Empati dan Etika: Jantung Kepercayaan dalam Pelayanan Kesehatan
Oleh: DR Cashtry Meher (Kepala Bidang Humas Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI); Board of Experts PRASASTI Center for Policy Studies; Member of
Empati dan Etika: Jantung Kepercayaan dalam Pelayanan Kesehatan
Kabarteras.com – Oleh: DR Cashtry Meher (Kepala Bidang Humas Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI); Board of Experts PRASASTI Center for Policy Studies; Member of Bina Astacita Center)
Transformasi sistem kesehatan Indonesia terus bergerak ke arah yang lebih maju. Pembangunan rumah sakit, penguatan layanan primer, digitalisasi kesehatan, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, hingga pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting dari agenda besar tersebut. Namun terdapat satu fondasi yang sering luput dari perhatian, padahal menentukan keberhasilan seluruh sistem kesehatan, yaitu infrastruktur kepercayaan.
Infrastruktur kepercayaan tidak dibangun dari beton, baja, atau perangkat digital. Melainkan dibangun melalui kompetensi, integritas, etika, komunikasi, dan empati yang dirasakan masyarakat dalam setiap interaksi dengan tenaga kesehatan.
Mengapa Kepercayaan Publik Menjadi Prioritas
Ketika fondasi ini kokoh, pelayanan kesehatan menjadi lebih efektif. Sebaliknya, ketika denyut kepercayaan melemah, teknologi terbaik sekalipun tidak mampu sepenuhnya mengembalikan keyakinan masyarakat terhadap sistem kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan people-centred care sebagai salah satu fondasi penguatan sistem kesehatan. Sementara National Academy of Medicine memasukkan patient-centered care sebagai salah satu dimensi utama mutu pelayanan.
Pesan yang ingin disampaikan keduanya sederhana tetapi sangat mendasar yaitu keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari keberhasilan klinis, tetapi juga dari bagaimana sistem memperlakukan setiap pasien sebagai manusia yang memiliki martabat.
Empati dalam Praktik Klinis Sehari-hari
Di ruang praktik, seorang pasien tidak pernah datang hanya membawa hasil pemeriksaan laboratorium atau daftar keluhan. Namun juga datang membawa kecemasan, harapan, dan pertanyaan yang sering kali tidak seluruhnya dapat dijawab oleh teknologi. Pada saat itulah kompetensi klinis bertemu dengan empati. Dan pada titik itulah kepercayaan mulai dibangun.
Dalam konteks itulah, perhatian publik terhadap komentar sejumlah tenaga kesehatan terhadap seorang pasien di media sosial perlu dimaknai sebagai momentum refleksi bersama. Proses etik yang sedang berjalan harus dihormati sesuai mekanisme yang berlaku.
Namun, di luar proses tersebut, terdapat pelajaran yang jauh lebih penting bagi seluruh ekosistem kesehatan Indonesia, yakni bagaimana menjaga kepercayaan masyarakat terhadap profesi kesehatan di era komunikasi digital.
Keprihatinan Menteri Kesehatan yang menyampaikan rasa sedih atas munculnya komentar nir-empati dari sebagian tenaga kesehatan, serta ajakan Pengurus Besar IDI agar peristiwa ini dijadikan momentum memperkuat etika profesi, menunjukkan bahwa persoalan ini dipahami melampaui perilaku individu.
Keduanya mengarah pada satu pesan yang sama, yakni pelayanan kesehatan tidak cukup dibangun oleh kompetensi klinis, tetapi juga oleh kepercayaan yang lahir dari empati, etika, dan profesionalisme. Di sinilah momentum tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat sistem, bukan sekadar mencari siapa yang patut disalahkan.
Pada saat yang sama, mekanisme yang dijalankan oleh Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) menunjukkan bahwa setiap dugaan pelanggaran etik dan disiplin memiliki ruang penyelesaian yang jelas dalam sistem. Dengan demikian, empati, etika, dan akuntabilitas bukan sekadar nilai moral, tetapi bagian dari tata kelola pelayanan kesehatan yang harus berjalan secara beriringan.
Kepercayaan publik tidak lahir karena profesi kesehatan tidak pernah menghadapi keterbatasan atau kesalahan. Kepercayaan tumbuh karena masyarakat yakin bahwa setiap tenaga kesehatan akan menghadapi setiap persoalan dengan kompetensi, kejujuran, akuntabilitas, dan penghormatan terhadap martabat pasien.
Di sinilah empati memperoleh makna strategis. Selama ini empati sering dipahami sebagai soft skill atau sekadar kualitas personal. Pandangan tersebut perlu diperluas. Empati bukan sekadar soft skill.
Dalam praktik klinis, empati bukan tambahan setelah diagnosis ditegakkan. Melainkan bagian dari proses klinis itu sendiri. Melalui empati, tenaga kesehatan memahami bukan hanya penyakit yang diderita pasien, tetapi juga kecemasan, nilai, dan harapan yang menyertai penyakit tersebut.
Komunikasi yang empatik membangun hubungan terapeutik, meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi, mengurangi kesalahpahaman, memperkuat pengambilan keputusan bersama, serta meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga. Dengan demikian, komunikasi empatik bukan pelengkap pelayanan kesehatan. Melainkan fondasi yang tak terpisahkan dari setiap interaksi klinis yang bermakna.
“Pelayanan kesehatan tidak cukup dibangun oleh kompetensi klinis, tetapi juga oleh kepercayaan yang lahir dari empati, etika, dan profesionalisme.”
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Empati dan Etika dalam Kesehatan
Apa perbedaan antara empati dan simpati dalam konteks pelayanan kesehatan?
Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain dari perspektif mereka, sedangkan simpati lebih bersifat perasaan kasihan. Dalam pelayanan kesehatan, empati memungkinkan tenaga kesehatan terhubung secara mendalam dengan pengalaman pasien.
Bagaimana etika profesi kesehatan dapat dipertahankan di era media sosial?
Etika profesi dapat dipertahankan melalui edukasi berkelanjutan, penegakan kode etik yang konsisten, dan kesadaran bahwa setiap interaksi di media sosial mencerminkan profesionalisme. Mekanisme pelaporan dan penyelesaian pelanggaran juga perlu diperkuat.
Apakah empati dapat diukur dalam evaluasi kinerja tenaga kesehatan?
Ya, empati dapat diukur melalui survei kepuasan pasien, observasi langsung, dan penilaian 360 derajat. Beberapa institusi kesehatan telah mengembangkan instrumen evaluasi yang mencakup dimensi empati sebagai bagian dari kompetensi klinis.
Bagaimana peran institusi pendidikan dalam membentuk tenaga kesehatan yang berempati?
Institusi pendidikan berperan melalui kurikulum yang mengintegrasikan komunikasi terapeutik, pelatihan simulasi, dan refleksi klinis. Pendekatan ini membantu mahasiswa kedokteran dan profesi kesehatan lainnya mengembangkan empati sejak dini.
Untuk informasi lebih lanjut tentang pengembangan sistem kesehatan Indonesia, Anda dapat mengunjungi artikel lengkap di Republika.
