INDEF Dorong Percepatan PLTS 100 GWp dan Pembenahan Hilirisasi
Kabarteras.com – Pemerintah didorong segera mengubah pembentukan Kementerian Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi menjadi langkah kerja yang terukur. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai kementerian baru tersebut perlu memiliki sasaran, batas waktu, serta pola koordinasi lintas kementerian yang jelas agar hambatan transisi energi dan hilirisasi dapat ditangani lebih cepat.
Direktur INDEF Green Transition Initiative, Imaduddin Abdullah, memandang keberadaan kementerian koordinator sebagai sinyal komitmen politik untuk memperkuat transisi energi, industrialisasi hijau, dan pengolahan sumber daya di dalam negeri. Tantangan berikutnya adalah memastikan komitmen itu hadir dalam kebijakan yang tersambung dari perencanaan sampai pelaksanaan.
“Terbentuknya kementerian koordinator ini menjadi salah satu peluang untuk Indonesia semakin maju di bidang transisi energi dan hilirisasi,” ujar Imaduddin di Jakarta, dikutip Ahad (4/10/2026).
PLTS 100 GWp Memerlukan Kerja Bersama
Salah satu agenda besar yang membutuhkan pengawalan lintas sektor ialah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya berkapasitas 100 gigawatt peak atau GWp. Target ini tidak hanya berkaitan dengan pembangunan panel surya, melainkan juga kesiapan kebijakan industri, perencanaan sistem energi, tata ruang, jaringan listrik, infrastruktur, dan pembiayaan.
Dalam praktiknya, proyek energi surya berskala besar dapat tersendat bila akses lahan belum siap, jaringan belum mampu menyalurkan listrik, atau proses pengadaan energi terbarukan belum memiliki kepastian. Karena itu, peran kementerian koordinator dipandang penting untuk menyatukan keputusan yang berada di berbagai instansi.
Pengembangan PLTS juga dapat dikaitkan dengan kebutuhan kawasan industri. Kawasan industri merupakan pusat konsumsi listrik yang besar dan berpotensi menjadi pasar penting bagi pasokan energi bersih. Kajian INDEF Green Transition Initiative dan Systemiq menunjukkan delapan kawasan industri prioritas berpeluang menyerap listrik bersih sekitar 24 hingga 31 terawatt-hour per tahun.
Besaran kebutuhan tersebut setara dengan pembangkit surya berkapasitas sekitar 8 sampai 13 GW, atau kurang lebih 8 hingga 13 persen dari sasaran nasional 100 GWp. Angka ini menggambarkan bahwa sektor industri dapat menjadi salah satu penggerak awal permintaan energi bersih apabila berbagai prasyarat proyek dapat dipenuhi.
Namun, potensi tersebut belum otomatis berubah menjadi proyek yang berjalan. Kesiapan transmisi listrik, kepastian lahan, kelancaran perizinan, dan ketersediaan pembiayaan akan menentukan realisasinya. Penataan yang terpadu dapat membantu mengurangi jeda antara target nasional dan pembangunan nyata di lapangan.
REZ dan Penyelesaian Hambatan Regulasi
INDEF GTI mengusulkan agenda percepatan lintas kementerian yang memuat target serta tenggat waktu. Fokus utamanya meliputi pengurangan hambatan dalam pengadaan listrik terbarukan, kepastian sambungan ke jaringan, kesiapan lokasi proyek, dan penyusunan pola investasi maupun pembiayaan yang memadai.
Selain itu, diperlukan mekanisme eskalasi bagi proyek strategis yang tertahan oleh aturan saling tumpang tindih atau pembagian kewenangan yang belum selaras. Jalur penyelesaian semacam ini penting agar masalah yang muncul tidak berlarut-larut di tingkat administrasi.
Imaduddin menilai penyederhanaan proses birokrasi dapat membuka ruang lebih besar untuk pemanfaatan konsep Kawasan Energi Terbarukan atau Renewable Energy Zones (REZs). Pendekatan ini dapat membantu mengarahkan pengembangan energi bersih ke wilayah yang memiliki potensi sumber daya, kebutuhan infrastruktur, dan keterhubungan dengan pengguna listrik.
“Kementerian koordinator baru bisa memperluas potensi ini dengan penyederhanaan birokrasi melalui konsep Kawasan Energi Terbarukan/Renewable Energy Zones (REZs),” ujarnya.
Hilirisasi Harus Terhubung dari Hulu hingga Pasar
Di luar agenda energi, INDEF juga menekankan perlunya pembenahan strategi hilirisasi. Investasi pengolahan tidak cukup hanya berhenti pada pembangunan fasilitas produksi. Nilai tambah bagi ekonomi nasional baru dapat terbentuk secara maksimal jika perizinan, pasokan bahan baku, pembangunan pabrik, energi, dan akses pasar berjalan dalam satu rantai yang saling mendukung.
Keterlambatan pada satu bagian dapat menahan manfaat seluruh investasi. Kondisi ini terlihat dalam pengembangan industri mineral kritis, yang masih menghadapi persoalan izin, kebutuhan infrastruktur energi, serta risiko kesinambungan bahan baku. Pada sejumlah tahapan pengolahan, terdapat pula kapasitas yang melebihi kebutuhan atau tidak sepenuhnya sejalan dengan pasokan dan pasar.
Ketidakseimbangan antara kapasitas produksi, bahan baku, dan permintaan pasar menunjukkan perlunya pengambilan kebijakan yang lebih menyeluruh. Koordinasi diperlukan bukan sekadar untuk mempercepat izin, tetapi juga untuk memastikan proyek industri dibangun dengan perhitungan rantai pasok dan tujuan pasar yang realistis.
Teknologi serta kesiapan tenaga kerja turut menjadi penentu keberhasilan pengolahan di dalam negeri. Tanpa keduanya, investasi yang telah masuk belum tentu segera menghasilkan kapasitas produksi yang diharapkan, penerimaan negara, kesempatan kerja, dan hubungan ekonomi antarsektor.
“Investasi sudah ditanamkan, tetapi kapasitas produksi, penerimaan negara, dan penciptaan lapangan kerja belum mencapai harapan. Hilirisasi membutuhkan dukungan lintas kementerian yang terarah, dari perizinan, energi dan akses pasar. Ketika satu mata rantai tertinggal, manfaatnya pun tidak optimal. Oleh sebab itu, peran kementerian koordinator sebagai orkestrator kebijakan menjadi penting,” ujar Imaduddin.
Dengan mandat koordinasi yang kuat, kementerian baru diharapkan dapat memastikan agenda energi bersih dan hilirisasi tidak berjalan sendiri-sendiri. Sasaran yang jelas, pemantauan tenggat, serta kemampuan menyelesaikan hambatan antarinstansi akan menjadi unsur penting agar proyek PLTS 100 GWp dan investasi pengolahan benar-benar memberi dampak ekonomi yang lebih luas.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is INDEF Minta Bahlil Akselerasi Proyek PLTS 100?
INDEF Minta Bahlil Akselerasi Proyek PLTS 100 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does INDEF Minta Bahlil Akselerasi Proyek PLTS 100 matter?
INDEF Minta Bahlil Akselerasi Proyek PLTS 100 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

