Special Plan: Pertamina dan Boeing Jajaki Peluang Pengembangan Ekosistem SAF Indonesia
Pertamina dan Boeing Jajaki Ekosistem SAF Indonesia dalam Special Plan Special Plan - Dalam upaya mendukung pengurangan emisi karbon dan percepatan transisi
Pertamina dan Boeing Jajaki Ekosistem SAF Indonesia dalam Special Plan
Special Plan – Dalam upaya mendukung pengurangan emisi karbon dan percepatan transisi energi ke era Net Zero Emission (NZE), PT Pertamina (Persero) dan Boeing menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) sebagai bagian dari Special Plan yang bertujuan membangun ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia. Kerja sama ini menandai langkah strategis kedua perusahaan dalam mengintegrasikan inovasi teknologi penerbangan dengan sumber daya lokal untuk menghasilkan bahan bakar aviasi berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan.
Special Plan sebagai Strategi Utama
Special Plan bukan hanya inisiatif satu arah, tetapi kerangka kerja komprehensif yang mencakup kolaborasi antara sektor publik, swasta, dan akademisi. Pertamina, sebagai pelaku utama energi nasional, dan Boeing, perusahaan penerbangan internasional, berkomitmen mempercepat pengembangan SAF melalui penggunaan bahan baku lokal seperti minyak sawit, limbah pertanian, dan biomassa. Hal ini sejalan dengan visi Indonesia mencapai keseimbangan lingkungan pada 2060 serta mendukung pembangunan berkelanjutan yang diamanatkan oleh pemerintah.
Dalam keterangan resmi, Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa Special Plan menjadi sarana penting untuk mengakselerasi adopsi SAF. “Dengan kekuatan Pertamina dalam pengolahan bahan baku dan keahlian Boeing dalam teknologi penerbangan, kami yakin kolaborasi ini akan menghasilkan solusi yang relevan dan berdampak jangka panjang,” katanya. Program ini juga memperhatikan keberlanjutan ekonomi, dengan memastikan ekosistem SAF bisa beroperasi secara efisien dan berkelanjutan.
Kolaborasi untuk Percepatan Transisi
Boeing menilai Indonesia memiliki potensi besar sebagai pusat produksi SAF di Asia Tenggara. Dalam laporan ASEAN 2050 SAF Outlook, negara ini diperkirakan akan memproduksi surplus SAF sebanyak 2,2 juta barel per hari pada 2050, menjadikannya pemain utama dalam skenario transisi energi global. Special Plan diharapkan menjadi pintu masuk untuk mempercepat penggunaan bahan bakar aviasi berkelanjutan dalam skala besar.
“Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin transformasi penerbangan berkelanjutan di Asia Tenggara, terutama melalui Special Plan yang menggabungkan kekuatan lokal dan teknologi internasional,” ujar Indra Duivenvoorde, Managing Director Boeing Indonesia. Hal ini sejalan dengan target pemerintah menurunkan emisi karbon sektor aviasi sebesar 60 persen pada 2030 dan 80 persen pada 2040.
Pertamina dan Boeing juga fokus pada pengembangan infrastruktur, sertifikasi, dan standarisasi SAF. Proyek seperti Cilacap Biorefinery yang dikelola oleh Pertamina Patra Niaga menjadi contoh nyata upaya lokal untuk memproduksi bahan bakar ramah lingkungan. Special Plan mengintegrasikan langkah-langkah ini dengan strategi penerbangan berkelanjutan Boeing, termasuk penggunaan pesawat ramah lingkungan dan efisiensi operasional.
Sebagai bagian dari Special Plan, Pertamina telah bekerja sama dengan Pelita Air dan memulai pengujian SAF pada penerbangan domestik. Langkah ini menjadi dasar untuk ekspansi lebih luas, baik dalam skala nasional maupun internasional. Dengan Special Plan, perusahaan mengupayakan pemanfaatan teknologi hijau yang tidak hanya mengurangi jejak karbon tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi industri dan masyarakat.
