WIKA Beton Pamerkan Teknologi Rumah Modular Tahan Gempa di Danantara Housing Expo
Indonesia menghadapi salah satu tantangan infrastruktur paling mendesak di dekade ini: jutaan keluarga masih membutuhkan hunian layak, sementara wilayah rawan
WIKA Beton Pamerkan Teknologi Rumah Modular WHOME
Kabarteras.com – Indonesia menghadapi salah satu tantangan infrastruktur paling mendesak di dekade ini: jutaan keluarga masih membutuhkan hunian layak, sementara wilayah rawan gempa menuntut standar konstruksi yang jauh melampaui bangunan konvensional. Di tengah tekanan waktu, keterbatasan logistik, dan kebutuhan material berkelanjutan, pendekatan pembangunan tradisional dinilai tidak lagi memadai.正是在 konteks inilah WIKA Beton, anak usaha PT Wijaya Karya (Persero), pamerkan teknologi rumah modular precast bernama WHOME dalam ajang Danantara Housing Expo 2026 di NICE PIK 2, Jakarta.
Dari Pabrik ke Lahan dalam Hitungan Hari
Inti WHOME terletak pada pemisahan proses produksi dan perakitan. Seluruh komponen struktur—balok, kolom, panel dinding, hingga elemen atap—diproduksi di fasilitas manufaktur dengan presisi tinggi, lalu diangkut ke lokasi untuk dirakit. Dengan skema ini, penyelesaian struktur utama satu unit hunian dapat dicapai dalam sekitar dua hari kerja, sementara seluruh tahapan hingga kondisi furnished membutuhkan kurang lebih sepuluh hari. Angka tersebut jauh lebih singkat dibanding siklus pembangunan konvensional yang kerap memakan waktu berbulan-bulan per unit.
Verly Widiantoro, Direktur Engineering and Production WIKA Beton, menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari kebutuhan mendesak menjawab tantangan kecepatan dalam pelaksanaan Program Tiga Juta Rumah. Dalam pernyataan resminya pada Ahad (30/8/2026), ia menegaskan:
“Kami memberikan dukungan agar Program Tiga Juta Rumah ini bisa terwujud. Dengan membangun secara masif, maka salah satu tantangannya adalah kecepatan. Inovasi WHOME ini mencoba menjawabnya.”
Sebelum diterapkan secara luas, WIKA Beton telah menjalankan dua kali uji lapangan untuk memvalidasi kinerja struktur dan proses perakitan di kondisi nyata. Hasil uji tersebut menjadi dasar bagi penerapan teknologi pada proyek berskala besar berikutnya.
Ketahanan Gempa dan Kepatuhan Standar Nasional
Kecepatan pembangunan tidak boleh mengorbankan keselamatan penghuni. WHOME dikembangkan dengan memperhatikan perilaku struktur saat menerima beban gempa. Proses riset dan pengembangan melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara langsung, sehingga aspek dinamis struktur—mulai dari respons spektrum hingga detail sambungan—dianalisis secara ilmiah. Seluruh parameter teknis mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku untuk bangunan tahan gempa.
Kolaborasi dengan BRIN menyediakan kerangka metodologi pengujian, pemodelan numerik, dan verifikasi kinerja struktur yang memastikan setiap unit memenuhi ambang batas keamanan sebelum dipasang di lapangan. Bagi wilayah seperti Aceh, Sumatra Utara, atau Sulawesi yang berada di zona subduksi lempeng, jaminan ketahanan gempa menjadi prasyarat mutlak bagi keberlangsungan program perumahan nasional.
Material Sisa Industri sebagai Fondasi Konsep Hijau
Aspek keberlanjutan WHOME tidak berhenti pada efisiensi waktu. WIKA Beton mengintegrasikan material sisa industri ke dalam campuran beton dan elemen struktural. Fly ash—abu terbang dari pembangkit listrik tenaga uap berbahan batu bara—serta slag, limbah peleburan besi, dimanfaatkan sebagai substitusi parsial semen Portland. Langkah ini mengurangi jejak karbon produksi material sekaligus memberi nilai tambah pada limbah yang sebelumnya menumpuk di tempat pembuangan akhir.
“Jadi kami memanfaatkan barang-barang limbah, sehingga itu fitur green-nya.”
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular yang semakin diadopsi di sektor konstruksi global. Dengan mengurangi ketergantungan pada bahan baku perawan dan menurunkan volume limbah industri, WHOME menawarkan model pembangunan yang lebih ringan secara ekologis tanpa mengorbankan kekuatan mekanik struktur.
Aplikasi Lapangan: Aceh Tamiang dan Konsep Mobile Plant
Salah satu implementasi nyata WHOME telah berjalan di Aceh Tamiang, kawasan yang menghadapi keterbatasan akses kendaraan berat, minimnya infrastruktur permukiman pekerja, serta keterbatasan pasokan air untuk proses konstruksi basah. Kondisi geografis dan logistik semacam ini membuat metode konvensional menjadi tidak efisien atau bahkan tidak feasible.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, WIKA Beton menerapkan konsep mobile plant—fasilitas produksi modular yang ditempatkan relatif dekat dengan lokasi proyek sehingga jarak pengangkutan komponen menjadi sangat pendek. Dengan konfigurasi ini, kapasitas produksi untuk proyek di kawasan terpencil dapat terpenuhi tanpa bergantung pada rantai pasok jarak jauh yang rentan terhadap cuaca dan kerusakan infrastruktur jalan.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang WHOME
Apakah rumah modular WHOME aman untuk wilayah rawan gempa? Ya. Setiap unit dirancang dan diuji sesuai SNI bangunan tahan gempa dengan dukungan pemodelan numerik dari BRIN. Dua kali uji lapangan telah dilakukan sebelum penerapan skala besar.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun satu unit? Struktur utama selesai dalam sekitar dua hari kerja; seluruh tahapan hingga kondisi furnished membutuhkan kurang lebih sepuluh hari, jauh lebih singkat dibanding metode konvensional.
Apakah penggunaan limbah industri menurunkan kekuatan struktur? Tidak. Fly ash dan slag digunakan sebagai substitusi parsial semen Portland dalam proporsi yang telah divalidasi secara laboratorium dan lapangan, sehingga kekuatan mekanik tetap memenuhi standar SNI.
Di mana teknologi ini sudah diterapkan? Implementasi nyata telah berjalan di Aceh Tamiang menggunakan konsep mobile plant untuk mengatasi keterbatasan logistik di kawasan terpencil.
