Tips Dokter Menghindari Risiko Cedera Saat Lari
Tips Dokter Menghindari Risiko Cedera Saat Lari Tips Dokter Menghindari Risiko Cedera Saat - Olahraga lari semakin populer di kalangan anak muda, didukung
Tips Dokter Menghindari Risiko Cedera Saat Lari
Tips Dokter Menghindari Risiko Cedera Saat – Olahraga lari semakin populer di kalangan anak muda, didukung oleh maraknya ajang lomba serta kemudahan berbagi pencapaian melalui platform seperti Strava dan media sosial. Popularitas ini membuat lebih banyak orang tertarik untuk berlari, tetapi tidak semua melakukannya dengan pengetahuan yang memadai.
Latihan yang Tepat untuk Kesehatan Jangka Panjang
Dokter spesialis kedokteran keluarga dan dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dr Iman Permana, mengingatkan bahwa olahraga seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup, bukan sekadar ikut tren. “Apa pun bentuk aktivitas fisiknya, kalau terkait dengan pola hidup, kita harus mengaitkannya dengan manfaat jangka panjang, bukan hanya hasil sementara,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip pada Senin (13/7/2026).
“Apa pun bentuk aktivitas fisiknya, kalau menyangkut pola hidup, kita harus mengaitkannya dengan manfaat jangka panjang, bukan hanya manfaat sesaat,”
Manfaat yang Terlewat Akibat Tren
Menurut dr Iman, kebiasaan berolahraga yang konsisten dan terukur memiliki dampak besar pada kesehatan fisik serta mental. Aktivitas fisik rutin dapat mengurangi risiko penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, stroke, dan penyakit ginjal. Di sisi psikologis, lari juga membantu mengatasi stres, kecemasan, serta depresi.
Namun, manfaat tersebut hanya bisa dirasakan jika latihan dilakukan dengan prinsip yang benar. “Olahraga harus dilakukan secara teratur dan terukur. Di situlah manfaat kesehatannya akan benar-benar terlihat,” tambahnya.
Rekomendasi dari WHO untuk Aktivitas Fisik
dr Iman mengacu pada panduan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyarankan aktivitas ringan, seperti jalan kaki selama minimal 30 menit sehari. Untuk olahraga aerobik berintensitas sedang, seperti lari, WHO merekomendasikan total 150 menit per minggu, terbagi menjadi lima sesi sepanjang 30 menit.
Masyarakat sering kali terjebak pada keinginan untuk ikut tren, tanpa memahami cara melakukan latihan secara tepat. Hal ini bisa menyebabkan cedera atau kebiasaan berolahraga yang tidak berkelanjutan, meski tujuan kesehatan tetap diharapkan.
