Mendikdasmen: Secanggih Apapun, Teknologi tak akan Bisa Gantikan Guru
Jakarta — Mendikdasmen Prof Abdul Mu'ti menegaskan bahwa meskipun teknologi terus berkembang dengan pesat, hal tersebut tidak akan pernah mampu menggantikan
Mendikdasmen Tekankan Teknologi Tak Bisa Menggantikan Peran Guru dalam Pendidikan
Kabarteras.com – Jakarta — Mendikdasmen Prof Abdul Mu’ti menegaskan bahwa meskipun teknologi terus berkembang dengan pesat, hal tersebut tidak akan pernah mampu menggantikan peran fundamental seorang guru dalam dunia pendidikan. Sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, ia menyampaikan pesan penting bahwa pendidik tetap menjadi pilar utama dalam membentuk generasi bangsa yang berkualitas dan berakhlak mulia melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mendikdasmen saat menjadi pembicara kunci dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang diselenggarakan di Hotel Bidakara, Jakarta, pada Ahad tanggal 26 Juli 2026. Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti menekankan bahwa teknologi hanyalah alat bantu, sedangkan guru tetap menjadi agen utama dalam membangun peradaban melalui pendidikan yang holistik dan menyeluruh.
Peran Sentral Guru di Era Digital
Mendikdasmen menjelaskan bahwa teknologi secanggih apa pun tidak bisa menggantikan posisi guru dalam proses mendidik siswa. Ia menambahkan bahwa di sinilah sebenarnya arti penting dari membangun peradaban melalui pendidikan dengan guru sebagai agen utamanya. Pernyataan ini menjadi sangat relevan mengingat tantangan pendidikan di era digital yang semakin kompleks dan membutuhkan sentuhan humanis dari para pendidik.
Teknologi secanggih apa pun tidak bisa menggantikan posisi guru. Di sinilah sebenarnya arti penting dari membangun peradaban melalui pendidikan dengan guru sebagai agen utamanya, ujar Abdul Mu’ti.
Sebagai Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Mendikdasmen juga menyoroti berbagai upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas tenaga pendidik secara komprehensif. Upaya tersebut mencakup berbagai aspek strategis, mulai dari perbaikan kesejahteraan guru, peningkatan kualifikasi akademik, hingga penguatan kompetensi profesional agar guru mampu menghadapi tantangan pendidikan di era digital dengan lebih efektif.
Kita perbaiki kesejahteraannya, kita perbaiki kualifikasinya, dan kita tingkatkan kompetensinya. Teknologi secanggih apa pun tidak bisa menggantikan posisi guru, jelas Mendikdasmen.
Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Selain fokus pada penguatan peran guru, Mendikdasmen juga memberikan perhatian besar terhadap pembangunan karakter siswa melalui program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Program ini bertujuan mendorong anak-anak membangun pola hidup disiplin dan sehat sejak usia dini, yang merupakan fondasi penting untuk kesuksesan mereka di masa depan.
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa tujuh kebiasaan tersebut merupakan substansi dari nilai-nilai ajaran Islam yang telah ada sejak lama. Ia memberikan contoh konkret bahwa bangun pagi merupakan bagian dari ajaran Islam yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari anak-anak Indonesia.
Jadi tujuh itu kalau kita breakdown sebenarnya merupakan substansialisasi dari ajaran Islam. Bangun pagi itu kan ajaran Islam, kata Mendikdasmen.
Tujuh kebiasaan yang dimaksud meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur lebih cepat. Program ini diharapkan dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan sehat secara fisik maupun spiritual.
Dengan demikian, Mendikdasmen menegaskan bahwa meskipun teknologi terus berkembang, peran guru tetap tidak tergantikan dalam membentuk generasi penerus bangsa yang berkualitas dan berdaya saing tinggi di kancah global.
