Petisi Penolakan Pengeboran Panas Bumi di Gunung Ungaran Tembus 10 Ribu Tanda Tangan
Kabarteras.com – Penolakan terhadap rencana pengeboran panas bumi di Gunung Ungaran terus menguat. Hingga Rabu, 16 September 2026, petisi bertajuk “Selamatkan Gunung Ungaran: Tolak Pengeboran yang Mengancam Sumber Air dan Masa Depan Kita” telah memperoleh 10.454 tanda tangan dari masyarakat.
Petisi yang dibuat oleh warga bernama Heru P melalui Change.org pada 27 Agustus 2026 itu juga telah dibagikan sebanyak 8.560 kali. Tingginya partisipasi ini menunjukkan bahwa isu perlindungan sumber air, hutan, pertanian, serta ruang hidup warga di sekitar Gunung Ungaran mendapat perhatian luas.
Bagi warga yang bermukim di kawasan lereng dan wilayah sekitarnya, Gunung Ungaran memiliki arti yang jauh melampaui bentang alam. Kawasan ini dipandang sebagai penyangga kehidupan sehari-hari, terutama karena ketersediaan airnya digunakan oleh rumah tangga dan sektor pertanian.
“Gunung Ungaran adalah sumber kehidupan. Airnya dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, dan kehidupan masyarakat yang berada di lereng hingga wilayah sekitarnya. Karena itu, kami menolak rencana kegiatan pengeboran panas bumi di Gunung Ungaran,” kata Heru.
Kekhawatiran atas Ketahanan Air
Inti keberatan warga berpusat pada kemungkinan terganggunya keseimbangan air dan lingkungan. Heru menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir masyarakat telah merasakan aliran air berkurang, terutama saat musim kemarau. Situasi tersebut membuat perlindungan terhadap ekosistem Gunung Ungaran dinilai semakin penting.
Air dari kawasan pegunungan memiliki peran langsung dalam kehidupan warga. Ketika debit air menurun, dampaknya dapat terasa pada kebutuhan domestik, pengairan lahan, dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada kondisi lingkungan setempat. Karena itu, kekhawatiran yang muncul bukan sekadar terkait satu kegiatan proyek, melainkan juga keberlanjutan kehidupan dalam jangka panjang.
Warga yang mendukung petisi tersebut meminta agar risiko terhadap mata air dan lingkungan dipertimbangkan sejak awal. Mereka tidak ingin langkah perlindungan baru dilakukan setelah terjadi gangguan terhadap sumber air, lahan pertanian, atau kondisi alam di sekitar gunung.
“Kami tidak ingin menunggu sampai mata air berkurang, sumber air masyarakat terganggu, pertanian terdampak, atau kerusakan lingkungan terjadi, baru kemudian kita bertindak,” ucap Heru.
Bukan Penolakan terhadap Energi Bersih
Petisi ini tidak diposisikan sebagai penolakan menyeluruh terhadap pembangunan maupun energi bersih. Heru menegaskan bahwa masyarakat memahami kebutuhan energi dan pentingnya pembangunan. Namun, ia menilai setiap rencana pembangunan harus memperhitungkan keberlangsungan sumber daya alam yang menjadi dasar kehidupan warga sekitar.
“Kami memahami kebutuhan akan energi dan pentingnya pembangunan. Namun, pembangunan tidak seharusnya dilakukan dengan mempertaruhkan sumber air dan lingkungan yang menjadi penopang kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menempatkan persoalan Gunung Ungaran dalam perdebatan yang lebih luas: bagaimana kebutuhan energi dapat dipenuhi tanpa mengabaikan perlindungan ekologis dan kepentingan masyarakat yang tinggal paling dekat dengan wilayah proyek. Dalam konteks ini, warga meminta agar keputusan tidak hanya dilihat dari manfaat energi, tetapi juga dari dampak yang mungkin dirasakan masyarakat dalam waktu lama.
Energi dapat dikembangkan melalui beragam pilihan dan lokasi. Namun, ketika sumber air atau keseimbangan alam suatu kawasan mengalami kerusakan, pemulihannya tidak selalu mudah dan dampaknya dapat berlangsung lama. Itulah alasan warga mendorong pemerintah untuk menjadikan perlindungan air dan lingkungan sebagai prioritas utama.
Hutan, Pertanian, Wisata, dan Budaya
Selain persoalan air, Gunung Ungaran juga berkaitan dengan hutan, pertanian, kawasan wisata, serta nilai budaya bagi masyarakat sekitar. Berbagai unsur tersebut saling terhubung dan membentuk ruang hidup yang memiliki nilai sosial maupun ekonomi.
Kerusakan pada satu bagian lingkungan dapat berpengaruh terhadap bagian lainnya. Ketersediaan air berhubungan dengan pertanian, sementara kondisi alam yang terjaga turut menopang daya tarik kawasan dan aktivitas warga. Karena itu, petisi tersebut mengangkat perlindungan Gunung Ungaran sebagai kepentingan lintas generasi, bukan hanya isu yang berkaitan dengan kondisi saat ini.
“Kami meminta pemerintah untuk menghentikan dan menolak pengeboran panas bumi di Gunung Ungaran. Kami percaya bahwa menjaga sumber air dan lingkungan harus menjadi prioritas,” ujar Heru.
Petisi tersebut menjadi saluran bagi masyarakat untuk menyampaikan keberatan terhadap rencana pengeboran panas bumi. Jumlah tanda tangan yang telah melampaui 10 ribu memperlihatkan adanya tuntutan agar suara warga diperhatikan dalam pengambilan kebijakan mengenai kawasan Gunung Ungaran.
Heru menekankan bahwa nilai Gunung Ungaran tidak dapat dipisahkan dari kehidupan generasi sekarang dan masa depan. Bagi para pendukung petisi, menjaga gunung berarti menjaga akses air, lingkungan, serta keberlanjutan ruang hidup masyarakat di sekitarnya.
“Petisi ini adalah suara masyarakat yang ingin Gunung Ungaran tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang,” kata dia.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Sudah 10 Ribu Lebih Warga Teken?
Sudah 10 Ribu Lebih Warga Teken is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Sudah 10 Ribu Lebih Warga Teken matter?
Sudah 10 Ribu Lebih Warga Teken matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

