235 Paket School Kit Diterjunkan Lazismu untuk Anak-Anak SDK Dampek Pasca Gempa Manggarai Timur
Kabarteras.com – Getaran bumi yang mengguncang kawasan pesisir Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026, meninggalkan luka yang jauh melampaui kerusakan fisik bangunan. Di antara puing-puing sekolah dan rumah warga yang ambruk, anak-anak kehilangan akses paling mendasar terhadap pendidikan: buku, alat tulis, dan ruang belajar yang aman. Menyadari kondisi tersebut, Lazismu — lembaga amil zakat di bawah naungan Muhammadiyah — menyalurkan 235 paket perlengkapan sekolah (school kit) kepada para siswa Sekolah Dasar Katolik (SDK) Dampek sebagai bagian dari respons tanggap darurat.
Peninjauan Langsung oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Penyerahan bantuan ini tidak sekadar menjadi distribusi logistik. Pada Ahad, 6 September 2026, Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief, hadir langsung di lokasi pengungsian untuk menyapa para penyintas gempa, termasuk anak-anak yang menjadi penerima paket sekolah. Kehadiran pimpinan pusat ini sekaligus menjadi bentuk empati institusional terhadap komunitas yang tengah berjuang memulihkan kehidupan sehari-hari setelah bencana.
Di samping Hilman Latief, jajaran pimpinan Lazismu turut mendampingi proses distribusi. Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, serta Direktur Utama Lazismu Pusat, Barry Adhitya, memastikan bahwa setiap paket sampai ke tangan siswa secara tepat dan bermartabat. Paket yang dibagikan mencakup tas sekolah, tas pouch, buku tulis, buku gambar, pulpen, pensil, hingga krayon — seperangkat alat yang memungkinkan anak kembali menyentuh aktivitas belajar meskipun ruang kelas belum sepenuhnya pulih.
Kerusakan Parah pada Infrastruktur Sekolah
Data di lapangan menunjukkan bahwa episentrum gempa berada cukup dekat dengan area pesisir tempat SDK Dampek berdiri. Akibatnya, dampak struktural terhadap bangunan sekolah sangat signifikan. Dari total 13 ruang kelas yang dimiliki sekolah tersebut, sebanyak 10 ruang mengalami kerusakan berat dan tidak dapat ditempati. Hanya tiga ruang yang masih layak digunakan untuk menampung 11 rombongan belajar — sebuah angka yang berarti kepadatan kelas jauh melampaui standar normal dan menyulitkan proses pembelajaran yang kondusif.
Kepala Sekolah SDK Dampek, Bernadeta Hadia, mengungkapkan bahwa kondisi di lapangan jauh lebih parah dari sekadar retak dinding. Runtuhan bangunan dipadukan luapan air laut yang menerjang kawasan pesisir membuat seluruh isi ruang kelas — buku, seragam, dan perlengkapan pribadi siswa — hancur atau hanyut.
“Banyak rumah warga yang roboh total maupun sebagian,甚至 rumah di pesisir sempat kemasukan air laut sehingga seluruh perlengkapan anak-anak, termasuk buku dan seragam, tidak ada yang tersisa. Anak-anak sangat gembira menerima perlengkapan baru ini,” ujar Bernadeta.
Kondisi ini menegaskan bahwa distribusi perlengkapan sekolah bukan sekadar bantuan material, melainkan intervensi psikologis. Bagi anak yang baru kehilangan tempat tinggal dan lingkungan belajar, memiliki kembali buku dan alat tulis menjadi simbol bahwa kehidupan normal masih mungkin dipulihkan.
Dampak pada Siswa dan Proses Pemulihan
Bencana ini tidak hanya menghancurkan bangunan. Sejumlah siswa dilaporkan mengalami cedera akibat reruntuhan struktur, termasuk patah tulang dan luka di bagian kepala. Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan terdekat. Namun, dampak psikologis terhadap anak-anak yang menyaksikan atau mengalami langsung gempa serta evakuasi mendesak tetap menjadi perhatian utama pihak sekolah.
Masa tanggap darurat yang ditetapkan pemerintah masih berlaku hingga 12 September 2026. Selama periode tersebut, kegiatan belajar mengajar secara formal belum dapat berjalan optimal. Sebagai langkah transisi, pihak SDK Dampek mulai mendampingi siswa melalui aktivitas pemulihan trauma dengan pendekatan psikososial — antara lain menggambar bebas dan menuliskan pengalaman mereka selama berada di posko pengungsian. Metode ini membantu anak mengekspresikan ketakutan dan kebingungan tanpa harus melalui narasi verbal yang mungkin masih terlalu berat bagi mereka.
SDK Dampek: Sekolah Berprestasi yang Menanti Pemulihan
Sebelum gempa melanda, SDK Dampek dikenal sebagai sekolah yang aktif mencetak prestasi di tingkat kabupaten. Di antara pencapaiannya, sekolah ini meraih Juara Kabupaten untuk Tes Kemampuan Akademik (TKA) Bahasa Indonesia serta Juara 3 Stan Pameran pada Expo Pendidikan melalui inovasi pengolahan sampah plastik menjadi paving block. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa komunitas sekolah memiliki budaya akademik yang kuat dan kreativitas yang patut dijaga.
Hilman Latief, dalam kesempatan yang sama, menyampaikan motivasi agar para murid tetap mempertahankan semangat tinggi untuk menuntut ilmu. Pesan tersebut bukan sekadar retorika; bagi anak-anak yang baru kehilangan ruang kelas dan perlengkapan belajar, dorongan untuk kembali belajar menjadi jangkar psikologis yang menstabilkan harapan mereka di tengah ketidakpastian.
Penyaluran 235 paket school kit oleh Lazismu diharapkan menjadi langkah awal pemulihan aktivitas pendidikan di SDK Dampek. Dengan kembalinya akses terhadap alat tulis dan buku, anak-anak dapat segera kembali mengukir prestasi yang pernah mereka raih — bukan sebagai kenangan masa lalu, melainkan sebagai bukti bahwa pascabencana, kehidupan akademik masih memiliki ruang untuk tumbuh kembali.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Pascagempa Lazismu Salurkan 235 Paket School?
Pascagempa Lazismu Salurkan 235 Paket School is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Pascagempa Lazismu Salurkan 235 Paket School matter?
Pascagempa Lazismu Salurkan 235 Paket School matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

