Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Raih Sertifikasi Terminal Hijau
PT Pertamina (Persero) kembali mencatatkan prestasi dalam perjalanan transformasi bisnis berkelanjutan. Melalui PT Pertamina Energy Terminal (PET), anak usaha
Pertama di Dunia Terminal LPG Tanjung Raih Sertifikasi Hijau
Kabarteras.com – PT Pertamina (Persero) kembali mencatatkan prestasi dalam perjalanan transformasi bisnis berkelanjutan. Melalui PT Pertamina Energy Terminal (PET), anak usaha PT Pertamina International Shipping (PIS), Terminal LPG Tanjung Sekong resmi menerima Green Terminal Label Certification (GTLC) bintang 2 dari lembaga sertifikasi Bureau Veritas (BV).
Keberhasilan ini menempatkan Tanjung Sekong sebagai terminal LPG pertama di Indonesia maupun dunia yang meraih predikat istimewa tersebut. Upacara penyerahan sertifikat berlangsung dalam acara Closing Ceremony Green Terminal Label Certification yang digelar di Grand Ballroom PIS pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Sebuah Tonggak Penting bagi Industri Energi
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan momen bersejarah bagi Pertamina dan Indonesia dalam mendorong pengelolaan terminal energi yang lebih ramah lingkungan.
“Sertifikasi ini menjadi kebanggaan bagi Pertamina, dan juga bagi Indonesia karena pertama kalinya sebuah terminal LPG mendapatkan sertifikasi Green Terminal Label bintang 2. Ini menunjukkan transformasi Pertamina dalam membangun bisnis yang berkelanjutan bagi masa depan perusahaan maupun lingkungan,” ujar Agung.
Nilai strategis dari pencapaian ini terletak pada penerapan standar Green Terminal pada fasilitas energi dengan karakteristik risiko tinggi, khususnya dalam kegiatan penyimpanan dan penanganan LPG. Perlu diketahui, sebagian besar terminal lain yang telah memperoleh sertifikasi GTLC merupakan pelabuhan umum atau terminal peti kemas.
Menurut Agung, sertifikasi tersebut mencerminkan kemampuan Pertamina dalam mengintegrasikan keandalan operasional dengan prinsip keberlanjutan.
“Pencapaian ini membuktikan bahwa Terminal LPG Tanjung Sekong tidak hanya beroperasi secara andal, tetapi juga telah menerapkan sistem operasional berkelanjutan yang mencakup aspek energi, lingkungan, digitalisasi, keselamatan, hingga komitmen terhadap pengurangan emisi karbon,” kata Agung.
Integrasi Energi Terbarukan dan Hidrogen Hijau
Salah satu pengembangan utama dalam program Green Terminal Tanjung Sekong adalah integrasi energi terbarukan melalui pemanfaatan energi surya dan rencana penggunaan hidrogen hijau. Pertamina tengah mengembangkan fasilitas produksi hidrogen hijau berbasis panas bumi oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. di Ulubelu, Lampung, dengan kapasitas produksi hingga sekitar 100 kilogram per hari menggunakan teknologi elektrolisis Anion Exchange Membrane (AEM).
Hidrogen tersebut direncanakan akan dimanfaatkan di Terminal LPG Tanjung Sekong sebagai bagian dari pengembangan ekosistem hidrogen Pertamina dari hulu hingga hilir. Integrasi energi dari sumber hidrogen hijau tersebut ditujukan untuk meningkatkan porsi pemanfaatan energi terbarukan pada kebutuhan listrik terminal.
Agung menambahkan, bahwa penerapan standar Green Terminal pada fasilitas penyimpanan dan penanganan LPG dapat menjadi referensi bagi pengembangan terminal minyak, gas, LNG, dan LPG lainnya, khususnya di lingkungan Pertamina Group.
Pertamina menargetkan enam fasilitas terminalnya juga memperoleh Green Terminal Label di masa depan, di antaranya Terminal LPG Tuban, Fuel Terminal Baubau, Fuel Terminal Kotabaru, dan Integrated Terminal Tanjung Uban.
“Kami ingin mereplikasi konsep Green Terminal ini ke terminal-terminal lainnya sehingga semakin banyak fasilitas Pertamina yang beroperasi dengan prinsip keberlanjutan. Keunggulan Pertamina sebagai perusahaan energi yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir menjadi modal utama dalam mempercepat transisi energi. Sehingga ini menjadi sesuatu yang menjadi nilai tambah, keunikan, kekhasan Pertamina sehingga sustainability tadi bisa dicapai, dan dengan kolaborasi antar perusahaan semua bisa dicapai,” kata dia.
Kapasitas dan Proses Sertifikasi
Terminal LPG Tanjung Sekong berlokasi di Cilegon, Banten, dan berperan sebagai salah satu pusat energi strategis yang mendukung penerimaan, penyimpanan, serta distribusi LPG kepada masyarakat dan industri. Terminal tersebut memiliki kapasitas penyimpanan sebesar 98.000 MT (Metrik Ton) atau 196.000 CBM (Cubic Meter), atau setara dengan 35-40% kebutuhan LPG Nasional dengan fasilitas jetty yang dapat melayani kapal berkapasitas sekitar 3.500 hingga 65.000 DWT (Deadweight Tonnage).
Proses sertifikasi sendiri dimulai sejak kick-off pada 11 Februari 2026, dilanjutkan dengan gap assessment and refreshment workshop, audit awal, serta audit final pada Juli 2026. Hasil audit final menunjukkan Terminal LPG Tanjung Sekong mendapatkan skor 78,86% dan mengantarkannya memperoleh sertifikasi Green Terminal Label bintang 2.
Frequently Asked Questions (FAQ)
Apa itu Green Terminal Label Certification (GTLC)? GTLC adalah sertifikasi internasional yang diberikan kepada terminal energi yang memenuhi standar keberlanjutan dalam operasional, lingkungan, dan pengelolaan emisi karbon.
Berapa skor yang dicapai Terminal LPG Tanjung Sekong? Terminal LPG Tanjung Sekong meraih skor 78,86% dalam proses sertifikasi GTLC bintang 2.
Kapan proses sertifikasi dimulai dan selesai? Proses sertifikasi dimulai pada 11 Februari 2026 dan selesai dengan audit final pada Juli 2026.
Apa rencana pengembangan hidrogen hijau di Tanjung Sekong? Pertamina mengembangkan fasilitas produksi hidrogen hijau berbasis panas bumi di Ulubelu, Lampung, dengan kapasitas 100 kilogram per hari menggunakan teknologi AEM.
Terminal apa saja yang ditargetkan mendapat sertifikasi GTLC selanjutnya? Pertamina menargetkan enam fasilitas terminal, termasuk Terminal LPG Tuban, Fuel Terminal Baubau, Fuel Terminal Kotabaru, dan Integrated Terminal Tanjung Uban.
