Skip to content
Khazanah

Facing Challenges: NU akan Terus Dukung Pemerintah Selama tidak Mengajak Kekufuran

Susan Johnson - kabarteras.com 4 mins read

Facing Challenges -

Facing Challenges: NU akan Terus Dukung Pemerintah Selama tidak Mengajak Kekufuran

NU akan Terus Dukung Pemerintah Selama Tidak Mengajak Kekufuran – Menghadapi Tantangan

Pernyataan Kiai Miftachul Akhyar dalam Munas dan Konbes NU 2026

Facing Challenges – Dalam menghadapi tantangan, KH Miftachul Akhyar, sebagai Rais Aam Nahdlatul Ulama (NU), menggarisbawahi komitmen organisasi keagamaan besar ini untuk terus mendukung pemerintah selama pemerintah tersebut tidak mengajak kekufuran. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 di Institut Agama Islam Sayyidina Kholil, Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026). Dalam pidatonya, Kiai Miftach menekankan bahwa dukungan NU kepada pemerintah akan tetap terjaga selama pemerintah berjalan sesuai prinsip-prinsip kebaikan dan fokus pada perjuangan kepentingan masyarakat.

“Selama pemerintah tidak mengajak kekufuran dan kefasikan, dukungan yang kuat dari Nahdlatul Ulama akan tetap terjaga,” ujarnya. Kata-kata ini menggambarkan visi organisasi NU dalam menghadapi tantangan yang dihadapi bangsa, termasuk tekanan politik dan ekonomi yang semakin kompleks. Kiai Miftach menyatakan bahwa NU tidak hanya ingin mendukung pemerintah secara formal, tetapi juga secara moral, dalam upaya memastikan kebijakan yang diambil berada dalam ranah keadilan dan agama.

Peluang dan Peran NU dalam Pembangunan Nasional

Kiai Miftach menilai bahwa keadilan dan upaya melindungi nasib rakyat telah menjadi ciri khas Presiden Prabowo Subianto, yang kini menjadi simbol perjuangan kebangsaan. Dalam menghadapi tantangan, ia menekankan bahwa NU memiliki peran penting dalam membantu pemerintah menghadapi berbagai masalah, termasuk perbedaan ideologi dan krisis kepercayaan terhadap institusi negara. Organisasi ini dikenal sebagai salah satu penggerak masyarakat dalam memperkuat identitas keagamaan dan kebangsaan.

“Kita berikan doa kepada beliau agar terus memperbaiki segala yang kurang sempurna. Saya percaya masih ada strategi luar biasa yang bisa diterapkan untuk mengatasi semua masalah,” tambahnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa dalam menghadapi tantangan, NU siap memberikan kontribusi nyata melalui kebijakan-kebijakan yang berbasis nilai-nilai agama dan keadilan. Hal ini sejalan dengan visi masa depan Indonesia yang ingin mencapai kemakmuran tanpa mengorbankan kepercayaan masyarakat terhadap prinsip-prinsip luhur.

Kiai Miftach juga menyebutkan bahwa keberhasilan seorang pemimpin dalam menghadapi tantangan akan memberikan manfaat besar bagi seluruh bangsa. Ia menekankan bahwa dukungan NU tidak hanya bersifat moral, tetapi juga politik, dalam upaya memastikan stabilitas dan kemajuan Indonesia. Pemimpin yang kuat dan memiliki pemikiran tajam, menurut Kiai Miftach, akan mampu menghadirkan perubahan positif dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

“Semoga Bapak Presiden diberikan kesehatan, perlindungan Allah, serta pemikiran cemerlang agar rakyat dan umat besar ini bisa segera merasakan manfaatnya, sehingga negara penuh kemakmuran dalam keadilan,” tuturnya. Dalam menghadapi tantangan, ia meminta seluruh masyarakat untuk bersatu dan mendukung kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan bersama. Hal ini menunjukkan bahwa NU tidak hanya menjadi penyangga ideologi, tetapi juga aktor penting dalam membentuk masa depan bangsa.

Doa sebagai Alat Penguatan dalam Menghadapi Tantangan

Kiai Miftach mengingatkan pentingnya doa bagi para pemimpin, mengutip pernyataan Imam Ahmad bin Hanbal yang menekankan bahwa doa yang mustajab sebaiknya ditujukan kepada para kepala negara. Dalam menghadapi tantangan, ia mengatakan bahwa doa bisa menjadi sarana memperkuat kekuatan spiritual dan emosional pemimpin, sehingga mampu mengambil keputusan yang bijaksana. “Apabila ada satu doa yang mustajab, sebaiknya dipersembahkan untuk pemimpin,” kata Kiai Miftach, mengacu pada hadis yang disampaikan Imam Ahmad bin Hanbal.

Menurut Kiai Miftach, doa dalam konteks menghadapi tantangan tidak hanya sebagai kegiatan ibadah, tetapi juga sebagai strategi untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Ia menekankan bahwa selama pemerintah tetap berjalan dalam kebaikan, dukungan dari NU akan terus mengalir. Doa menjadi bagian dari komitmen untuk menciptakan suasana politik yang sehat dan harmonis, sekaligus memperkuat peran NU sebagai pelaku kebijakan di tingkat nasional.

Strategi NU dalam Menghadapi Tantangan Masa Depan

Dalam menghadapi tantangan masa depan, Kiai Miftachul Akhyar menegaskan bahwa NU akan terus berupaya untuk memberikan kontribusi yang berkelanjutan. Organisasi ini dikenal memiliki kemampuan dalam membangun kesepahaman antarumat beragama dan menjaga keseimbangan antara agama, kebudayaan, serta kepentingan nasional. Dengan tetap berpegang pada prinsip kebaikan dan keadilan, NU yakin bahwa pemerintah dapat menjadi mitra yang kuat dalam mengatasi berbagai krisis.

“Dalam menghadapi tantangan, kita perlu memiliki strategi yang cermat dan penuh persiapan. Nahdlatul Ulama siap menjadi bagian dari perjuangan ini,” imbuhnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa dalam setiap fase perubahan, NU tetap menjadi organisasi yang aktif dan proaktif. Dukungan terhadap pemerintah dalam menghadapi tantangan bukan hanya sekadar tindakan politik, tetapi juga bentuk tanggung jawab untuk menjaga konsistensi visi kebangsaan.

Join the discussion