Ekonomi Syariah

IPB University Kenalkan Model Pengukur Kemiskinan dan Kesejahteraan CIBEST di Pesantren

260901184804-829

IPB University Kenalkan Model Pengukur CIBEST

Kabarteras.com – Pada Ahad, 10 Agustus 2026, rombongan akademisi dari IPB University mengenalkan model pengukur kemiskinan dan kesejahteraan bernama CIBEST kepada 50 santri jenjang SMP dan SMA di Pondok Pesantren Quran Kayuwalang, Kota Cirebon. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) yang menyasar pendidikan nonformal. CIBEST dikembangkan oleh Irfan Syauqi Beik dan Laily Dwi Arsyianti, dan telah lama menjadi rujukan dalam pengelolaan zakat di berbagai lembaga amil.

Dua Dimensi: Material dan Spiritual

Irfan Syauqi Beik, Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB, menjadi pembicara utama. Ia menjelaskan bahwa instrumen tersebut tidak berhenti pada pengukuran pendapatan atau kepemilikan aset, melainkan juga menimbang dimensi spiritual sebagai penanda kesejahteraan. Pendekatan ganda ini membedakannya dari instrumen kemiskinan konvensional yang umumnya bersifat monodimensi.

“Dalam kunjungan kami ke pesantren, pemahaman terhadap model CIBEST terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan para santri. Kemampuan mereka dalam menalar sangat luar biasa. Ini menjadi salah satu alasan ikhtiar kami untuk memperkenalkan salah satu knowledge product IPB yang telah digunakan secara luas, terutama dalam dunia perzakatan.”

Irfan menambahkan bahwa sosialisasi kerangka pengukuran ini di lingkungan pesantren memiliki keselarasan alami dengan kurikulum keagamaan yang sudah berjalan. Ajaran Islam yang diajarkan secara holistik dapat disinergikan dengan prinsip ekonomi syariah terkandung di dalamnya, sehingga santri memperoleh bekal ganda: pemahaman teologis sekaligus kompetensi ekonomi.

Pesantren sebagai Aktor Ekonomi

Laily Dwi Arsyianti, Direktur CIBEST, menekankan posisi strategis pesantren dalam ekosistem ekonomi lokal. Tanpa pengenalan yang memadai terhadap instrumen semacam ini, potensi pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren akan tetap terbatas.

“Pesantren adalah aktor ekonomi yang sangat penting, karena itu Model CIBEST perlu diperkenalkan kepada pesantren secara lebih luas. Harapannya para kyai dan santri bisa mengintegrasikannya ke dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat berbasis pesantren.”

Kegiatan tersebut juga melibatkan Rahmat Yanuar selaku Sekretaris CIBEST beserta sejumlah asisten akademik. Kehadiran mereka menegaskan bahwa program ini bukan kunjungan seremonial, melainkan bagian dari agenda institusional yang terstruktur.

Tiga Tahun Sinergi Kampus–Pesantren

Rahmat Yanuar menjelaskan bahwa edukasi kerangka pengukuran ini ke lingkungan pesantren telah berjalan selama tiga tahun berturut-turut. Sebelum tiba di Cirebon, program serupa sudah dilaksanakan di Lombok dan Yogyakarta. Konsistensi temporal tersebut menunjukkan komitmen jangka panjang IPB dalam menjembatani dunia akademik dan institusi pendidikan keagamaan tradisional.

“Tahun ini adalah tahun ketiga edukasi Model CIBEST ke pesantren. Sebelumnya di Lombok dan Yogyakarta. Harapannya agar kampus dan pesantren bisa terus bersinergi dan saling memperkuat.”

Suara Santri

Muhammad Gaza, santri kelas 12 Pondok Quran Kayuwalang, menyatakan bahwa kunjungan tersebut memperkaya pengetahuannya, khususnya mengenai mekanisme alokasi zakat dan prinsip ekonomi syariah yang aplikatif.

“Dengan kedatangan IPB University, ilmu saya semakin bertambah, baik dari sisi ekonomi, alokasi zakat, maupun hal-hal lainnya. Program ini mengajarkan bagaimana pengalokasian zakat dapat dilakukan secara efektif dan memberikan dampak kepada masyarakat.”

FAQ

Apa itu model CIBEST dan siapa pengembangnya?

CIBEST adalah kerangka pengukuran kemiskinan dan kesejahteraan yang dikembangkan oleh Irfan Syauqi Beik dan Laily Dwi Arsyianti di lingkungan IPB. Berbeda dengan instrumen konvensional, model ini mencakup dua dimensi sekaligus: material (pendapatan, aset) dan spiritual (kesejahteraan non-material). Model ini telah diadopsi oleh berbagai lembaga amil zakat sebagai acuan dalam penentuan sasaran penerima manfaat.

Siapa saja yang mengikuti kegiatan di Pondok Pesantren Quran Kayuwalang?

Sebanyak 50 santri jenjang SMP dan SMA menjadi peserta langsung. Dari sisi penyelenggara, kegiatan melibatkan Irfan Syauqi Beik (Dekan FEM), Laily Dwi Arsyianti (Direktur CIBEST), Rahmat Yanuar (Sekretaris CIBEST), serta sejumlah asisten akademik.

Apakah kegiatan ini bersifat satu kali atau berkelanjutan?

Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda tiga tahun berturut-turut. Sebelum Cirebon, edukasi serupa telah dilaksanakan di Lombok dan Yogyakarta. Program ini dirancang sebagai sinergi jangka panjang antara kampus dan pesantren, bukan kunjungan satu kali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *