanya semua
Menyadari Batas-Batas Kehidupan Dunia
Kabarteras.com – Manusia kerap terjebak dalam kejar-kejaran tanpa henti. Kita berlari mengejar berbagai tujuan hingga lupa menoleh ke belakang dan bertanya: apa gunanya semua pencapaian itu? Bertahun-tahun berlalu untuk mengumpulkan kekayaan, menyempurnakan diri, dan memastikan posisi kita tetap aman di tengah orang lain. Namun, begitu satu hasrat terpenuhi, hasrat baru segera muncul menuntut perhatian.
Islam tidak pernah melarang umatnya bekerja keras, memiliki harta, atau menikmati hubungan keluarga. Yang menjadi masalah adalah ketika dunia berhenti menjadi sarana dan berubah menjadi tujuan akhir. Allah menggambarkan realitas ini dalam Surah Al-Hadid ayat 20 dengan citra tanaman yang awalnya hijau dan mempesona, kemudian menguning, kering, dan akhirnya hancur menjadi debu.
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
I‘lamū annamal-ḥayātud-dun-yā la‘ibuw wa lahwuw wa zīnatuw wa tafākhurum bainakum wa takāṡurun fil-amwāli wal-aulād. Kamaṡali gaiṡin a‘jabal-kuffāra nabātuhū ṡumma yahīju fa tarāhu muṣfarran ṡumma yakūnu ḥuṭāmā. Wa fil-ākhirati ‘ażābun syadīduw wa magfiratum minallāhi wa riḍwān. Wa mal-ḥayātud-dun-yā illā matā‘ul-gurūr.
Terjemahan ayat tersebut menyatakan bahwa hidup di dunia ini ibarat permainan, hiburan, perhiasan, ajang pamer, dan kompetisi memperbanyak harta serta keturunan. Analoginya seperti tanaman yang tumbuh subur setelah hujan, membuat para petani takjub. Namun, tanaman itu kemudian mengering, menguning, dan menjadi reruntuhan. Di sisi lain, akhirat menawarkan azab yang pedih maupun ampunan serta keridaan Ilahi. Kehidupan dunia pada hakikatnya hanyalah kenikmatan sementara yang menipu.
Pesan yang Terstruktur dengan Bijaksana
Ayat ini tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari seruan agar manusia tidak menjadi budak kehidupan fana. Setelah menggambarkan sifat sementara dunia, ayat berikutnya mengajak manusia berlomba meraih surga. Urutan ini sangat berarti: Al-Qur’an tidak sekadar mengingatkan tentang kefanaan, tetapi langsung menunjukkan arah yang benar bagi energi dan aspirasi manusia.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa melalui ayat ini Allah menegaskan rendahnya nilai dunia dibandingkan dengan kehidupan kekal di akhirat. Dunia digambarkan sebagai permainan, kelalaian, perhiasan, ajang saling membanggakan, dan kompetisi memperbanyak harta serta anak. Inilah wajah dunia ketika ia menguasai hati dan menjadi pusat segala keinginan.
Permainan menyibukkan seseorang dalam jangka waktu tertentu tanpa menghasilkan sesuatu yang abadi. Senda gurau mengalihkan perhatian dari urusan penting. Perhiasan memikat pandangan mata, namun keindahannya tidak bertahan selamanya. Saling berbangga membuat manusia menilai harga dirinya melalui mata orang lain. Sementara itu, perlombaan memperbanyak harta dan anak dapat mendorong seseorang merasa lebih unggul hanya karena memiliki lebih banyak daripada tetangganya.
Sang mufassir juga menghubungkan penjelasan ini dengan Surah Ali Imran ayat 14. Ayat tersebut menerangkan bahwa kecintaan terhadap berbagai kenikmatan, keluarga, kekayaan, kendaraan, ternak, dan lahan pertanian telah dibuat terasa indah bagi manusia. Namun, semua itu hanyalah kesenangan dunia, sedangkan tempat kembali terbaik ada di sisi Allah.
Keseimbangan dalam Mengukur Kehidupan
Masalahnya bukan pada keberadaan harta, keluarga, pekerjaan, atau jabatan. Masalah muncul ketika hal-hal tersebut menjadi tolak ukur mutlak kemuliaan. Ketika dunia menjadi satu-satunya kehidupan, manusia pun teralihkan dari ketaatan kepada Sang Pencipta.
Akhirnya, kita perlu menyadari bahwa semua pencapaian dunia ini hanyalah sementara. Yang kekal hanyalah apa yang kita persembahkan untuk kehidupan abadi.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Ketika yang Hijau Akhirnya Menjadi Jerami?
Ketika yang Hijau Akhirnya Menjadi Jerami is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Ketika yang Hijau Akhirnya Menjadi Jerami matter?
Ketika yang Hijau Akhirnya Menjadi Jerami matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
