Investasi Rp1 Triliun, Kawasan Peternakan Ciangir Mulai Dibangun Akhir 2026
Perumda Dharma Jaya resmi memulai persiapan pembangunan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi Ciangir dengan total investasi mencapai Rp1 triliun. Lokasi
Investasi Rp1 Triliun Kawasan Peternakan Ciangir: Proyek Strategis Ketahanan Pangan Jakarta
Kabarteras.com – Perumda Dharma Jaya resmi memulai persiapan pembangunan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi Ciangir dengan total investasi mencapai Rp1 triliun. Lokasi strategis ini berada di Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Banten, dan akan menjadi pusat penggemukan sapi modern yang melayani kebutuhan daging sapi bagi masyarakat Jakarta. Pengembangan lahan seluas 20 hektare ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan dan ketersediaan protein hewani di ibu kota.
Landasan Hukum dan Optimalisasi Aset Daerah
Direktur Utama Perumda Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan tindak lanjut dari persetujuan penggunaan Barang Milik Daerah (BMD) yang telah diberikan oleh Badan Pengelolaan Aset Daerah (BPAD) Provinsi DKI Jakarta. Langkah strategis ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mengoptimalkan aset-aset daerah yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Melalui pengembangan kawasan peternakan ini, diharapkan rantai pasok pangan khususnya komoditas daging sapi dapat diperkuat secara signifikan.
“Kawasan ini akan dikelola oleh Perumda Dharma Jaya sebagai pusat penggemukan sapi modern yang mendukung ketersediaan pasokan daging sapi bagi masyarakat Jakarta,” kata Raditya, Jumat (31/7).
Fasilitas dan Teknologi Modern
Kawasan peternakan terpadu ini rencananya akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas unggulan. Di antaranya meliputi kandang penggemukan berkapasitas besar, kandang karantina untuk memastikan kesehatan ternak, rumah potong hewan (RPH) dengan standar higienis tinggi, serta lahan khusus untuk budidaya hijauan pakan ternak. Sistem pengelolaan modern akan diterapkan secara menyeluruh untuk meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas secara keseluruhan.
Raditya menambahkan bahwa kebutuhan pakan ternak akan dipenuhi secara mandiri melalui pemanfaatan teknologi terkini. Pendekatan ini bertujuan agar kualitas dan produktivitas sapi tetap terjaga sepanjang proses penggemukan. Dengan sistem yang terintegrasi, diharapkan dapat dihasilkan daging sapi dengan standar kualitas yang konsisten dan dapat diandalkan.
Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Masyarakat
Selain memperkuat pasokan pangan, pengembangan kawasan ini diharapkan memberikan dampak ekonomi positif yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Dampak tersebut meliputi penyerapan tenaga kerja lokal, kemitraan dalam penyediaan hijauan pakan ternak, serta pemberdayaan pelaku usaha lokal di sektor peternakan. Program kemitraan ini akan membuka peluang bagi petani dan peternak kecil untuk terlibat langsung dalam rantai nilai kawasan peternakan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menjelaskan bahwa lahan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Ciangir akan dikembangkan sebagai kawasan ketahanan pangan yang komprehensif. Kawasan ini tidak hanya mencakup sektor peternakan, tetapi juga perikanan dan pertanian dalam satu ekosistem terpadu.
“Ketahanan pangan yang akan dikembangkan di sini salah satunya adalah peternakan sapi, kemudian juga untuk ayam, ikan, dan sebagainya,” kata Pramono.
Klarifikasi Fungsi Kawasan dan Timeline Pembangunan
Pramono juga menegaskan bahwa kawasan tersebut tidak akan difungsikan sebagai lokasi alternatif Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Seluruh area akan difokuskan untuk mendukung pengembangan sektor pangan secara maksimal. Hal ini penting untuk menghindari kesalahpahaman publik mengenai rencana penggunaan lahan.
“Sepenuhnya tempat ini bukan seperti yang dipikirkan orang akan menjadi tempat alternatif Bantargebang, sama sekali enggak,” kata Pramono.
Menurut informasi resmi, pembangunan infrastruktur kawasan dijadwalkan dimulai pada November 2026 dengan nilai investasi sekitar Rp1 triliun. Saat ini, proyek masih berada pada tahap koordinasi lintas instansi, sosialisasi kepada masyarakat, serta proses perizinan sebelum memasuki tahap konstruksi pada akhir tahun. Kawasan peternakan terpadu tersebut diharapkan menjadi salah satu penopang pasokan daging sapi yang aman, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan bagi masyarakat Jakarta dalam jangka panjang.
