Bandung Siapkan Angkot Listrik sebagai Fondasi Ekonomi Digital Blockchain
Kabarteras.com – Pemerintah Kota Bandung menempatkan program Bandung Angkot Utama sebagai langkah awal dalam pembentukan ekosistem ekonomi digital berbasis blockchain. Inisiatif tersebut diarahkan melalui pembaruan transportasi umum, terutama penggunaan kendaraan listrik yang terintegrasi dengan layanan Bus Rapid Transit atau BRT.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyampaikan bahwa sektor transportasi dipilih karena dekat dengan aktivitas harian warga. Pengembangan kendaraan listrik tidak hanya berkaitan dengan pengadaan armada, melainkan juga menjadi ruang kolaborasi bagi sejumlah pihak dalam rantai layanan mobilitas perkotaan.
“Kota Bandung sedang membangun digital economy ecosystem berbasis blockchain. Ada enam pelaku yang terlibat. Entry point -nya adalah implementasi ekosistem transportasi listrik yang mendukung BRT,” ujar Farhan di Pendopo Kota Bandung, Rabu 16 September 2026.
Rantai Ekosistem Kendaraan Listrik
Konsep yang dipersiapkan mencakup lebih dari sekadar angkot listrik di jalanan. Ekosistem tersebut meliputi ketersediaan kendaraan, pengelolaan baterai, perawatan armada dan baterai, standar keselamatan, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum atau SPKLU, hingga suplai suku cadang.
Dengan cakupan tersebut, pengoperasian angkot listrik diharapkan dapat berjalan sebagai layanan transportasi yang memiliki dukungan teknis dan operasional yang memadai. Bagi pengguna, keberadaan sistem terintegrasi penting agar perpindahan dari satu moda ke moda lain dapat dilakukan dengan lebih praktis.
Bandung Angkot Utama dirancang menjadi bagian dari jaringan konektivitas kota. Layanan ini akan berperan sebagai angkutan pengumpan yang menghubungkan perjalanan warga dengan kereta cepat, kereta antarkota, jalan tol, penerbangan, BRT, serta moda angkutan listrik di tingkat lingkungan.
“Ini bagian dari konektivitas Bandung, dari high speed rail, kereta antarkota, jalan tol, penerbangan, BRT, dan electric angkot sebagai feeder,” katanya.
Pemerintah Berperan dalam Izin dan Pengawasan
Dalam skema yang disiapkan, Pemerintah Kota Bandung tidak akan menjadi pihak yang menjalankan bisnis pengadaan kendaraan. Armada akan disediakan oleh Kopamas melalui Agen Tunggal Pemegang Merek atau ATPM maupun penyedia kendaraan lainnya. Peran pemerintah difokuskan pada pemberian izin serta pengawasan terhadap pelaksanaan layanan.
“Pemerintah tidak boleh berbisnis. Jadi pengadaannya oleh Kopamas, membeli dari ATPM atau provider. Pemerintah hanya memberikan izin dan melakukan enforcement,” ujarnya.
Pembagian peran ini menempatkan pemerintah sebagai pengatur dan pengawas, sementara pelaku transportasi menjalankan penyediaan armada. Dalam layanan publik, pengawasan menjadi unsur penting untuk memastikan kendaraan yang beroperasi memenuhi ketentuan serta memberikan pelayanan yang aman bagi penumpang.
Peremajaan Armada Tanpa Menggeser Pengemudi
Transformasi menuju angkot listrik juga dipastikan tidak dimaksudkan untuk menyingkirkan pengemudi angkot yang telah bekerja selama ini. Program tersebut diposisikan sebagai peremajaan kendaraan yang sudah beroperasi, dengan pengemudi tetap berasal dari pelaku lama di sektor angkutan kota.
“Angkot listrik ini tidak menggerus angkot yang sudah ada. Ini mengganti atau melakukan peremajaan kendaraan yang sudah ada. Sopirnya tetap pemain lama,” kata Farhan.
Selain pembaruan armada, pola kerja pengemudi akan mengalami perubahan. Sistem bergaji diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada praktik kejar setoran. Dengan demikian, kebiasaan mengetem yang selama ini kerap muncul dalam operasional angkot dapat ditekan, sementara perhatian pengemudi dapat lebih diarahkan pada kualitas perjalanan dan pelayanan penumpang.
Tarif Bandung Angkot Utama ditetapkan sebesar Rp7.000 sesuai ketentuan yang berlaku. Pembayaran akan menggunakan sistem nontunai. Armada juga dirancang menyediakan pendingin udara, akses Wi-Fi, CCTV, serta kursi prioritas bagi penyandang disabilitas.
Fasilitas tersebut menunjukkan bahwa peremajaan angkutan tidak hanya menyasar penggunaan tenaga listrik. Kenyamanan, keamanan, kemudahan pembayaran, dan aksesibilitas bagi seluruh kelompok penumpang juga menjadi bagian dari rancangan layanan. Kehadiran CCTV, misalnya, dapat mendukung pengawasan di dalam kendaraan, sedangkan kursi prioritas memberi perhatian pada kebutuhan penumpang yang memerlukan akses khusus.
Kopamas Mulai Uji Coba Armada Listrik
Ketua Kopamas Kota Bandung Budi Kurnia menyatakan kesiapan organisasinya untuk terlibat dalam pembaruan angkutan kota melalui kendaraan listrik. Saat ini Kopamas memiliki sekitar 475 unit angkutan.
Dari jumlah tersebut, dua kendaraan listrik telah digunakan dalam tahap uji coba. Salah satu unit bahkan sudah memperoleh izin untuk memasuki dan beroperasi di kawasan Bandara Internasional Husein Sastranegara. Kendaraan itu telah menjalani operasional selama kurang lebih satu bulan.
Tahap uji coba menjadi bagian penting sebelum penerapan layanan dilakukan lebih luas. Pengalaman operasional di lapangan dapat membantu melihat kebutuhan kendaraan, kesiapan rute, pola penggunaan penumpang, serta dukungan pengisian daya yang diperlukan. Bagi Bandung, pengembangan Bandung Angkot Utama menjadi upaya menyatukan pembaruan transportasi publik dengan arah pembangunan ekonomi digital kota.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Bandung Angkot Utama Jadi Pintu Masuk?
Bandung Angkot Utama Jadi Pintu Masuk is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Bandung Angkot Utama Jadi Pintu Masuk matter?
Bandung Angkot Utama Jadi Pintu Masuk matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

