Skip to content
News

Revitalisasi Kali Cakung Lama Retakkan Rumah dan Masjid, Warga Kelapa Gading Keluhkan Dampak Proyek

Jennifer Brown - kabarteras.com 4 mins read

Proyek normalisasi Kali Cakung Lama di kawasan Kelapa Gading telah menimbulkan berbagai keluhan dari masyarakat setempat. Keretakan pada bangunan-bangunan

Revitalisasi Kali Cakung Lama Retakkan Rumah dan Masjid, Warga Kelapa Gading Keluhkan Dampak Proyek

Warga Kelapa Gading Keluhkan Dampak Proyek Normalisasi

Kabarteras.com – Proyek normalisasi Kali Cakung Lama di kawasan Kelapa Gading telah menimbulkan berbagai keluhan dari masyarakat setempat. Keretakan pada bangunan-bangunan sekitar, termasuk masjid dan rumah warga, diduga kuat berkaitan dengan aktivitas konstruksi yang sedang berlangsung. Warga merasa proyek yang seharusnya memperbaiki kondisi kawasan justru menimbulkan masalah baru bagi mereka.

Muhammad Ridho, yang menjabat sebagai Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Jami Al-Husna, menyampaikan bahwa getaran dan beban alat berat turut memperparah kondisi struktur bangunan. Ia menambahkan bahwa proyek pemasangan turap juga memberikan dampak pada akses jalan di area masjid. Kondisi ini semakin membebani warga yang sudah lama menantikan perbaikan kawasan mereka.

“Selain itu saat pekerjaan banyak debu yang meresahkan warga. Kontur tanahnya masjid ini jadi miring, karena ini dilewati oleh alat berat,” kata Ridho di Jakarta, Kamis.

Kerusakan pada dinding dan jalan depan masjid menurut Ridho disebabkan oleh kombinasi faktor, mulai dari pengerjaan proyek normalisasi hingga lalu lintas kendaraan dan mesin berat yang terus melintas. Truk yang mengangkut sedimen lumpur beroperasi hampir setiap hari, sehingga permukaan jalan di sekitar lokasi mengalami penurunan. Hal ini tentu saja mengganggu aktivitas sehari-hari warga sekitar.

Di sisi lain, warga berharap pekerjaan revitalisasi dapat segera rampung. Mereka menginginkan kondisi kembali normal dan bangunan yang rusak diperbaiki sesuai dengan keadaan sebelumnya. Keteguhan hati warga untuk melihat perubahan positif di kawasan mereka masih kuat meskipun menghadapi berbagai kendala selama proses pembangunan.

“Kami warga ingin secepatnya rampung pengerjaan ini dan ingin seperti sedia kala, artinya diperbaiki seperti sedia kala,” ujar Ridho.

Meski mengakui adanya manfaat positif dari proyek ini, Ridho menilai bahwa kali yang akhirnya dikeruk dan diperbaiki tidak serta merta mengimbangi dampak negatif yang ditimbulkan. Ia menyayangkan kurangnya kepekaan dari pihak kontraktor terhadap kondisi bangunan di sekitarnya. Komunikasi yang lebih baik antara kontraktor dan warga diharapkan dapat mengurangi ketegangan yang ada.

“Jadi ada plusnya banyak, tapi negatifnya. Artinya manfaatnya juga banyak, dampaknya juga ada. Tapi harusnya mereka agak peka dalam proses pembangunan, lihat bangunan satu persatu,” kata Ridho.

Keluhan Warga dan Solusi yang Diharapkan

Roni, Ketua RW 03 Kelurahan Pegangsaan Dua, telah menerima sejumlah keluhan dari warga mengenai dampak proyek ini. Ia berharap kontraktor yang menangani proyek bersedia berdiskusi untuk menemukan solusi terbaik bagi masyarakat. Dialog terbuka antara semua pihak diyakini dapat menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan semua pihak.

“Kami ingin kontraktor ini duduk bareng, cari solusi terbaik seperti apa nanti,” katanya.

Menurut Roni, usulan perbaikan kali sebenarnya telah diajukan sejak tahun 2010 oleh warga, namun baru terealisasi pada saat ini. Kawasan tersebut memang sering mengalami banjir setiap musim hujan, sehingga revitalisasi sangat dinantikan oleh masyarakat. Ketekunan warga dalam menyampaikan aspirasi akhirnya membuahkan hasil yang diharapkan.

“Di sini tiap tahun banjir. Kalau usulan dari 2010 sudah, baru sekarang ini terlaksana,” ujarnya.

Sementara itu, tiga RT yang telah terdampak oleh pengerjaan revitalisasi adalah RT 06, RT 05, dan RT 04. Roni menjelaskan bahwa akses jalan yang sempit ditambah dengan lalu lintas alat berat menyebabkan beberapa rumah tersenggol dan asbes milik warga mengalami kerusakan. Kondisi ini tentu saja menambah beban finansial warga yang harus memperbaiki rumah mereka sendiri.

Sebelumnya, warga juga mengeluhkan pembangunan turap di Kali Cakung Lama yang mengakibatkan akses jalan warga terisolir. Proyek yang dikerjakan di dua sisi, yakni wilayah RW 10 Kelurahan Sukapura, Kecamatan Cilincing, dan RW 03 Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, ini juga menyebabkan rusaknya pipa PAM aliran air bersih milik warga. Kerusakan infrastruktur dasar ini semakin memperparah kondisi hidup warga sekitar.

Farid, Ketua RT 04/03 Kelurahan Pegangsaan Dua, menyayangkan progres proyek yang dinilainya lambat. Ia menyebutkan bahwa pengerjaan turap mulai dari wilayah RT 01-07/RW 03 Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading. Namun, setelah lebih dari lima bulan, proyek masih berjalan dengan kondisi yang belum optimal. Warga mulai merasa tidak sabar dengan lamanya waktu pengerjaan.

“Pengerjaan turap mulai dari wilayah RT 01-07/RW 03 Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading. Cuma persoalannya sudah 5 bulan lebih dan sampai hari ini masih mangkrak seperti ini,” katanya.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Proyek Normalisasi

Berapa lama proyek normalisasi Kali Cakung Lama berlangsung? Proyek ini telah berlangsung lebih dari lima bulan sejak pengerjaan turap dimulai di wilayah RT 01-07/RW 03 Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading.

Apa saja dampak utama yang dirasakan warga? Dampak utama meliputi keretakan rumah dan masjid, kerusakan asbes, rusaknya pipa PAM, serta terisolirnya akses jalan warga.

Kapan usulan perbaikan kali pertama kali diajukan? Usulan perbaikan kali sebenarnya telah diajukan sejak tahun 2010 oleh warga, namun baru terealisasi pada saat ini.

Wilayah mana saja yang terdampak proyek ini? Proyek dikerjakan di dua sisi, yakni wilayah RW 10 Kelurahan Sukapura, Kecamatan Cilincing, dan RW 03 Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading.

Join the discussion