Skor Baca Siswa RI Jauh di Bawah Rata-Rata OECD, Ini yang Harus Dibenahi
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) kembali menyoroti
Gap Literasi Membaca Indonesia: Skor PISA 2022 Jauh di Bawah Standar OECD
Kabarteras.com – Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) kembali menyoroti posisi literasi membaca pelajar Indonesia. Skor yang diraih siswa berusia 15 tahun di Tanah Air hanya menyentuh angka 359 poin, sementara rerata negara anggota OECD berada di level 476 poin. Selisih lebih dari seratus poin itu menegaskan bahwa kemampuan memahami, menilai, dan mengelola informasi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi generasi muda Indonesia.
Indikator Nasional yang Mulai Bergerak
Di balik angka PISA yang memprihatinkan, beberapa metrik domestik menunjukkan tren positif. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional pada 2024 naik menjadi 73,52, melampaui target 71,4 dan meninggalkan angka 69,42 pada tahun sebelumnya. Adapun Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) 2024 tercatat di posisi 72,44. Meski demikian, kenaikan tersebut belum cukup untuk menutup jurang kompetensi literasi yang tercermin dalam data PISA.
Anggota Komisi X DPR: Literasi Menyangkut Daya Saing Bangsa
Adela Kanasya Adies, anggota Komisi X DPR RI dari Partai Golkar, menegaskan bahwa literasi bukan sekadar urusan baca-tulis, melainkan fondasi daya saing generasi muda dalam berpikir kritis, mengevaluasi persoalan, dan mengelola arus informasi. Pernyataan itu ia sampaikan seusai kunjungan kerja spesifik Komisi X DPR RI di bidang perpustakaan dan literasi yang dilaksanakan di Jawa Timur.
“Untuk dapat meningkatkan literasi generasi muda, diperlukan berbagai dukungan dari berbagai pihak, baik pusat, daerah sampai dengan desa/kelurahan dan masyarakat. Selain itu dukungan penganggaran, ketersediaan SDM Pengelola perpustakaan, ketersediaan dan keterjangkauan buku-buku penopang literasi, pengembangan komunitas baca masyarakat, serta transformasi perpustakaan penting dilakukan.”
Komentar tersebut diucapkan Adela pada Senin (24/8/2026).
Ketimpangan Distribusi Perpustakaan
Sampai akhir 2024, jumlah perpustakaan di seluruh Indonesia mencapai sekitar 219.415 unit. Namun, sebaran fasilitas itu sangat timpang: Pulau Jawa menampung sekitar 44,49 persen dari total, sedangkan Papua hanya memperoleh sekitar 1,21 persen dan Maluku sekitar 1,78 persen.
“Ketimpangan distributif tersebut menunjukkan bahwa peningkatan literasi nasional juga harus menyasar dan merata ke seluruh perpustakaan daerah, desa/kelurahan, komunitas, serta wilayah 3T.”
Anggaran dan Kompetensi Pustakawan
Menurut Adela, pemerataan infrastruktur perpustakaan harus diiringi alokasi anggaran yang proporsional dengan kebutuhan riil di lapangan. Penguatan fiskal diperlukan agar kualitas layanan perpustakaan dan mutu sumber daya manusia pengelola dapat ditingkatkan secara simultan.
“Untuk meningkatkan kualitas literasi dan kualitas SDM generasi muda, diperlukan dukungan anggaran yang memadai bagi Perpustakaan Nasional. Komisi X DPR RI terus berkomitmen mendorong dan berupaya memenuhi kebutuhan anggaran yang memadai tersebut.”
Di sisi kompetensi tenaga profesional, Perpustakaan Nasional mencatat bahwa hingga 2026 sebanyak 5.565 pustakawan telah dinyatakan kompeten melalui mekanisme sertifikasi. Adela menilai penguatan profesionalisme tenaga perpustakaan tetap menjadi prasyarat agar kualitas layanan literasi masyarakat terus membaik.
Dorongan Pendekatan Sistematis
“Untuk meningkatkan literasi bagi generasi muda di Indonesia, diperlukan upaya yang sistematis dan terencana, yaitu selain aspek pengembangan budaya membaca dilakukan melalui Perpustakaan, juga diperlukan pengembagan literasi dengan memasukkan agenda literasi didalam kurikulum pembelajara di sekolah-sekolah dan kampus.”
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Skor Baca Siswa RI Jauh di Bawah?
Skor Baca Siswa RI Jauh di Bawah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Skor Baca Siswa RI Jauh di Bawah matter?
Skor Baca Siswa RI Jauh di Bawah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
