Skip to content
Khazanah

Key Discussion: Puluhan Kampus Islam dari Asia Berkumpul di UIN Jakarta, Dorong Perdamaian Dunia

Thomas Martinez - kabarteras.com 3 mins read

pus Islam Asia Kumpul di UIN Jakarta Dorong Perdamaian Dunia Key Discussion di UIN Jakarta menjadi ajang penting untuk menyatukan peran perguruan tinggi Islam

Key Discussion: Puluhan Kampus Islam dari Asia Berkumpul di UIN Jakarta, Dorong Perdamaian Dunia

Key Discussion: Puluhan Kampus Islam Asia Kumpul di UIN Jakarta Dorong Perdamaian Dunia

Key Discussion di UIN Jakarta menjadi ajang penting untuk menyatukan peran perguruan tinggi Islam di Asia dalam mendukung perdamaian global. Pada 23-25 Juni 2026, ribuan peserta dari puluhan kampus Islam di berbagai negara kembali berkumpul di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk diskusi mengenai strategi penguatan kemitraan pendidikan tinggi, pengembangan kebijakan bersama, serta kolaborasi dalam menghadapi tantangan geopolitik. Acara yang diadakan sebagai International Seminar dan The 15th Annual General Meeting (AGM) Asian Islamic Universities Association (AIUA) bertujuan memperkuat konsensus tentang peran universitas Islam dalam membangun harmoni antarbangsa.

Agenda dan Tema Kegiatan

Dalam Key Discussion tersebut, peserta menjelajahi berbagai tema kritis, termasuk peran pendidikan tinggi dalam menciptakan ruang dialog antarumat beragama, peningkatan kapasitas akademik untuk penelitian lintas budaya, serta pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai perdamaian. Rector UIN Jakarta, Prof Asep Saepudin Jahar, menjelaskan bahwa diskusi ini didesain untuk menghasilkan rekomendasi konkrit yang bisa diterapkan di tingkat lokal dan internasional. “Kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga pilar untuk menghasilkan pemimpin yang mampu membangun iklim damai di masyarakat,” ujarnya.

“Dalam Key Discussion, kita fokus pada bagaimana institusi pendidikan Islam bisa menjadi motor penggerak perdamaian di tengah dinamika konflik yang mengancam kestabilan kawasan Asia Tenggara,” tambah Prof Asep saat menyampaikan pidato pembukaan. Ia menegaskan bahwa AIUA berkomitmen untuk menjadi wadah yang mendukung kebijakan inklusif dan berkembang dalam mendekatkan masyarakat beragama.

Acara ini juga membahas isu-isu seperti peran universitas dalam menghadapi kesenjangan pendidikan, memperkuat kerja sama lintas negara, dan membangun jaringan riset yang mengutamakan keberlanjutan. Dalam Key Discussion, sejumlah usulan terkait penguatan organisasi AIUA dan pengembangan proyek-proyek kolaboratif di bidang pendidikan dan pengabdian masyarakat diungkapkan. Prof Asep menekankan bahwa langkah-langkah konkret seperti penyusunan deklarasi bersama akan menjadi fondasi untuk peningkatan kontribusi universitas Islam di ranah global.

Partisipasi dan Kontribusi Kampus

Kegiatan tahun ini menarik partisipasi dari lebih dari 40 universitas Islam di Indonesia dan 20 negara Asia lainnya, termasuk Thailand, Filipina, Malaysia, Brunei Darussalam, serta Singapura. Jumlah peserta mencapai ratusan, dengan berbagai representasi dari akademisi, alumni, dan lembaga pendidikan tinggi. Rector UIN Jakarta mengapresiasi partisipasi aktif kampus-kampus dari kawasan ASEAN, yang menurutnya menjadi fondasi keberhasilan agenda perdamaian di Asia.

“Key Discussion ini menunjukkan komitmen universitas Islam Asia untuk berpartisipasi aktif dalam menciptakan solusi perdamaian melalui pendidikan. Mereka berharap bisa membangun koordinasi lebih kuat untuk mengatasi perbedaan yang mungkin terjadi,” ujar Prof Asep. Ia juga menyebutkan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk kerja sama aktif dalam membentuk kebijakan global yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan.

Dalam forum tersebut, beberapa kampus menawarkan inisiatif spesifik, seperti pendirian program studi perdamaian internasional, pelatihan untuk dosen multikultural, serta peningkatan kolaborasi riset di bidang kemanusiaan. Rector UIN Jakarta menegaskan bahwa Key Discussion bertujuan memperkuat jaringan antaruniversitas dan menciptakan platform untuk berbagi pengalaman dalam menghadapi isu-isu seperti radikalisme, kesenjangan pendidikan, serta perubahan iklim. Hasil diskusi ini diharapkan menjadi acuan untuk program kerja AIUA di masa depan.

Join the discussion