Rejabar

Di Cirebon, Mereka Menunggu Kabar Nasib Kerabat Penumpang Kapal Virgo

050369000-1789313986-830-556

Keluarga di Cirebon Menanti Kepastian Nasib Yaya Carya

Kabarteras.com – Kecemasan menyelimuti keluarga Yaya Carya (58) di Desa Sigong, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pekerja pabrikan balok itu tercatat sebagai salah satu penumpang KM Virgo Transport 8, kapal yang mengalami kecelakaan dan ditemukan terbalik di perairan Laut Jawa.

Hingga Selasa, 15 September 2026, keluarga belum memperoleh kabar tentang keberadaan Yaya. Putri sulungnya, Siti Hana Sulastri (33), bersama anggota keluarga lain terus menunggu hasil pencarian sambil berupaya menghubungi pihak terkait.

Nama Yaya Ditemukan dalam Manifes

Keluarga yang tinggal di Blok Karanganyar, RT 18/15, Desa Sigong, semula tidak mengetahui bahwa Yaya berangkat menuju Kalimantan dengan kapal tersebut. Mereka baru menyadari kemungkinan keterlibatan Yaya setelah menerima kabar adanya kapal tenggelam dari seorang mandor.

Telepon seluler Yaya kemudian dicoba dihubungi berulang kali, tetapi tidak tersambung. Pencarian informasi melalui berbagai saluran akhirnya mengarah pada data manifes KM Virgo Transport 8, yang memuat nama Yaya Carya.

“Saya searching-searching. Lalu ketemu, ada data Bapak di manifes kapal Virgo itu,” tutur Siti.

Penemuan tersebut membuat keluarga semakin berharap pencarian dapat segera memberikan kepastian. Siti telah menghubungi Basarnas dan bergabung dalam kelompok pendataan keluarga korban yang belum ditemukan.

Perjalanan Kerja yang Tidak Diduga Berakhir di Laut Jawa

Yaya meninggalkan Cirebon sekitar 18 Agustus 2026 untuk bekerja di Jakarta. Setelah pekerjaannya di ibu kota selesai, ia menerima tawaran dari seorang mandor untuk bekerja di Kalimantan. Karena langsung melanjutkan perjalanan, Yaya tidak sempat kembali ke rumah terlebih dahulu.

“Setelah selesai (kerja) di Jakarta, Bapak ditelepon untuk bekerja ke Kalimantan. Jadi langsung berangkat (ke Kalimantan), tidak pulang ke rumah dulu,” ujar Siti.

Dari Jakarta, Yaya melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Ia kemudian menaiki KM Virgo Transport 8 dengan tujuan Banjarmasin. Kapal itu berangkat dari Surabaya pada Sabtu, 12 September 2026, sebelum mengalami kecelakaan pada Ahad, 13 September 2026.

KM Virgo Transport 8 akhirnya ditemukan dalam posisi terbalik di wilayah perairan Laut Jawa. Kapal tersebut mengangkut 243 orang serta 89 kendaraan. Pada Selasa, 15 September 2026, sebanyak 108 orang telah diselamatkan, enam korban ditemukan meninggal dunia, dan 129 orang lainnya masih dicari.

Angka-angka tersebut menjadi perhatian besar bagi keluarga para penumpang, termasuk keluarga Yaya. Setiap perkembangan operasi pencarian memiliki arti penting karena menyangkut kepastian bagi orang-orang yang menunggu di rumah.

Terbiasa Merantau Demi Keluarga

Bagi keluarga, perjalanan Yaya ke luar daerah sebenarnya bukan hal baru. Ia telah lama bekerja jauh dari kampung halaman untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kalimantan pun pernah menjadi salah satu daerah tujuan kerjanya.

Yaya juga telah terbiasa menggunakan transportasi laut saat melakukan perjalanan antarpulau. Namun, perjalanan dengan KM Virgo Transport 8 merupakan pengalaman pertamanya menggunakan kapal tersebut.

“Sudah enggak asing naik kapal. Tapi baru kali ini naik Kapal Virgo,” terangnya.

Meski sering bepergian untuk bekerja, komunikasi Yaya dengan keluarga tidak selalu intens. Hal itu menjadi alasan keluarga tidak langsung mengetahui rencana keberangkatannya menggunakan kapal dari Surabaya ke Banjarmasin.

Kontak terakhir terjadi saat Yaya berbicara melalui telepon dengan suami Siti. Dalam percakapan itu, ia menyampaikan bahwa dirinya masih bekerja di Jakarta dan memiliki rencana berangkat ke Kalimantan.

“Komunikasi terakhir itu teleponan sama suami saya,” jelas Siti.

Sosok Ayah yang Dikenang Keluarga

Di tengah penantian yang berat, keluarga terus mengingat pribadi Yaya sebagai kepala keluarga yang tekun bekerja. Selama puluhan tahun, ia menjalani pekerjaan pabrikan balok dan kerap menerima pekerjaan di luar daerah demi keluarga di Cirebon.

Siti menggambarkan ayahnya sebagai pribadi sabar, taat, serta penuh perhatian kepada istri, anak-anak, dan cucu-cucunya. Ia juga dikenal tidak ingin menjadi beban bagi anak-anaknya.

“Sosok Bapak itu luar biasa. Sabar, soleh, sayang sama anak, istri dan cucu-cucunya. Baik banget, enggak pernah mau menyusahkan anak-anaknya,” ungkap Siti.

Keluarga kini menggantungkan harapan pada kelanjutan pencarian korban KM Virgo Transport 8. Bagi Siti dan keluarganya, kabar apa pun yang dapat memastikan keadaan Yaya sangat mereka nantikan.

“Harapannya minta yang terbaik saja. Semoga diselamatkan, dibawa pulang ke rumah,” tutur Siti.

Penanganan kecelakaan ini bukan hanya menyangkut proses pencarian di laut, tetapi juga penantian panjang keluarga di berbagai daerah. Di Cirebon, keluarga Yaya terus berharap ia dapat ditemukan dan kembali pulang.

Frequently Asked Questions

What is Di Cirebon Mereka Menunggu Kabar Nasib?

Di Cirebon Mereka Menunggu Kabar Nasib is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Di Cirebon Mereka Menunggu Kabar Nasib matter?

Di Cirebon Mereka Menunggu Kabar Nasib matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *