Atiqah Hasiholan Menemukan Kekuatan Kolektif dalam Sosok Laksamana Malahayati
Kabarteras.com – Atiqah Hasiholan merasakan kebanggaan tersendiri saat dipercaya menghidupkan tokoh Laksamana Malahayati dalam film Pasukan 1000 Janda. Peran itu membawanya menelusuri gambaran perempuan Aceh pada masa lampau yang tidak hanya hadir dalam kehidupan sosial, tetapi juga mengambil posisi penting di ranah politik dan kemiliteran.
Film bergenre historical fantasy action tersebut ditulis dan disutradarai Archie Hekagery. Ceritanya mengambil inspirasi dari perjuangan pasukan Inong Balee dari Aceh, dengan Malahayati sebagai figur pemimpin perempuan yang menggerakkan para anggotanya.
Bagi Atiqah, daya tarik utama karakter itu terletak pada semangat kebersamaan para perempuan pada era 1600-an. Ia melihat adanya kekuatan kolektif yang membuat perjuangan mereka terasa istimewa, terutama karena perempuan pada masa itu mampu maju bersama dalam konteks peperangan.
“Aku amazed sama bagaimana bisa ya perempuan di era itu memiliki kekuatan secara kolektif, bersama-sama maju untuk perang. Itu sebenarnya yang menggerakkan aku untuk ingin tahu lebih. Hal itu yang akhirnya aku mau nih menjadi bagian dari project ini,” kata Atiqah saat diwawancara pada Senin (21/9/2026).
Ketertarikan pada Jejak Perempuan Aceh
Ketika mendalami peran tersebut, Atiqah menyadari bahwa kekuatan Malahayati tidak berdiri sebagai kisah satu orang semata. Ia menemukan gambaran bahwa perempuan Aceh pada rentang abad ke-16 hingga abad ke-17 mempunyai keterlibatan yang besar dalam berbagai ruang kehidupan.
Pemahaman itu memperluas cara Atiqah memandang Malahayati. Karakter yang diperankannya tidak sekadar ditampilkan sebagai pemimpin tangguh di medan perjuangan, melainkan juga sebagai bagian dari kultur yang memberi ruang besar bagi perempuan untuk menentukan arah dan mengambil peran.
“Dan ternyata bukan hanya Malahayati saja, itu udah menjadi kultur di Aceh itu sendiri. Bagaimana perempuan di Aceh pada era itu, dari tahun 1500, 1600, mereka memiliki peran-peran yang sangat signifikan, yang sangat menentukan, sangat politis, baik itu di kesultanan maupun di kemiliteran,” kata dia.
Gagasan tentang perempuan sebagai penggerak menjadi salah satu unsur penting dalam cerita yang diangkat film ini. Kehadiran pasukan Inong Balee memberi ruang bagi penonton untuk melihat perjuangan dari sudut pandang yang berbeda: bukan hanya tentang konflik dan aksi, tetapi juga tentang solidaritas, kepemimpinan, serta keberanian untuk bergerak bersama.
Dalam konteks film sejarah berbalut fantasi dan aksi, tokoh seperti Malahayati memiliki tantangan tersendiri untuk dibawakan ke layar. Karakter tersebut perlu terasa kuat dan meyakinkan, tetapi pada saat yang sama tetap memiliki sisi manusiawi. Karena itu, proses membangun tokoh tidak berhenti pada penampilan luar atau adegan laga.
Membangun Sisi Personal Malahayati
Atiqah menjalani sejumlah diskusi dengan Archie Hekagery untuk merumuskan sisi personal Laksamana Malahayati. Percakapan itu menjadi bagian dari upaya membentuk karakter yang tidak hanya dikenali melalui posisi kepemimpinannya, melainkan juga melalui kedalaman emosinya.
Sutradara secara khusus meminta Atiqah mengeksplorasi sisi keperempuanan Malahayati. Pendekatan tersebut dipandang sebagai salah satu sumber kekuatan karakter, bukan unsur yang melemahkan ketegasan seorang pemimpin pasukan.
Pilihan kreatif itu membuat penggambaran Malahayati berpotensi menghadirkan sosok yang berlapis. Ketangguhan dalam memimpin tidak harus dipisahkan dari kepekaan, naluri, dan pengalaman personalnya sebagai perempuan. Sebaliknya, unsur-unsur itu dapat menjadi bagian dari alasan mengapa ia mampu menggerakkan orang-orang di sekelilingnya.
Untuk Atiqah, keterlibatan dalam proyek ini juga berangkat dari rasa ingin tahu. Kekagumannya terhadap peran perempuan Aceh pada masa lalu menjadi dorongan untuk mendekati karakter Malahayati dengan perhatian yang lebih dalam. Proses tersebut mempertemukan kerja akting dengan penelusuran terhadap semangat perjuangan perempuan yang menjadi inspirasi film.
Pasukan 1000 Janda menempatkan Malahayati dan pasukan Inong Balee sebagai pusat cerita yang memadukan unsur sejarah, fantasi, dan aksi. Dengan membawa tokoh pemimpin perempuan ke layar, film ini menyoroti gagasan bahwa keberanian dan pengaruh politik dapat tumbuh dari kerja bersama, terutama ketika sebuah kelompok memiliki tujuan yang sama.
Atiqah Hasiholan berharap perannya dapat menyampaikan daya hidup karakter tersebut kepada penonton. Kekaguman yang ia rasakan terhadap Malahayati dan perempuan Aceh pada era 1500-an hingga 1600-an menjadi fondasi penting dalam membangun sosok pemimpin yang tegas, berpengaruh, dan digerakkan oleh kekuatan kolektif.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Perankan Laksamana Malahayati Atiqah Hasiholan Ngaku?
Perankan Laksamana Malahayati Atiqah Hasiholan Ngaku is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Perankan Laksamana Malahayati Atiqah Hasiholan Ngaku matter?
Perankan Laksamana Malahayati Atiqah Hasiholan Ngaku matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

